[Rabu Review] Nomor Antrian Kematian oleh Ririn Ayu

Nomor Antrian Kematian

Ditulis oleh: Ririn Ayu

Jumlah bab: 1

Status: Sudah Selesai

Kategori: Horror

“Percayakah kalian jika waktu kematian mengikuti sistem layaknya antrian periksa di rumah sakit dalam dunia manusia?”

Kematian, kata ini selalu saja berhasil membuat bergidik siapa saja yang mendengarkannya. Bukan kepastian dari kematatian yang menakutkan, melainkan waktu. Waktu akan kapan datangnya kematian. Sudah jelas, manusia tidak akan pernah tahu kapan kematian akan datang. Bisa jadi, kematian akan datang saat usia kalian sudah tujuh puluh tahun, seratus tiga belas tahun, atau mungkin, kematian bisa datang saat kalian selesai membaca tulisan ini.

Bagaimana, takut? Tentu saja, itulah perasaan yang akan pembaca rasakan setelah membaca cerpen berjudul ‘Nomor Antrian Kematian’ ini. Hal itu terjadi karena, penulis mampu mengembangkan ide cerita dan memberikan gambaran kepada pembaca seperti apa kengerian kematian. Bagi yang sudah pernah menonton ‘Death Note,’ mungkin pada awal membaca cerpen ini, pembaca akan berfikir penulis mempunyai ide yang sama dengan cerita tersebut. Tapi tenang, idenya sama sekali berbeda, yang sama hanyalah unsur benda yang berkaitan dengan kematian.

Cara bercerita pada cerpen ini sederhana tapi mengasyikkan. Pemaparan tempat, suasana, dan latar cerita terkesan pas dan pantas. Pesan yang ingin penulis sampaikan pun sampai kepada pembaca. Pada bagian tengah cerita, penulis akan membiarkan pembaca berfikir sendiri tentang seperti apa kenyataan akhir ceritanya. Namun, pada akhir cerita, dengan terkesan tidak memaksakan penulis mampu memberikan akhir yang akan membuat pembaca berfikir “Oh, jadi begitu.”

Cerita ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca yang menyukai misteri atau horror. Pada cerita ini tidak ada adegan yang tidak pantas atau terkhusus untuk usia tertentu, jadi cerita ini bisa dibaca oleh usia berapa saja. Dan hal yang paling penting dari cerita ini, penulis mampu membuat pembaca berfikir, ‘kita semua harus siap untuk waktu kematian kita.’

Nomor Antrian Kematian karya Ririn Ayu dapat kamu baca di link berikut: https://www.storial.co/book/nomor-antrian-kematian

image

Rabu, 21 Februari 2018

Pengulas: Riza Indriyasta (akun Storial: ceritapena17)

[Rabu Review] Sebuah Wawancara Televisi oleh Arnike Wijayakusuma

Sebuah Wawancara Televisi

Status: Masih Berlanjut

Kategori: Cerita Pendek

Ditulis oleh: Arnike Wijayakusuma

Diterbitkan: 27 Jun 2016, 21:58:02 PM

“Bukan pengarang namanya kalau kau tidak bisa mengarang satu atau dua hal tentang hidupmu sendiri.”

Bercerita tentang sebuah Wawancara Televisi yang menggambarkan pergulatan batin seorang penulis setiap kali pertanyaan tentang ayah terlontar dari sang pewawancara. Di hadapan tiga buah kamera, ia berusaha menjawab setiap pertanyaan sebaik mungkin, tak peduli betapa berlawanannya setiap jawaban tersebut dengan kilasan balik di kepalanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu berbentuk;

“Apakah kalian sering membahas karya kalian di waktu luang?”

“Apa momen paling mengesankan bersama ayah Anda?”

“Katanya, Anda sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan ayah Anda, ya?”

Yang membuat cerita atau plot yang sederhana ini menarik adalah; setiap pertanyaan berhasil menciptakan suasana emosi yang semakin pelik. Konflik yang tak pernah terselesaikan meski kata maaf telah terucap.

“Oke, sekarang ceritakan tentang ayah Anda. Bagaimana hubungan Anda dengannya?”

Kira-kira jawaban apa yang pertama kali menghampiri kepalamu? Akankah jawaban itu berbeda ketika kamu dihadapkan pada situasi yang berbeda pula?

.

.

.

Pengulas: Eugenia Rakhma (akun storial: eugeniarakhma)

[Rabu Review] Ular Tangga oleh Harun Malaia

Ular Tangga

Judul: Ular Tangga

Ditulis oleh : Harun Malaia

Jumlah bab: 100

Kategori: Olahraga & Petualangan

Status: Masih Berlanjut

“SELAMAT DATANG DI LAMAN PERMAINAN ULAR TANGGA.PERMAINAN INI MEMBUTUHKAN KERJASAMA ANTAR PEMAIN, SILAKAN SALING BERKENALAN DI KOLOM KOMENTAR.”

Mau baca buku tapi dengan perasaan senang seolah sedang bermain boardgame? Sudah baca “Ular Tangga” karya Harun Malaia belum? Kamu pasti suka, deh.

Ditulis dengan gaya yang unik, kamu akan benar-benar diajak bermain ular tangga dalam setiap bab atau level yang ada. Asyiknya, dalam setiap level tersebut akan ada tantangan menulis yang harus kamu selesaikan. Format penulisan setiap level pun berbeda-beda.

Dalam buku ini, penulis banyak menggunakan semacam flyer yang dikreasikan sedemikian rupa, yang berisi tantangan menulis. Dari mulai membuat flash fiction dengan tema tertentu, membuat pantun dengan jawaban “pemenang nobel,” sampai kejutan, “Kamu boleh langsung lompat ke level 90!” Totalnya ada 100 level yang telah dituliskan. Benar-benar seperti bermain “Ular Tangga”, ya?

Nah, selain menuliskan pantun atau cerita, kamu juga diwajibkan mendapatkan tanda suka atau like tertentu untuk maju ke level berikutnya. Sayangnya, pemain di “Ular Tangga” ini masih sedikit. Padahal dengan membaca (atau bermain) “Ular Tangga” ini, kamu bisa membaca karya partisipan lain dan saling mengapresiasi. Dijamin, tak hanya membuat harimu menjadi ceria, melalui “Ular Tangga”, kamu pun dapat mempelajari banyak hal dari karya-karya partisipan lainnya.

Kamu tertarik untuk ikut bermain? Yuk, ramaikan!

Langsung kunjungi bukunya untuk mulai bermain “Ular Tangga” di link berikut https://www.storial.co/book/ular-tangga

image

Rabu, 17 Februari 2018

Pengulas: Eugenia Rakhma (akun storial: eugeniarakhma)

Sumber foto: cnbc(dot)com

[Rabu Review] Home Improvement oleh Carroll

Home Improvement

Judul: Home Improvement

Ditulis oleh: Carroll

Jumlah bab: 18

Status: Masih Berlanjut

Kategori: Teenlit

“He’s the boy that no one ever knows.” 

Jika kamu mencari cerita berlatar sekolah yang punya pengemasan cerita berbeda, Home Improvement bisa mengusaikan pencarianmu itu. Di antara penyajian cerita berlatar sekolah—yang banyak bergenre teenlit—buku ini memiliki dimensi yang cukup berbeda. Tidak memulai cerita dengan detail sekolah yang menunjukkan kebanyakan penggambaran cerita remaja terkini, sosok lelaki atau perempuan sempurna.

Sebaliknya, Home Improvement memulai cerita dengan konflik bahwa salah seorang murid bernama Tristan yang tidak dekat dengan kepala sekolahnya menerima berita bahwa sang kepala sekolah telah meninggal. Ia kemudian entah mengapa mendatangi rumah mendiang kepala sekolah untuk menyampaikan duka citanya dan dari sanalah cerita Tristan berlanjut.

Tentang bagaimana dia menghadapi hari-harinya setelah mendapat sebuah “wejangan” dari istri mendiang kepala sekolah. Pesan itu menuntunnya pada sebuah pertemuan dengan perempuan yang kemudian menjadi bumbu “konflik” bagi dirinya. Ditambah bumbu konflik mengenai keluarganya, Tristan hidup terpisah dengan ibunya, membuat cerita ini memiliki nilai tambah yang baik.

Secara cerita, penulisnya membawa cerita ini dengan pelan-pelan. Penyajian yang berbeda, seperti yang sudah disebutkan, dengan membawa cerita ini tidak ke bentuk pengemasan tentang penindasan si cantik ke si jelek, memperebutkan cowok tergantung, sebaliknya membuat pembaca dapat menyerap sisi lain cerita tentang sekolah. Menyerap makna berbeda tentang seorang anak sekolah yang berusaha mencintai seseorang yang ditaksirnya.

Salah satu poin bagus dari Home Improvement adalah detailnya. Baik tentang latar ataupun karakternya. Penulis tidak terburu-buru memetakan semuanya dan mampu menyisipkannya di antara cerita. Meskipun di setiap bab Carroll mampu menaikkan “tensi” konflik cerita, bisa dibilang buku ini tidak terlalu cepat pergerakan konfliknya. Sayangnya, ada sedikit plot hole yang bisa jadi membuat pembaca bertanya-tanya. Namun, secara keseluruhan, cerita ini bagus untuk dibaca.

Masih inginkah kamu menyelami kehidupan Tristan? Ayo mulai baca di https://www.storial.co/book/home-improvement

image

Rabu, 27 Desember 2017

Pengulas: Muhammad Ariqy Raihan (akun Storial: ariqy21)

[Rabu Review] 

Indivisus Fascia Lata:  Epistolary yang Terinspirasi dari Berita Pembunuhan Terhadap Sopir Ojek Daring

Judul: Indivisus
Fascia Lata

Penulis:
Triskaidekaman

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 7

Kategori: Epistolary

“Tadinya, aku tidak berniat membunuhnya. Tapi, dia lebih baik mati sih, memang. Ujung-ujungnya negara juga enggak suka ada penduduk yang membangkang kayak gini.”

—Mach, Tukang Bakso Genius

Seperti judulnya, buku
Indivisus Fascia Lata tidak memberikan ruangan kepada pembaca untuk menebak
ceritanya. Cara yang menarik—dan cukup berhasil—untuk pembaca yang senang
berpikir sembari membaca. Triskaidekaman merupakan penulis di Storial.co yang
gemar melakukan hal itu.

Cerita ini bisa
dibilang cukup sederhana namun mampu menghadirkan sebuah premis yang tidak ringan. Tiga tokoh utama dalam buku ini adalah: seorang sopir transportasi daring,
seorang pencuri data, dan seorang penadah. Bercerita tentang seorang pencuri data yang
ditinggalkan oleh penadahnya karena dianggap gagal dalam melakukan
pekerjaannya. Hingga sopir transportasi daring yang ikut mengalami kesialan.

Dengan adanya 3 tokoh,
3 dimensi cerita yang berbeda namun saling terkait, menjadikan buku ini sungguh
menarik dibaca. Meskipun, tidak rata pengembangan konflik dari dimensi cerita,
tetapi penulis mampu membuat buku ini ingin terus dibaca. Keahliannya
meramu epistolary menjadikan cerita ini cukup apik dibandingkan yang lain di
genre yang sama.

Latar suasananya mampu
hidup dengan baik. Penulis bisa mengalirkan cerita dengan enak meskipun tidak
terlalu mulus. Walaupun untuk latar tempat belum terbangun dengan baik—ada
beberapa space yang bisa diisi, apa
entah memang pada dasarnya di epistolary tidak membutuhkan detail seperti itu
atau mungkin penulis kurang mengembangkannya.

Tetapi, selebihnya
cerita ini memang mampu menciptakan ketegangan yang berbeda. Tidak melulu soal
bikin jantung berdegup kencang—tapi, tentang bagaimana keinginan untuk terus
menautkan diri pada cerita dan mengeklik “bab selanjutnya”.

Buku ini cocok untuk kamu yang suka membaca (bukan) cerita ringan. Silakan ikuti ketegangannya dalam tujuh bab secara lengkap yang ditulis oleh Triskaidekaman di http://www.storial.co/book/indivisus-fascia-lata

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21

[Rabu Review] 

Indivisus Fascia Lata:  Epistolary yang Terinspirasi dari Berita Pembunuhan Terhadap Sopir Ojek Daring

Judul: Indivisus
Fascia Lata

Penulis:
Triskaidekaman

Status: Sudah Selesai

Jumlah Bab: 7

Kategori: Epistolary

“Tadinya, aku tidak berniat membunuhnya. Tapi, dia lebih baik mati sih, memang. Ujung-ujungnya negara juga enggak suka ada penduduk yang membangkang kayak gini.”

—Mach, Tukang Bakso Genius

Seperti judulnya, buku
Indivisus Fascia Lata tidak memberikan ruangan kepada pembaca untuk menebak
ceritanya. Cara yang menarik—dan cukup berhasil—untuk pembaca yang senang
berpikir sembari membaca. Triskaidekaman merupakan penulis di Storial.co yang
gemar melakukan hal itu.

Cerita ini bisa
dibilang cukup sederhana namun mampu menghadirkan sebuah premis yang tidak ringan. Tiga tokoh utama dalam buku ini adalah: seorang sopir transportasi daring,
seorang pencuri data, dan seorang penadah. Bercerita tentang seorang pencuri data yang
ditinggalkan oleh penadahnya karena dianggap gagal dalam melakukan
pekerjaannya. Hingga sopir transportasi daring yang ikut mengalami kesialan.

Dengan adanya 3 tokoh,
3 dimensi cerita yang berbeda namun saling terkait, menjadikan buku ini sungguh
menarik dibaca. Meskipun, tidak rata pengembangan konflik dari dimensi cerita,
tetapi penulis mampu membuat buku ini ingin terus dibaca. Keahliannya
meramu epistolary menjadikan cerita ini cukup apik dibandingkan yang lain di
genre yang sama.

Latar suasananya mampu
hidup dengan baik. Penulis bisa mengalirkan cerita dengan enak meskipun tidak
terlalu mulus. Walaupun untuk latar tempat belum terbangun dengan baik—ada
beberapa space yang bisa diisi, apa
entah memang pada dasarnya di epistolary tidak membutuhkan detail seperti itu
atau mungkin penulis kurang mengembangkannya.

Tetapi, selebihnya
cerita ini memang mampu menciptakan ketegangan yang berbeda. Tidak melulu soal
bikin jantung berdegup kencang—tapi, tentang bagaimana keinginan untuk terus
menautkan diri pada cerita dan mengeklik “bab selanjutnya”.

Buku ini cocok untuk kamu yang suka membaca (bukan) cerita ringan. Silakan ikuti ketegangannya dalam tujuh bab secara lengkap yang ditulis oleh Triskaidekaman di http://www.storial.co/book/indivisus-fascia-lata

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21

[Rabu Review] The Magic Library: Belajar Teori Sastra dan Istilah Dunia Perbukuan Melalui Sebuah Novel 

Judul : The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup

Penerjemah : Ridwana Saleh

Penyunting : Andityas Prabantoro

Penerbit : Mizan Pustaka

Cetakan : I, Mei 2006

Tebal : 294 hlm

“Tak ada aturan bagi seseorang dalam menulis, demikian juga dalam berpikir.” 

Karya Jostein Gaarder adalah karya-karya abadi yang maknanya termasuk mendalam. Terkenal dengan novelnya yang berjudul Dunia Sophie, Jostein Gardeer membidik sasaran pembaca yang lebih muda lewat novel ini. The Magic Library tidak ditulis Gaarder sendirian, ia berduet dengan Klaus Hagerup. Jika dilihat dari dua tokoh utama novel ini, Berit dan Nills, bisa jadi kedua penulis berbagi peran untuk menuliskan masing-masing tokohnya.

Berit dan Nills adalah dua saudara sepupu yang tinggal di kota berbeda dan berkomunikasi lewat sebuah buku surat; yakni sebuah buku yang ditulis oleh seseorang lalu dikirimkan kepada yang lain dan kemudian dibalas oleh si penerima di buku yang sama. Begitulah seterusnya yang terjadi selama mereka tinggal

berjauhan. Secara bergantian, mereka menulis dan mengirimkan buku surat tersebut.

Di dalam buku surat, kedua saudara itu tak hanya menanyakan kabar satu sama lain. Mereka juga menyelipkan karya puisi atau membicarakan buku yang mereka baca. Para penulis dengan piawai menghadirkan komunikasi atau cara dialog yang menarik bagi

dua tokoh kutu buku di dalamnya, seolah mereka tidak tinggal berjauhan. Sebuah kejujuran murni, namun sarat pengetahuan.

Menariknya, seorang perempuan aneh mengusik ketenangan Berit dan Nills. Dan novel ini menceritakan bagaimana kedua anak itu mencari informasi mengenai si perempuan aneh yang berliur ketika melihat barisan buku. Nills bertemu si perempuan tua dan berpikir jika ia memiliki sikap nyentrik yang cenderung mencurigakan. Perempuan itu meminta untuk membayar buku yang sudah dibeli Nills, dan Nills sama sekali tak sanggup menolak.

Jika Nills bertemu si perempuan tua di Sogndal, ternyata Berit juga bertemu dengan orang yang sama di dermaga dekat rumahnya. Pada suatu waktu, Berit membuntutinya sampai di depan rumah si perempuan tua, dan mendapati sebuah kebetulan bahwa si perempuan tua berada dalam satu lingkungan tempat tinggal yang sama. Dari sana pula, ia mendapati sepucuk surat yang tak sengaja jatuh, yang menjadi titik terang bahwa si perempuan tua itu bernama Bibbi.

Istilah dalam dunia perbukuan dikupas cukup lengkap di dalam novel ini sehingga pembaca bisa belajar tentang sejarah filsafat dari zaman awal mula ditemukan sampai modern di Dunia Sophie. Pembaca juga akan menemukan banyak sekali wawasan menarik mengenai dunia perbukuan serta sastra lewat buku surat Berit dan Nills.

Contohnya, dua anak tersebut membicarakan mengenai istilah bibliografer. Bibbi Bokken adalah seorang bibliografer, yang berarti penggemar berat buku. Dari sini lah, berkembanglah kecurigaan keduanya mengenai motif Bibbi mendekati tempat tinggal mereka. Berit yang sangat penasaran, nekat menyelinap masuk ke rumah Bibbi. Tetapi sayang, ia tak menemukan hal-hal yang mencurigakan. 

Beberapa teori dikembangkan oleh Berit dan Nills, dari hal yang biasa sampai terkesan brutal. Imajinasi mereka menjadikan karakter Bibbi hidup dalam variasi yang berbeda-beda. Penggemar Jostein Gaarder harus membaca novel ini, terutama untuk kamu yang mengaku sebagai penikmat buku. Teori sastra, buku-buku berpengaruh, dan beragam penerbitan pun disinggung oleh Berit dan Nills. The Maggic Library merupakan sebuah karya berbobot yang sangat seru dan menyenangkan.

Rabu, 13 September 2017

Ditulis oleh: Reffi Seftianti

Akun Storial: @reffi25

[Rabu Review] Senja di Batas Kota: Kisah Persahabatan yang Menyentuh

Judul: Senja di Batas Kota

Penulis: Theresia Roelen

Kategori: Cerita Pendek

Jumlah Bab: 1

Status: Sudah Selesai

Jika
kamu diberikan dua pilihan antara kesempatan dan keadaan, mana yang akan kamu
pilih? Apakah kamu akan memilih keadaan yang memaksa kamu untuk bersamanya,
ataukah kesempatan yang mungkin hanya satu kali datang dalam seumur hidup.

Agnes,
seorang gadis yang hidup di kota kecil hanya dengan bermain piano di gereja dan
berjualan es kelapa bersama Hana sahabatnya. Walaupun kehidupannya sederhana,
dia memiliki mimpi yang luar biasa untuk masa depannya. Tapi apa daya, dia
dihadapkan pada dua pilihan yaitu kesempatan atau keadaan.

Hana,
seorang gadis yang sakit-sakitan yang mempunyai mimpi luar biasa. Mimpinya
untuk melihat setiap orang yang ada di sekitarnya bahagia, termasuk sahabatnya.
Dia berharap pada setiap orang yang mempunyai kesempatan untuk mewujudkan semua
mimpi yang mereka punya dan hidup bahagia.

Ide
cerita ini cukup sederhana, yaitu persahabatan dan kejadian yang ada di
sekitar. Namun, penulis pandai mengemas ceritanya, sehingga ceritanya terkesan
mengalir dan terlihat seperti sebuah kisah nyata. Karena alur dan
penggambarannya yang jelas dan tertata, pembaca akan merasa seperti menonton
sebuah film saat membacanya.

Bahasanya
sederhana dan tertata, tidak terkesan kaku dan mudah dipahami. Alurnya juga
terkesan konsisten dan tidak terburu-buru. Pada penulisannya juga tidak
ditemukan banyak typo ataupun
kesalahan penggunaan tanda baca.

Kisah
ini memiliki racikan cerita yang mampu menyentuh pembaca. Hal itu karena
penulis mampu mengubah konflik yang awalnya terlihat biasa saja menjadi sebuah
konflik yang memang membutuhan pertimbangan dan akan membuat pembaca gamang.
Walau seperti yang sudah disebutkan, cerita ini memiliki alur yang terkesan
konsisten, tapi sayang akhir dari cerita ini terkesan terburu-buru dan sedikit dipaksakan. Tapi
tetap saja, cerita ini sangat menarik untuk dinikmati.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menyentuh hatimu untuk membaca Senja di Batas Kota, enggak?Silakan baca keseluruhan cerita pendek hasil tulisan Theresia Roelen di sini http://www.storial.co/book/senja-di-batas-kota

image

Rabu, 6 September 2017

Ditulis oleh:
Riza Indriyasta

Akun Storial : @ceritapena17

[Rabu Review] Senja di Batas Kota: Kisah Persahabatan yang Menyentuh

Judul: Senja di Batas Kota

Penulis: Theresia Roelen

Kategori: Cerita Pendek

Jumlah Bab: 1

Status: Sudah Selesai

Jika
kamu diberikan dua pilihan antara kesempatan dan keadaan, mana yang akan kamu
pilih? Apakah kamu akan memilih keadaan yang memaksa kamu untuk bersamanya,
ataukah kesempatan yang mungkin hanya satu kali datang dalam seumur hidup.

Agnes,
seorang gadis yang hidup di kota kecil hanya dengan bermain piano di gereja dan
berjualan es kelapa bersama Hana sahabatnya. Walaupun kehidupannya sederhana,
dia memiliki mimpi yang luar biasa untuk masa depannya. Tapi apa daya, dia
dihadapkan pada dua pilihan yaitu kesempatan atau keadaan.

Hana,
seorang gadis yang sakit-sakitan yang mempunyai mimpi luar biasa. Mimpinya
untuk melihat setiap orang yang ada di sekitarnya bahagia, termasuk sahabatnya.
Dia berharap pada setiap orang yang mempunyai kesempatan untuk mewujudkan semua
mimpi yang mereka punya dan hidup bahagia.

Ide
cerita ini cukup sederhana, yaitu persahabatan dan kejadian yang ada di
sekitar. Namun, penulis pandai mengemas ceritanya, sehingga ceritanya terkesan
mengalir dan terlihat seperti sebuah kisah nyata. Karena alur dan
penggambarannya yang jelas dan tertata, pembaca akan merasa seperti menonton
sebuah film saat membacanya.

Bahasanya
sederhana dan tertata, tidak terkesan kaku dan mudah dipahami. Alurnya juga
terkesan konsisten dan tidak terburu-buru. Pada penulisannya juga tidak
ditemukan banyak typo ataupun
kesalahan penggunaan tanda baca.

Kisah
ini memiliki racikan cerita yang mampu menyentuh pembaca. Hal itu karena
penulis mampu mengubah konflik yang awalnya terlihat biasa saja menjadi sebuah
konflik yang memang membutuhan pertimbangan dan akan membuat pembaca gamang.
Walau seperti yang sudah disebutkan, cerita ini memiliki alur yang terkesan
konsisten, tapi sayang akhir dari cerita ini terkesan terburu-buru dan sedikit dipaksakan. Tapi
tetap saja, cerita ini sangat menarik untuk dinikmati.

Jadi, bagaimana? Ulasan ini berhasil menyentuh hatimu untuk membaca Senja di Batas Kota, enggak?Silakan baca keseluruhan cerita pendek hasil tulisan Theresia Roelen di sini http://www.storial.co/book/senja-di-batas-kota

image

Rabu, 6 September 2017

Ditulis oleh:
Riza Indriyasta

Akun Storial : @ceritapena17