[Rabu Review] Nomor Antrian Kematian oleh Ririn Ayu

Nomor Antrian Kematian

Ditulis oleh: Ririn Ayu

Jumlah bab: 1

Status: Sudah Selesai

Kategori: Horror

“Percayakah kalian jika waktu kematian mengikuti sistem layaknya antrian periksa di rumah sakit dalam dunia manusia?”

Kematian, kata ini selalu saja berhasil membuat bergidik siapa saja yang mendengarkannya. Bukan kepastian dari kematatian yang menakutkan, melainkan waktu. Waktu akan kapan datangnya kematian. Sudah jelas, manusia tidak akan pernah tahu kapan kematian akan datang. Bisa jadi, kematian akan datang saat usia kalian sudah tujuh puluh tahun, seratus tiga belas tahun, atau mungkin, kematian bisa datang saat kalian selesai membaca tulisan ini.

Bagaimana, takut? Tentu saja, itulah perasaan yang akan pembaca rasakan setelah membaca cerpen berjudul ‘Nomor Antrian Kematian’ ini. Hal itu terjadi karena, penulis mampu mengembangkan ide cerita dan memberikan gambaran kepada pembaca seperti apa kengerian kematian. Bagi yang sudah pernah menonton ‘Death Note,’ mungkin pada awal membaca cerpen ini, pembaca akan berfikir penulis mempunyai ide yang sama dengan cerita tersebut. Tapi tenang, idenya sama sekali berbeda, yang sama hanyalah unsur benda yang berkaitan dengan kematian.

Cara bercerita pada cerpen ini sederhana tapi mengasyikkan. Pemaparan tempat, suasana, dan latar cerita terkesan pas dan pantas. Pesan yang ingin penulis sampaikan pun sampai kepada pembaca. Pada bagian tengah cerita, penulis akan membiarkan pembaca berfikir sendiri tentang seperti apa kenyataan akhir ceritanya. Namun, pada akhir cerita, dengan terkesan tidak memaksakan penulis mampu memberikan akhir yang akan membuat pembaca berfikir “Oh, jadi begitu.”

Cerita ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca yang menyukai misteri atau horror. Pada cerita ini tidak ada adegan yang tidak pantas atau terkhusus untuk usia tertentu, jadi cerita ini bisa dibaca oleh usia berapa saja. Dan hal yang paling penting dari cerita ini, penulis mampu membuat pembaca berfikir, ‘kita semua harus siap untuk waktu kematian kita.’

Nomor Antrian Kematian karya Ririn Ayu dapat kamu baca di link berikut: https://www.storial.co/book/nomor-antrian-kematian

image

Rabu, 21 Februari 2018

Pengulas: Riza Indriyasta (akun Storial: ceritapena17)

[Rabu Review] Ular Tangga oleh Harun Malaia

Ular Tangga

Judul: Ular Tangga

Ditulis oleh : Harun Malaia

Jumlah bab: 100

Kategori: Olahraga & Petualangan

Status: Masih Berlanjut

“SELAMAT DATANG DI LAMAN PERMAINAN ULAR TANGGA.PERMAINAN INI MEMBUTUHKAN KERJASAMA ANTAR PEMAIN, SILAKAN SALING BERKENALAN DI KOLOM KOMENTAR.”

Mau baca buku tapi dengan perasaan senang seolah sedang bermain boardgame? Sudah baca “Ular Tangga” karya Harun Malaia belum? Kamu pasti suka, deh.

Ditulis dengan gaya yang unik, kamu akan benar-benar diajak bermain ular tangga dalam setiap bab atau level yang ada. Asyiknya, dalam setiap level tersebut akan ada tantangan menulis yang harus kamu selesaikan. Format penulisan setiap level pun berbeda-beda.

Dalam buku ini, penulis banyak menggunakan semacam flyer yang dikreasikan sedemikian rupa, yang berisi tantangan menulis. Dari mulai membuat flash fiction dengan tema tertentu, membuat pantun dengan jawaban “pemenang nobel,” sampai kejutan, “Kamu boleh langsung lompat ke level 90!” Totalnya ada 100 level yang telah dituliskan. Benar-benar seperti bermain “Ular Tangga”, ya?

Nah, selain menuliskan pantun atau cerita, kamu juga diwajibkan mendapatkan tanda suka atau like tertentu untuk maju ke level berikutnya. Sayangnya, pemain di “Ular Tangga” ini masih sedikit. Padahal dengan membaca (atau bermain) “Ular Tangga” ini, kamu bisa membaca karya partisipan lain dan saling mengapresiasi. Dijamin, tak hanya membuat harimu menjadi ceria, melalui “Ular Tangga”, kamu pun dapat mempelajari banyak hal dari karya-karya partisipan lainnya.

Kamu tertarik untuk ikut bermain? Yuk, ramaikan!

Langsung kunjungi bukunya untuk mulai bermain “Ular Tangga” di link berikut https://www.storial.co/book/ular-tangga

image

Rabu, 17 Februari 2018

Pengulas: Eugenia Rakhma (akun storial: eugeniarakhma)

Sumber foto: cnbc(dot)com

[Rabu Review] Tugas Piket Nesa oleh Betty

Kumpulan Cerita Pendek – Tugas Piket Nesa

Judul buku: Kumpulan Cerita Pendek- Tugas Piket Nesa

Ditulis oleh: Betty

Jumlah bab: 9

Kategori: Anak

Status: Masih Berlanjut

“Walaupun capek, namanya tugas tetap tugas. Jadi anak yang bertanggung jawab dong!” –Nesa, siswi Sekolah Dasar

Hal menarik pertama dari “Kumpulan Cerita Pendek” karya Betty adalah covernya yang lucu, dengan gambar es krim bergelantungan, dan warna-warna pastel. Khas anak-anak sekali. Lima buah cerita di dalamnya pun sangat dekat dengan keseharian anak. Ada Putra yang mendadak rajin beres-beres, Bayu yang kecewa dengan burger istimewanya, Aya yang menginginkan hewan peliharaan seperti teman-teman, Mika yang bingung karena harus berjualan jamu, sampai Nesa yang merasa kesal karena bertugas piket sendirian.

Setiap cerita menjadi semakin menarik untuk disimak karena penulis sangat jeli dalam meramu konflik dan membiarkan para tokoh terlibat aktif menyelesaikan konflik tersebut. Tak hanya itu, karakter yang kuat dan penggunaan kalimat-kalimat pendek pun menjadi salah satu kekuatan cerita. Para pembaca cilik, selain dapat merefleksikan diri mereka ke dalam salah satu tokoh, juga dapat belajar dari setiap cerita.

Nah tunggu apa lagi? Simak setiap ceritanya dalam buku “Kumpulan Cerita Pendek- Tugas Piket Nesa,” karya Betty di link berikut https://www.storial.co/book/kumpulan-cerita-pendek-1

Selamat membaca!

image

Rabu, 3 Januari 2018

Pengulas: Eugenia Rakhma

[Rabu Review] Home Improvement oleh Carroll

Home Improvement

Judul: Home Improvement

Ditulis oleh: Carroll

Jumlah bab: 18

Status: Masih Berlanjut

Kategori: Teenlit

“He’s the boy that no one ever knows.” 

Jika kamu mencari cerita berlatar sekolah yang punya pengemasan cerita berbeda, Home Improvement bisa mengusaikan pencarianmu itu. Di antara penyajian cerita berlatar sekolah—yang banyak bergenre teenlit—buku ini memiliki dimensi yang cukup berbeda. Tidak memulai cerita dengan detail sekolah yang menunjukkan kebanyakan penggambaran cerita remaja terkini, sosok lelaki atau perempuan sempurna.

Sebaliknya, Home Improvement memulai cerita dengan konflik bahwa salah seorang murid bernama Tristan yang tidak dekat dengan kepala sekolahnya menerima berita bahwa sang kepala sekolah telah meninggal. Ia kemudian entah mengapa mendatangi rumah mendiang kepala sekolah untuk menyampaikan duka citanya dan dari sanalah cerita Tristan berlanjut.

Tentang bagaimana dia menghadapi hari-harinya setelah mendapat sebuah “wejangan” dari istri mendiang kepala sekolah. Pesan itu menuntunnya pada sebuah pertemuan dengan perempuan yang kemudian menjadi bumbu “konflik” bagi dirinya. Ditambah bumbu konflik mengenai keluarganya, Tristan hidup terpisah dengan ibunya, membuat cerita ini memiliki nilai tambah yang baik.

Secara cerita, penulisnya membawa cerita ini dengan pelan-pelan. Penyajian yang berbeda, seperti yang sudah disebutkan, dengan membawa cerita ini tidak ke bentuk pengemasan tentang penindasan si cantik ke si jelek, memperebutkan cowok tergantung, sebaliknya membuat pembaca dapat menyerap sisi lain cerita tentang sekolah. Menyerap makna berbeda tentang seorang anak sekolah yang berusaha mencintai seseorang yang ditaksirnya.

Salah satu poin bagus dari Home Improvement adalah detailnya. Baik tentang latar ataupun karakternya. Penulis tidak terburu-buru memetakan semuanya dan mampu menyisipkannya di antara cerita. Meskipun di setiap bab Carroll mampu menaikkan “tensi” konflik cerita, bisa dibilang buku ini tidak terlalu cepat pergerakan konfliknya. Sayangnya, ada sedikit plot hole yang bisa jadi membuat pembaca bertanya-tanya. Namun, secara keseluruhan, cerita ini bagus untuk dibaca.

Masih inginkah kamu menyelami kehidupan Tristan? Ayo mulai baca di https://www.storial.co/book/home-improvement

image

Rabu, 27 Desember 2017

Pengulas: Muhammad Ariqy Raihan (akun Storial: ariqy21)

[Rabu Review] Buru oleh Octa

Judul: Buru

Ditulis oleh: Octa

Jumlah bab: 1

Status: Sudah Selesai

Kategori: Cerita Pendek

“Terlalu dekat dengan kematian membuat Kira melupakan detail banyak hal. Misalnya waktu.”

Kira merasa kematian semakin mendekatinya.

Semakin meraba lewat pesan-pesan singkat beserta paket yang datang padanya. Kiriman aneh yang membuat wanita itu ketakutan setengah mati dan terpaksa mengikuti permainan busuk entah dari siapa. Kira tidak punya pilihan lain. Kalau dia tidak menurut, kehidupan pribadinya bisa berantakan. Lagipula, dia penasaran soal dalang di balik permainan sadis ini. Kira tidak sadar, sekali dia terjun, maka wanita itu harus menyelesaikan semuanya. Kira harus memenangkan permainan tersebut karena kalau tidak, konsekuensi berat bakal menghampiri siapa pun yang kalah.

Kira harus bertahan.

Harus.

Thriller, salah satu genre yang banyak diminati baik dalam sebuah cerita tertulis maupun visual karena digadang-gadang mampu mengantarkan ketegangan yang membuat pembaca atau penontonnya menahan napas. Bagi penulis, membuat cerita dengan jenis ini adalah tantangan yang cukup berat karena harus bisa mengemas alur yang boleh dikatakan naik turun.

Buru adalah salah satu cerita yang cukup sukses membangun ketegangan bagi pembacanya.

Lewat karakter Kira yang sedang diburu-buru oleh kematian, penulis menggambarkan bagaimana manusia ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan dengan nyawa sebagai taruhan. Bagaimana insting manusia bekerja dan membuat tokoh tersebut mampu melakukan hal di luar normal yang mendorongnya berbuat sangat jauh, serta alasan-alasan yang sesungguhnya—kerakusan.

Unsur sadistik yang muncul pun halus, namun tidak mengurangi unsur kengerian. Melalui deskripsi yang disampaikan cukup rinci, pembaca bisa membayangkan keseraman yang harus ditemui Kira saat dia berusaha mememangkan diri dalam permainan gila yang dirancang seseorang—entah siapa pun itu.

Menjelang akhir cerita, satu per satu alasan permainan terkuak dan misteri siapa dalang di balik game tersebut pun terbuka. Mengapa Kira yang dipilih? Mengapa harus ada mutilasi? Siapa saja korbannya?

Buru cukup oke namun masih ada beberapa adegan yang tidak pas dengan logika cerita. Ada hal yang sebenarnya cukup mengganggu pembaca tetapi walau demikian, kisah ini masih boleh dikatakan sukses. Apalagi, penulis cukup cermat hingga minim ditemukan kesalahan ketik dan penyelesaian konflik cukup memuaskan jadi pembaca bisa nyaman mengikuti kisah dari awal sampai akhir.

Baca kisah Buru yang ditulis oleh Octa di sini https://www.storial.co/book/buru

Rabu, 20 Desember 2017

Pengulas: N. Eka P. (akun Storial: nekapratiwi27)

[Rabu Review] Legend of Indonesia oleh Baim

Judul: Legend of Indonesia

Ditulis oleh: Baim

Status: Masih Berlanjut

Jumlah bab: 4

Kategori Olahraga & Petualangan

Mulai dari troll, naga, kraken, direwolf, bromance, hingga kisah cinta yang mengharukan, kalian akan menemukan semuanya disini. Cerita petualangan dan fantasi yang akan membuatmu terbawa suasana ceritanya, membahas segala keunikan dari Indonesia,”pengantar penulis.

Petualangan Legend of Indonesia dimulai di Portugis. Jerry adalah seorang pemuda keturunan Portugis yang haus akan petualangan. Di tempat kediamannya, naga menyeramkan yang hobi memakan ternak adalah hal biasa. Untuk menjajal kemampuan dan membuktikkan kedewasaan kepada kakak dan ibunya, Jerry memutuskan untuk bergabung menjadi anak buah kapal Bluesea.

Bahkan sebelum menjadi anggota kapal, hidup Jerry berubah menarik. Terutama ketika ia menemukan pemuda berambut hijau menarik- yang mengaku seorang anak dragonslayer alias pembunuh Naga- dan peliharaan direworf-nya yang usil. Jerry pun semakin tak sabar menyambut petualangannya ketika mengetahui bahwa Eza- si rambut hijau akan bergabung dengan Bluesea. Hari-harinya pasti akan semakin menarik!

“Ayolah, kita butuh tantangan di hidup ini,” – Eza.

Sesuai janji penulis, Legend of Indonesia menawarkan petualangan yang seru, lucu,dan sarat fantasi. Tak hanya naga dan bangsa viking, beberapa nama makhluk fantasi seperti direwolf dan kraken pun disebutkan di empat bab pertama cerita ini. Dari sisi penokohan, kepolosan Jerry yang berbanding terbalik dengan sifat cuek Eza membuat dialog-dialog yang tercipta penuh rasa humor.

Sayangnya, penulis kurang cermat dalam penggunaan tanda baca dan kata depan di-. Akibatnya, beberapa kalimat kurang nyaman dibaca, terlalu panjang, atau kurang efektif. Meski begitu, hal ini tidak mengurangi keseruan petualangan Jerry, kok.

Yuk, ikuti petualangan Jerry sampai ia tiba di Indonesia https://www.storial.co/book/legend-of-indonesia

Rabu, 13 Desember 2017

Pengulas: Eugenia Rakhma (akun Storial: eugeniarakhma)

[Rabu Review] Tales of Mankind by Cat and Wolf by Ossy Firstan & Enya Rahman

Judul: Tales of Mankind by Cat and Wolf

Ditulis oleh: Ossy Firstan & Enya Rahman

Jumlah bab: 9

Status: Masih berlanjut

Kategori: Novel

Fabel selalu terasa istimewa dan menarik ketika dibaca. Banyak penulis yang mengangkat genre ini karena tampilan dan judulnya yang selalu memikat, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Membayangkan hewan bicara selayaknya manusia, mengerjakan apa yang dikerjakan manusia, agaknya menimbulkan gelak tawa karena jenakanya. Tentu, itu permainan imaji yang layak diapresiasi.

Begitu pula dengan penulis “Tales of Mankind by Cat and Wolf” yang mengusung genre fabel dengan tokoh kucing jantan dan serigala perempuan (alias betina) akan mengajak pembaca untuk masuk ke dunia Toiro dan Accalia yang ternyata sama rumitnya seperti dunia manusia.

Jenaka, unik, dan seru terlihat dari penggambaran karakter juga latar yang ada dalam novel ini. Toiro, kucing jantan “playboy” yang sangat menyukai lagu dari paduan suara kucing betina seksi “Mpoos” harus bekerja sama dengan Accalia, serigala betina yang suka sendirian dan cenderung sinis.

Toiro dan Accalia kebetulan teman kampus—ya, mereka juga kuliah—yang sedang mengerjakan tesis soal mahkluk berkaki dua—manusia. Keduanya punya masalah karena Profesor Goji—gajah—agaknya mempersulit kelulusan tesis mereka.

Untuk bisa melakukan pengamatan, Accalia dan Toiro harus pergi ke Querencia, kafe di mana mereka bisa bertemu dengan pasangan burung hantu Owla dan Owlou yang akan memberi teh pengubah wujud (karena manusia bisa terbirit begitu melihat Acca dalam wujud aslinya, bukan?). Harga teh ini sangat mahal—menurut kurs dunia mereka—yakni sekitar 20 onyx.

Perjalanan menuju Querencia saja sudah sulit karena medan yang ditempuh sangat tidak mudah dan panjang. Di tengah perjalanan yang demikian lama, Accalia sedikit membuka diri pada Toiro.

Penulis cukup kreatif dalam memunculkan unsur-unsur lucu meski tidak menggunakan guyonan secara tersirat. Misalnya saja, dari lirik lagu Mpoos: “Cause when you pee in the sand everything’s gonna be alright.” Lirik tersebut sukses membuat kepala Accalia pusing nan pening.

Menyelami karakter dan pemikiran kedua tokoh ini pun tidak sulit karena penulis menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian baik dari Toiro maupun Accalia. Dari sudut pandang itulah pembaca bisa menyadari kalau di balik sikap sembrono dan cueknya Toiro, ternyata dia tertekan dengan kesuksesan saudara kembarnya atau Accalia yang diam-diam selalu memiliki kegelisahan tetapi ditutupinya.

Banyak detail menarik yang juga bisa mengundang gelak tawa ketika membaca novel ini. Misalnya saja gambaran ketika Accalia dan Toiro berubah menjadi manusia setelah minum teh. Mengundang pembaca untuk membayangkan seperti apa rupa serigala betina ketika harus memakai gaun warna merah muda cerah dan bagaimana bulu-bulu itu berganti dengan rambut dan bulu mata lentik.

Lalu, bagaimana dengan Toiro yang suka cari masalah? Apakah setelah perubahannya menjadi manusia, dia akan tetap menimbulkan kerusuhan karena sikap ceroboh dan sembrononya?

Meski bercerita tentang hewan, namun pesan-pesan moral dalam kisah ini begitu manusiawi. Disampaikan dengan menarik, melalui pemikiran kritis Accalia, misalnya. Atau sikap Toiro yang memberontak tapi tetap peduli dan hangat pada keluarganya.

Bagi pembaca yang menyukai kisah petualangan, “Tales of Mankind by Cat and Wolf” bisa jadi salah satu novel yang layak masuk ke daftar koleksi bacaanmu https://www.storial.co/book/Tales-of-Mankind-by-Cat-and-Wolf

image

Rabu, 22 November 2017

Pengulas: Nofrianti Eka P. (akun Storial: nekapratiwi27)

[Rabu Review] 

Indivisus Fascia Lata:  Epistolary yang Terinspirasi dari Berita Pembunuhan Terhadap Sopir Ojek Daring

Judul: Indivisus
Fascia Lata

Penulis:
Triskaidekaman

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 7

Kategori: Epistolary

“Tadinya, aku tidak berniat membunuhnya. Tapi, dia lebih baik mati sih, memang. Ujung-ujungnya negara juga enggak suka ada penduduk yang membangkang kayak gini.”

—Mach, Tukang Bakso Genius

Seperti judulnya, buku
Indivisus Fascia Lata tidak memberikan ruangan kepada pembaca untuk menebak
ceritanya. Cara yang menarik—dan cukup berhasil—untuk pembaca yang senang
berpikir sembari membaca. Triskaidekaman merupakan penulis di Storial.co yang
gemar melakukan hal itu.

Cerita ini bisa
dibilang cukup sederhana namun mampu menghadirkan sebuah premis yang tidak ringan. Tiga tokoh utama dalam buku ini adalah: seorang sopir transportasi daring,
seorang pencuri data, dan seorang penadah. Bercerita tentang seorang pencuri data yang
ditinggalkan oleh penadahnya karena dianggap gagal dalam melakukan
pekerjaannya. Hingga sopir transportasi daring yang ikut mengalami kesialan.

Dengan adanya 3 tokoh,
3 dimensi cerita yang berbeda namun saling terkait, menjadikan buku ini sungguh
menarik dibaca. Meskipun, tidak rata pengembangan konflik dari dimensi cerita,
tetapi penulis mampu membuat buku ini ingin terus dibaca. Keahliannya
meramu epistolary menjadikan cerita ini cukup apik dibandingkan yang lain di
genre yang sama.

Latar suasananya mampu
hidup dengan baik. Penulis bisa mengalirkan cerita dengan enak meskipun tidak
terlalu mulus. Walaupun untuk latar tempat belum terbangun dengan baik—ada
beberapa space yang bisa diisi, apa
entah memang pada dasarnya di epistolary tidak membutuhkan detail seperti itu
atau mungkin penulis kurang mengembangkannya.

Tetapi, selebihnya
cerita ini memang mampu menciptakan ketegangan yang berbeda. Tidak melulu soal
bikin jantung berdegup kencang—tapi, tentang bagaimana keinginan untuk terus
menautkan diri pada cerita dan mengeklik “bab selanjutnya”.

Buku ini cocok untuk kamu yang suka membaca (bukan) cerita ringan. Silakan ikuti ketegangannya dalam tujuh bab secara lengkap yang ditulis oleh Triskaidekaman di http://www.storial.co/book/indivisus-fascia-lata

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21

[Rabu Review] 

Indivisus Fascia Lata:  Epistolary yang Terinspirasi dari Berita Pembunuhan Terhadap Sopir Ojek Daring

Judul: Indivisus
Fascia Lata

Penulis:
Triskaidekaman

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 7

Kategori: Epistolary

“Tadinya, aku tidak berniat membunuhnya. Tapi, dia lebih baik mati sih, memang. Ujung-ujungnya negara juga enggak suka ada penduduk yang membangkang kayak gini.”

—Mach, Tukang Bakso Genius

Seperti judulnya, buku
Indivisus Fascia Lata tidak memberikan ruangan kepada pembaca untuk menebak
ceritanya. Cara yang menarik—dan cukup berhasil—untuk pembaca yang senang
berpikir sembari membaca. Triskaidekaman merupakan penulis di Storial.co yang
gemar melakukan hal itu.

Cerita ini bisa
dibilang cukup sederhana namun mampu menghadirkan sebuah premis yang tidak ringan. Tiga tokoh utama dalam buku ini adalah: seorang sopir transportasi daring,
seorang pencuri data, dan seorang penadah. Bercerita tentang seorang pencuri data yang
ditinggalkan oleh penadahnya karena dianggap gagal dalam melakukan
pekerjaannya. Hingga sopir transportasi daring yang ikut mengalami kesialan.

Dengan adanya 3 tokoh,
3 dimensi cerita yang berbeda namun saling terkait, menjadikan buku ini sungguh
menarik dibaca. Meskipun, tidak rata pengembangan konflik dari dimensi cerita,
tetapi penulis mampu membuat buku ini ingin terus dibaca. Keahliannya
meramu epistolary menjadikan cerita ini cukup apik dibandingkan yang lain di
genre yang sama.

Latar suasananya mampu
hidup dengan baik. Penulis bisa mengalirkan cerita dengan enak meskipun tidak
terlalu mulus. Walaupun untuk latar tempat belum terbangun dengan baik—ada
beberapa space yang bisa diisi, apa
entah memang pada dasarnya di epistolary tidak membutuhkan detail seperti itu
atau mungkin penulis kurang mengembangkannya.

Tetapi, selebihnya
cerita ini memang mampu menciptakan ketegangan yang berbeda. Tidak melulu soal
bikin jantung berdegup kencang—tapi, tentang bagaimana keinginan untuk terus
menautkan diri pada cerita dan mengeklik “bab selanjutnya”.

Buku ini cocok untuk kamu yang suka membaca (bukan) cerita ringan. Silakan ikuti ketegangannya dalam tujuh bab secara lengkap yang ditulis oleh Triskaidekaman di http://www.storial.co/book/indivisus-fascia-lata

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21

[Rabu Review] Peace: Kisah Tentang Kesedihan, Kehilangan, dan Luka 

Judul:
Peace

Penulis: Patrisius Djiwandono

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 1

Kategori: Fan Fiction

“With no eyes, they won’t judge the
others. What are eyes for if they are used to see other human beings and
quickly judge them? With no arms, they won’t be able to pick up a rifle and
shoot other human beings.”

Pernah
diikutsertakan dalam kompetisi Dare To Be Different, Patrisius Djiwandono
menuliskan sebuah kisah bertema Perdamaian, sesuai dengan judulnya. Sub-babnya
yang berjudul No Eyes, No Arms ditulis dalam POV 2 yang halus serta Bahasa
Inggris yang mudah dipahami.

Dalam
buku berjudul Peace ini, pembaca akan diajak menemui para penyintas perang.
Kondisi mereka miris. Meski terlihat normal di luar, sebenarnya jiwa mereka
begitu rapuh dan terguncang akibat kehilangan. Mereka dikumpulkan dalam suatu
ruangan kemudian diberi kertas dan pensil warna. Masing-masing boleh menggambar
sesuka hati mereka.

Di
atas kertas itulah, segala mimpi-mimpi mereka tertuang. Dan dari bermacam-macam
gambar yang berbeda, yang para penyintas ini inginkan sebenarnya hanyalah satu.
Perdamaian untuk seluruh dunia. Karena peperangan hanya akan menorehkan kesedihan
serta kehilangan yang mendalam. Luka yang tidak akan pernah sembuh.

Dari
sini, kita akan diajak berkontemplasi tentang nilai-nilai humanisme. Pembaca
akan merasa terenyuh dengan selipan pesan yang kuat dan menyentuh di akhir
cerita. Serta mensyukuri nikmat-nikmat yang masih diberikan kepada kita, di
saat banyak sekali orang-orang yang mengalami ketidakberuntungan dan harus
menjadi korban peperangan di suatu wilayah di luar sana.

Yang
menjadi kekurangan yang paling mendasar dari buku ini hanyalah bagian cover. Seharusnya tampilan luarnya bisa
dibuat semenarik mungkin dan benar-benar menggambarkan isi cerita di dalamnya.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menarik minatmu untuk membaca Peace, enggak?

Yuk baca kisah para penyintas perang
dan intip gambar-gambar mereka yang ditulis oleh Patrisius Djiwandono

di sini http://www.storial.co/book/peace

image

Rabu, 20 September 2017

Ditulis oleh: Adhinda Devita Puteri

Akun Storial: @adhinda