Storial Bagi-bagi THR 1 JUTA Rupiah! Mau?

Hi Storialis!

Sudah terima THR kan? Gimana kalau mimin tambahin THR kamu?

Cara dapetinnya gampang dan gak repot, hanya dengan ikutan kompetisi #UlasanStorial aja!
 
Dalam kesempatan libur lebaran yang panjang ini daripada bengong saat perjalanan mudik atau mikirin jawaban “kapan nikah” nanti saat lebaran, mending kamu baca cerita-cerita Storia! Selain dapat inspirasi yang beragam, baca-baca kali ini juga berhadiah, lo!
 
#UlasanStorial bakal mengajak kamu untuk memburu sebanyak-banyaknya cerita yang ada di Storial dan meninggalkan jejak berupa review serta rating di kolom ulasan.
Gak sabar pengen langsung mengulas? Eits, cek dulu ketentuan berikut ini!

Ketentuan Mengulas

  1. Log-in ke dalam akun Storial milikmu.
  2. Beri ulasan dan rating pada cerita-cerita yang ada di Storial sebanyak-banyaknya.
  3. Pastikan kamu telah membaca cerita yang kamu ulas agar ulasanmu tidak terkesan spam.

Ketentuan Mengirimkan Ulasan

  1. Catat/simpan link cerita yang telah kamu beri ulasan.
  2. Posting link cerita tersebut ke media sosial milikmu (FB/IG/Twitter *boleh pilih salah satu).
  3. Tulis nickname atau username Storial milikmu dalam postingan tersebut.
  4. Mention @StorialCo dan sertakan hashtag #UlasanStorial.

Contoh:

“Aku (Storial Official Account) baru saja mengulas cerita-cerita di @StorialCo!

Baca ulasanku di:

  1. storial.co/book/patah-hati-yang-baik-part-I
  2. storial.co/book/kembali-padamu
  3. storial.co/book/the-edge
  4. storial.co/book/runaway

Ayo ikut #UlasanStorial untuk dapat THR!”

Periode Mengulas, Deadline, dan Penjurian

  • Periode Mengulas: 11 – 21 Juni 2018
  • Deadline: Kamis, 21 Juni 2018, pukul 21.00 WIB
  • Penjurian: Kualitas ulasan & jumlah cerita yang diulas.

Pemenang dan Hadiah

  • Pengumuman pemenang: Senin, 25 Juni 2018.
    Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
  • Pemenang utama: 2 pengulas
    Juara I: Rp600.000

    Juara II: Rp400.000

Nah, jika sudah membaca Ketentuan Mengulas di atas, pastikan kamu memberi ulasan yang menarik dan terbaik agar terpilih untuk mendapatkan THR dari Storial!

Selamat mudik lebaran dan semoga beruntung mendapat tambahan THR dari mimin!

[Rabu Review] Angel of Death: Menyelami Dunia yang Sebelumnya Tidak Kita Ketahui

Judul: Angel of Death

Penulis: Winda Reksa

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab : 55

Kategori: Fantasi

“Kami tidak setiap hari berhadapan dengan kematian, tapi setiap hari kami melihat kematian.”— Isseiru (bab 2)

Isseiru, seorang pemimpin malaikat kematian yang ditugaskan mencari Sylvester sang pelepas segel Cyrenca. Dia ditugaskan untuk membunuh Sylvester yang sudah berubah menjadi mahluk kegelapan. Tidak main-main, bisa saja kekuatan Syvester setara dengan kekuatan 12 Archangel. Disaat Isseiru sedang berunding bersama temannya mengenai tugas yang ia dapatkan, tiba-tiba dia dikagetkan dengan berita menghilangnya Chera, salah satu anak buahnya.

Sementara itu, di bagian lain dunia ini, di atas kota Sinclaire ada Victor, mahasiswa jenius yang terpaksa menjadi wali adiknya. Dia menjadi wali adiknya, Rico, karena kedua orangtuanya telah tiada. Hal itu tentu tidak mudah karena beberapa kali Rico menyebabkan masalah di sekolahnya dan mengharuskan Victor untuk menanganinya.

Novel ini menarik perhatian kita sebagai pembaca melalui sampulnya yang terlihat sangat fantasi sehingga menimbulkan kesan bahwa isi dan ide ceritanya berani. Hal itu terbukti dengan penulis yang memunculkan karakter-karakter yang pada kenyataanya mustahil ada di dunia ini. Di sisi lain, penulis cukup berhasil menghidupkan tiap karakter sehingga mereka seolah-olah benar ada di dunia ini. Penulis juga mampu mengajak pembaca membayangkan seperti apa wujud para karakternya.

Pada bab pertama, bahasa yang penulis gunakan terkesan sedikit kaku. Tapi seiring berjalannya cerita kesan kaku tersebut menghilang. Lalu pada bab kedua, ditemukan adanya typo penamaan karakter. Karakter yang sebelumnya bernama Efera, pada salah satu baris di bab kedua, nama tersebut berubah menjadi Efeta.

Di luar kesalahan teknis tersebut, pembaca juga akan dibuat sedikit bingung pada saat awal membaca. Hal itu terjadi karena penulis memunculkan banyak karakter dengan masing-masing ciri khasnya sekaligus dalam satu waktu. Selain itu, nama karakter dan nama tempat pada cerita sedikit susah untuk diucapkan atau diingat.

Melalui plot dan alurnya, penulis memberikan rancangan dan trik-trik menarik untuk membuat pembaca penasaran seperti apa cerita selanjutnya. Nah, gimana? Apa kamu juga penasaran tentang hubungan dunia Viktor dengan dunia Isseiru yang ditulis oleh Winda Reksa? Kamu bisa membaca keseluruhan 55 bab dalam Angel of Death secara lengkap di: http://www.storial.co/book/angel-of-death-2011

Rabu, 11 Oktober 2017

Ditulis oleh: Riza Indriyasta

Akun Storial: @ceritapena17

Didesain oleh: Shella Tria Lestari (@shellalatria24)

[Rabu Review] Angel of Death: Menyelami Dunia yang Sebelumnya Tidak Kita Ketahui

Judul: Angel of Death

Penulis: Winda Reksa

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab : 55

Kategori: Fantasi

“Kami tidak setiap hari berhadapan dengan kematian, tapi setiap hari kami melihat kematian.”— Isseiru (bab 2)

Isseiru, seorang pemimpin malaikat kematian yang ditugaskan mencari Sylvester sang pelepas segel Cyrenca. Dia ditugaskan untuk membunuh Sylvester yang sudah berubah menjadi mahluk kegelapan. Tidak main-main, bisa saja kekuatan Syvester setara dengan kekuatan 12 Archangel. Disaat Isseiru sedang berunding bersama temannya mengenai tugas yang ia dapatkan, tiba-tiba dia dikagetkan dengan berita menghilangnya Chera, salah satu anak buahnya.

Sementara itu, di bagian lain dunia ini, di atas kota Sinclaire ada Victor, mahasiswa jenius yang terpaksa menjadi wali adiknya. Dia menjadi wali adiknya, Rico, karena kedua orangtuanya telah tiada. Hal itu tentu tidak mudah karena beberapa kali Rico menyebabkan masalah di sekolahnya dan mengharuskan Victor untuk menanganinya.

Novel ini menarik perhatian kita sebagai pembaca melalui sampulnya yang terlihat sangat fantasi sehingga menimbulkan kesan bahwa isi dan ide ceritanya berani. Hal itu terbukti dengan penulis yang memunculkan karakter-karakter yang pada kenyataanya mustahil ada di dunia ini. Di sisi lain, penulis cukup berhasil menghidupkan tiap karakter sehingga mereka seolah-olah benar ada di dunia ini. Penulis juga mampu mengajak pembaca membayangkan seperti apa wujud para karakternya.

Pada bab pertama, bahasa yang penulis gunakan terkesan sedikit kaku. Tapi seiring berjalannya cerita kesan kaku tersebut menghilang. Lalu pada bab kedua, ditemukan adanya typo penamaan karakter. Karakter yang sebelumnya bernama Efera, pada salah satu baris di bab kedua, nama tersebut berubah menjadi Efeta.

Di luar kesalahan teknis tersebut, pembaca juga akan dibuat sedikit bingung pada saat awal membaca. Hal itu terjadi karena penulis memunculkan banyak karakter dengan masing-masing ciri khasnya sekaligus dalam satu waktu. Selain itu, nama karakter dan nama tempat pada cerita sedikit susah untuk diucapkan atau diingat.

Melalui plot dan alurnya, penulis memberikan rancangan dan trik-trik menarik untuk membuat pembaca penasaran seperti apa cerita selanjutnya. Nah, gimana? Apa kamu juga penasaran tentang hubungan dunia Viktor dengan dunia Isseiru yang ditulis oleh Winda Reksa? Kamu bisa membaca keseluruhan 55 bab dalam Angel of Death secara lengkap di: http://www.storial.co/book/angel-of-death-2011

Rabu, 11 Oktober 2017

Ditulis oleh: Riza Indriyasta

Akun Storial: @ceritapena17

Didesain oleh: Shella Tria Lestari (@shellalatria24)

[Rabu Review] Peace: Kisah Tentang Kesedihan, Kehilangan, dan Luka 

Judul:
Peace

Penulis: Patrisius Djiwandono

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 1

Kategori: Fan Fiction

“With no eyes, they won’t judge the
others. What are eyes for if they are used to see other human beings and
quickly judge them? With no arms, they won’t be able to pick up a rifle and
shoot other human beings.”

Pernah
diikutsertakan dalam kompetisi Dare To Be Different, Patrisius Djiwandono
menuliskan sebuah kisah bertema Perdamaian, sesuai dengan judulnya. Sub-babnya
yang berjudul No Eyes, No Arms ditulis dalam POV 2 yang halus serta Bahasa
Inggris yang mudah dipahami.

Dalam
buku berjudul Peace ini, pembaca akan diajak menemui para penyintas perang.
Kondisi mereka miris. Meski terlihat normal di luar, sebenarnya jiwa mereka
begitu rapuh dan terguncang akibat kehilangan. Mereka dikumpulkan dalam suatu
ruangan kemudian diberi kertas dan pensil warna. Masing-masing boleh menggambar
sesuka hati mereka.

Di
atas kertas itulah, segala mimpi-mimpi mereka tertuang. Dan dari bermacam-macam
gambar yang berbeda, yang para penyintas ini inginkan sebenarnya hanyalah satu.
Perdamaian untuk seluruh dunia. Karena peperangan hanya akan menorehkan kesedihan
serta kehilangan yang mendalam. Luka yang tidak akan pernah sembuh.

Dari
sini, kita akan diajak berkontemplasi tentang nilai-nilai humanisme. Pembaca
akan merasa terenyuh dengan selipan pesan yang kuat dan menyentuh di akhir
cerita. Serta mensyukuri nikmat-nikmat yang masih diberikan kepada kita, di
saat banyak sekali orang-orang yang mengalami ketidakberuntungan dan harus
menjadi korban peperangan di suatu wilayah di luar sana.

Yang
menjadi kekurangan yang paling mendasar dari buku ini hanyalah bagian cover. Seharusnya tampilan luarnya bisa
dibuat semenarik mungkin dan benar-benar menggambarkan isi cerita di dalamnya.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menarik minatmu untuk membaca Peace, enggak?

Yuk baca kisah para penyintas perang
dan intip gambar-gambar mereka yang ditulis oleh Patrisius Djiwandono

di sini http://www.storial.co/book/peace

image

Rabu, 20 September 2017

Ditulis oleh: Adhinda Devita Puteri

Akun Storial: @adhinda

[Rabu Review] The Library: Menghidupkan Kisah Horor Tanpa Penampilan Seram Si Hantu atau Sound Effect Mencekam

Judul: The Library: A Hidden Story

Penulis: Sepfriend Kelana

Kategori: Horor

Jumlah Bab: 1

Status: Sudah Selesai

“Ya. Aku masih ingat tawanya. Nada tawa yang selama ini orang bicarakan, tawa yang kuyakini hanya sebuah mitos.”

Horor adalah sebuah genre yang selalu menarik minat banyak orang tak hanya di perfilman tetapi juga dunia literasi. Berbeda dengan film, jika horor dituangkan dalam tulisan, butuh kepiawaian dari penulis agar pembaca bisa masuk ke dalam cerita dan merasakan ketakutannya terwujud nyata. Melalui tulisan, tak ada penampilan seram si hantu ataupun sound effect mencekam yang pasti lebih mudah memancing suasana seram. Oleh sebab itu, jika penulis gagal menghidupkan cerita maka pembaca tak akan mau menyelesaikan sampai akhir.

Namun, cerpen karya Sepfriend Kelana ini memiliki taste yang bagus untuk menghidupkan horor dalam tulisannya. Tak ada deskripsi hantu dengan wajah berdarah-darah. Adegannya pun sederhana, tetapi justru bisa memantik imajinasi pembacanya. Dari uraian dua paragraf pertama saja, kita akan mudah membayangkan bagaimana suasana perpustakaan dan tokoh utamanya yang bekerja sebagai pustakawan.

Lokasi perpustakaan yang cukup terpencil di sebuah fakultas, sudah menjadi seting yang pas untuk sebuah kejadian mistis. Kita yang barangkali hobi ke perpustakaan di sekolah atau kampus, lebih mudah menghayati. Bukankah perpustakaan juga tak selalu ramai hingga sore hari? Inilah yang pintar digunakan penulis untuk membangun keterikatan emosi antara pembaca dengan seting utama cerita.

Cerpen ini berkisah tentang seorang pustakawan yang suatu hari, Kamis malam Jumat, harus piket sendirian. Di luar ruang perpustakaan pun cuacanya mulai mendung. Suasana perpustakaan sangat sepi. Hari itu, cuaca yang sudah memasuki musim penghujan membawa mendung yang membuat sore berjalan lebih gelap dibanding hari-hari sebelumnya. Tokoh Aku telah mengecek apakah masih ada pengunjung di perpustakaan, namun sudah tak ada lagi tas di lemari yang memang ditujukan untuk penitipan barang milik pengunjung.

Dari adegan tersebut, masih ada sedikit ramuan klise di tiap kisah dan film horor. Cuaca mendung, akan turun hujan dan juga sama sekali tak ada orang di suatu tempat pasti sukses memunculkan image horor di kepala. Bagi penggemar horor yang sudah menonton film Lentera Merah, pasti akan berpendapat sama. Sebuah perpustakaan pun bisa menjadi lokasi menyeramkan. Bayangkan saja barisan rak-rak buku tinggi dan ruangan minim cahaya tanpa banyak lalu lalang orang, mudah sekali membuat bulu kuduk berdiri.

Sampai akhirnya tokoh Aku bertemu dengan seorang mahasiswa yang tak disangka masih ada di perpustakaan. Padahal ia sudah memastikan jika tak ada tas di lemari penitipan. Kita bisa menerka jika yang ditemui ini sebenarnya sosok hantu, tetapi penulis bisa membelokkan dugaan dengan membuat adegan yang tak bisa ditebak. Plot twist.

Membaca cerpen ini, di perpustakaan seorang diri, pasti horor sekali rasanya. Walau masih ada beberapa kekurangan di peletakan tanda koma dalam kalimat langsung, tulisannya termasuk rapi dan alurnya pun dikemas dengan baik.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menarik minatmu untuk membaca The Library: A Hidden Story, enggak? Silakan baca keseluruhan cerita pendek hasil tulisan Sepfriend Kelana di sini

http://www.storial.co/book/the-library-a-hidden-story

image

Rabu, 13 September 2017

Ditulis oleh: Reffi Seftianti

Akun Storial: @reffi25

[Rabu Review] The Library: Menghidupkan Kisah Horor Tanpa Penampilan Seram Si Hantu atau Sound Effect Mencekam

Judul: The Library: A Hidden Story

Penulis: Sepfriend Kelana

Kategori: Horor

Jumlah Bab: 1

Status: Sudah Selesai

“Ya. Aku masih ingat tawanya. Nada tawa yang selama ini orang bicarakan, tawa yang kuyakini hanya sebuah mitos.”

Horor adalah sebuah genre yang selalu menarik minat banyak orang tak hanya di perfilman tetapi juga dunia literasi. Berbeda dengan film, jika horor dituangkan dalam tulisan, butuh kepiawaian dari penulis agar pembaca bisa masuk ke dalam cerita dan merasakan ketakutannya terwujud nyata. Melalui tulisan, tak ada penampilan seram si hantu ataupun sound effect mencekam yang pasti lebih mudah memancing suasana seram. Oleh sebab itu, jika penulis gagal menghidupkan cerita maka pembaca tak akan mau menyelesaikan sampai akhir.

Namun, cerpen karya Sepfriend Kelana ini memiliki taste yang bagus untuk menghidupkan horor dalam tulisannya. Tak ada deskripsi hantu dengan wajah berdarah-darah. Adegannya pun sederhana, tetapi justru bisa memantik imajinasi pembacanya. Dari uraian dua paragraf pertama saja, kita akan mudah membayangkan bagaimana suasana perpustakaan dan tokoh utamanya yang bekerja sebagai pustakawan.

Lokasi perpustakaan yang cukup terpencil di sebuah fakultas, sudah menjadi seting yang pas untuk sebuah kejadian mistis. Kita yang barangkali hobi ke perpustakaan di sekolah atau kampus, lebih mudah menghayati. Bukankah perpustakaan juga tak selalu ramai hingga sore hari? Inilah yang pintar digunakan penulis untuk membangun keterikatan emosi antara pembaca dengan seting utama cerita.

Cerpen ini berkisah tentang seorang pustakawan yang suatu hari, Kamis malam Jumat, harus piket sendirian. Di luar ruang perpustakaan pun cuacanya mulai mendung. Suasana perpustakaan sangat sepi. Hari itu, cuaca yang sudah memasuki musim penghujan membawa mendung yang membuat sore berjalan lebih gelap dibanding hari-hari sebelumnya. Tokoh Aku telah mengecek apakah masih ada pengunjung di perpustakaan, namun sudah tak ada lagi tas di lemari yang memang ditujukan untuk penitipan barang milik pengunjung.

Dari adegan tersebut, masih ada sedikit ramuan klise di tiap kisah dan film horor. Cuaca mendung, akan turun hujan dan juga sama sekali tak ada orang di suatu tempat pasti sukses memunculkan image horor di kepala. Bagi penggemar horor yang sudah menonton film Lentera Merah, pasti akan berpendapat sama. Sebuah perpustakaan pun bisa menjadi lokasi menyeramkan. Bayangkan saja barisan rak-rak buku tinggi dan ruangan minim cahaya tanpa banyak lalu lalang orang, mudah sekali membuat bulu kuduk berdiri.

Sampai akhirnya tokoh Aku bertemu dengan seorang mahasiswa yang tak disangka masih ada di perpustakaan. Padahal ia sudah memastikan jika tak ada tas di lemari penitipan. Kita bisa menerka jika yang ditemui ini sebenarnya sosok hantu, tetapi penulis bisa membelokkan dugaan dengan membuat adegan yang tak bisa ditebak. Plot twist.

Membaca cerpen ini, di perpustakaan seorang diri, pasti horor sekali rasanya. Walau masih ada beberapa kekurangan di peletakan tanda koma dalam kalimat langsung, tulisannya termasuk rapi dan alurnya pun dikemas dengan baik.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menarik minatmu untuk membaca The Library: A Hidden Story, enggak? Silakan baca keseluruhan cerita pendek hasil tulisan Sepfriend Kelana di sini

http://www.storial.co/book/the-library-a-hidden-story

image

Rabu, 13 September 2017

Ditulis oleh: Reffi Seftianti

Akun Storial: @reffi25

#RabuReview #Caffeine

Cerita tentang kopi rasanya tak pernah habis dijadikan sumber inspirasi sebuah tulisan, kali ini pun Dhamala Shobita menulis novel romansa bertema kopi, yang terlihat jelas dari pemilihan judul bukunya: “Caffeine”

Tragedi yang dialami oleh Kira, sang tokoh utama, menjadi pembuka cerita ini. Kira batal menikah tepat setelah ditinggalkan oleh sang mempelai pria tepat di hari pernikahannya. Luka yang dirasa oleh Kira membuat kinerjanya sebagai penulis terhambat, hingga akhirnya editornya memberinya tema baru dengan tenggat waktu yang sangat terbatas. Sebuah proyek menulis tentang seorang Barista menjadi awal perkenalan Kira dengan Aksa.

Seperti halnya kopi yang lebih enak jika dinikmati pelan-pelan, alur cerita Caffeine ini bertempo lambat. Hingga review ini dibuat, novel ini baru terdiri dari 4 bab, dan cerita masih berputar pengenalan tokoh Kira dan Aksa. Sayangnya, tiap bab kurang sentuhan gimmick yang membuat pembacanya penasaran untuk membaca bab selanjutnya. Meski demikian, cerita ini tetap menyenangkan untuk dibaca karena penulisannya yang rapi dan penuturan deskripsi yang detail.

Nah, mumpung baru empat bab, ikuti yuk cerita Kira dan Aksa. Jangan lupa berikan komentarmu di sana ya.
http://www.storial.co/book/caffeine

#RabuReview #Caffeine

Cerita tentang kopi rasanya tak pernah habis dijadikan sumber inspirasi sebuah tulisan, kali ini pun Dhamala Shobita menulis novel romansa bertema kopi, yang terlihat jelas dari pemilihan judul bukunya: “Caffeine”

Tragedi yang dialami oleh Kira, sang tokoh utama, menjadi pembuka cerita ini. Kira batal menikah tepat setelah ditinggalkan oleh sang mempelai pria tepat di hari pernikahannya. Luka yang dirasa oleh Kira membuat kinerjanya sebagai penulis terhambat, hingga akhirnya editornya memberinya tema baru dengan tenggat waktu yang sangat terbatas. Sebuah proyek menulis tentang seorang Barista menjadi awal perkenalan Kira dengan Aksa.

Seperti halnya kopi yang lebih enak jika dinikmati pelan-pelan, alur cerita Caffeine ini bertempo lambat. Hingga review ini dibuat, novel ini baru terdiri dari 4 bab, dan cerita masih berputar pengenalan tokoh Kira dan Aksa. Sayangnya, tiap bab kurang sentuhan gimmick yang membuat pembacanya penasaran untuk membaca bab selanjutnya. Meski demikian, cerita ini tetap menyenangkan untuk dibaca karena penulisannya yang rapi dan penuturan deskripsi yang detail.

Nah, mumpung baru empat bab, ikuti yuk cerita Kira dan Aksa. Jangan lupa berikan komentarmu di sana ya.
http://www.storial.co/book/caffeine

#RabuReview #KauAdalahAngin

Apakah kamu pernah merasa begitu terbuai dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang pelan namun pasti, sedikit menerbangkan rambutmu, dan sejenak merasakan sensasi yang luar biasa di ragamu? Cerita pendek Kau Adalah Angin barangkali akan memberikan efek yang sama, tapi bukan di ragamu, melainkan di benakmu.

Sebuah prosa yang mengalir dengan damai, diksi yang apik, dan metafora angin yang membuatmu berpikir. Cerita ini seolah sedang berbicara dengan seseorang, jika kamu mengikutinya sampai akhir, maka kamu akan sadar siapa yang sedang dibicarakan oleh tokoh ‘aku’ yang menjadi narator sang angin yang sesungguhnya. Sekaligus membongkar rahasia siapa sebenarnya tokoh ‘aku’ di sini.

Di samping itu, jalan cerita yang dibawakan di sini adalah perjalanan seorang anak yang beranjak dewasa, rangkaian peristiwa yang melibatkan sang anak membuat tokoh ‘aku’ memberinya nasehat-nasehat yang penuh metafora.
Setiap kata yang melibatkan ‘Kau adalah Angin’ memiliki artinya masing-masing di setiap kejadian yang menimpa sang anak.

Dibawakan tanpa adanya dialog membuat kita seperti sedang membaca sebuah buku catatan harian yang ditulis dengan penuh perasaan, atau sebuah prosa yang secara tidak sengaja ditemukan di dalam gudang yang akan dibongkar, atau surat yang ditulis dalam dimensi lain tanpa berharap siapa pun membacanya.

Nikmati desaunya di sini:
http://www.storial.co/book/kau-adalah-angin

#RabuReview #KauAdalahAngin

Apakah kamu pernah merasa begitu terbuai dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang pelan namun pasti, sedikit menerbangkan rambutmu, dan sejenak merasakan sensasi yang luar biasa di ragamu? Cerita pendek Kau Adalah Angin barangkali akan memberikan efek yang sama, tapi bukan di ragamu, melainkan di benakmu.

Sebuah prosa yang mengalir dengan damai, diksi yang apik, dan metafora angin yang membuatmu berpikir. Cerita ini seolah sedang berbicara dengan seseorang, jika kamu mengikutinya sampai akhir, maka kamu akan sadar siapa yang sedang dibicarakan oleh tokoh ‘aku’ yang menjadi narator sang angin yang sesungguhnya. Sekaligus membongkar rahasia siapa sebenarnya tokoh ‘aku’ di sini.

Di samping itu, jalan cerita yang dibawakan di sini adalah perjalanan seorang anak yang beranjak dewasa, rangkaian peristiwa yang melibatkan sang anak membuat tokoh ‘aku’ memberinya nasehat-nasehat yang penuh metafora.
Setiap kata yang melibatkan ‘Kau adalah Angin’ memiliki artinya masing-masing di setiap kejadian yang menimpa sang anak.

Dibawakan tanpa adanya dialog membuat kita seperti sedang membaca sebuah buku catatan harian yang ditulis dengan penuh perasaan, atau sebuah prosa yang secara tidak sengaja ditemukan di dalam gudang yang akan dibongkar, atau surat yang ditulis dalam dimensi lain tanpa berharap siapa pun membacanya.

Nikmati desaunya di sini:
http://www.storial.co/book/kau-adalah-angin