[Rabu Review] It’s Horror Time oleh Yamashita, dkk.

It’s Horror Time

Judul: It’s Horror Time

Ditulis oleh: Yamashita, dkk.

Jumlah bab: 13

Kategori: Horor

Status: Masih Berlanjut

“Kami memang bersekutu dengan setan. Kami akan tetap hidup sepajang meminum darah manusia.” (dikutip dari cerpen berjudul Warung di Perempatan)

It’s Horror Time adalah buku yang berisi kumpulan cerpen bergenre horor dan thriller. Tiap babnya berisi cerpen yang sanggup membuat pembaca merinding. Mulai dari cerita tentang hantu, mitos, sampai pembunuhan. Meskipun setiap cerpennya ditulis dengan singkat namun kengerian yang berusaha penulis sampaikan akan terasa kepada pembaca. Dengan jumlah kata yang singkat inilah penulis selalu menyimpan twist di akhir yang membuat pembaca tercengang.

Salah satu cerpen terbaik dalam buku It’s Horror Time yang berjudul Warung di Perempatan yang ditulis oleh Tri Mulyati menceritakan tentang seorang penjual bakso yang memiliki seorang saingan bernama Pak Dullah. Akhir-akhir ini bakso yang dijualnya tidak laku karena warung bakso Pak Dullah menjual bakso yang lebih enak dan harganya lebih murah. Ia pun menyewa mata-mata untuk mencari tahu rahasia apa yang pak Dullah sembunyikan hingga warung baksonya laris manis. Penasaran dengan bahan dasar bakso yang pak Dullah jual, ia pun menyelidiki sendiri rahasia dibalik kesuksesan Pak Dullah. Tak disangka-sangka rasa penasaran itu membawanya pada kejadian yang sangat mengerikan.

Ide cerita dalam buku ini sangat bervariasi. Pembaca tidak akan merasa bosan dengan cerita pendek yang terdapat dalam buku ini. Walau pemilihan diksinya tergolong biasa saja, namun pembaca akan tetap merasa nyaman membacanya. Tulisan yang mengalir dan alur cerita yang jelas merupakan daya tarik dalam buku ini.

Untuk kamu yang mulai penasaran dengan buku It’s Horror Time karena review di atas, kamu bisa membaca seluruh kisahnya di sini http://www.storial.co/book/its-horror-time-1

image

Rabu, 10 Januari 2018

Pengulas: Evita MF (akun storial: evitamf)

[Rabu Review] 

The Seven Good Years: Memoar Menyenangkan dari Seorang Etgar keret

Judul
Buku      : The Seven Good Years

Penulis             : Etgar Keret

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun              : 2016

“Experience has taught me that there are some situations in which it’s better to keep quiet. That is, I tried to keep quiet. Life gives me good advice, but sometimes I refuse to take it.”

The
Seven Good Years
akan selalu diingat sebagai sebuah buku memoar paling
menyenangkan yang pernah kalian baca. Cara penulisan Etgar Keret yang segar—bonus
beberapa sindiran kepada pemerintah yang begitu halus dan mengocok perut—bisa
jadi memang mewakili profil dari penulis itu sendiri. Meskipun berupa
memoar, pembaca seolah diajak oleh Etgar untuk masuk ke dalam hidupnya langkah
demi langkah.

Seperti
judulnya, buku ini berisi tujuh tahun dari kehidupan Etgar Keret yang baginya penuh kenangan.
Bagaimana dia menunggui putranya—yang kemudian diberi nama Lev, sudut pandang
soal konflik negaranya dengan negara yang hidup satu tanah, lalu tentang
perjalanannya ke berbagai negara untuk mengisi acara-acara literasi.

Sungguh
menyenangkan bagaimana di setiap perjalanan itu selalu menyimpan banyak cerita
dan Etgar menyuguhkan kepada pembaca sebuah pengalaman yang menarik, gurauan ringan
tapi sangat pecah dengan balutan diksi yang variatif, dan mungkin pengalaman
itu sungguh-sungguh dekat dengan pembaca.

Etgar
menuliskan memoar ini apa adanya, setiap momen yang sepele pun bisa diubahnya
menjadi sesuatu yang sungguh lucu karena dia hanya menuliskan apa adanya. Dan
jujur, sebagai pembaca kita akan mendapat informasi yang lebih dalam perihal negara asal Etgar Keret.

image

Buku ini berhak mendapat bintang empat koma tiga dari pengulas.

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21

[Rabu Review] 

The Seven Good Years: Memoar Menyenangkan dari Seorang Etgar keret

Judul
Buku      : The Seven Good Years

Penulis             : Etgar Keret

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun              : 2016

“Experience has taught me that there are some situations in which it’s better to keep quiet. That is, I tried to keep quiet. Life gives me good advice, but sometimes I refuse to take it.”

The
Seven Good Years
akan selalu diingat sebagai sebuah buku memoar paling
menyenangkan yang pernah kalian baca. Cara penulisan Etgar Keret yang segar—bonus
beberapa sindiran kepada pemerintah yang begitu halus dan mengocok perut—bisa
jadi memang mewakili profil dari penulis itu sendiri. Meskipun berupa
memoar, pembaca seolah diajak oleh Etgar untuk masuk ke dalam hidupnya langkah
demi langkah.

Seperti
judulnya, buku ini berisi tujuh tahun dari kehidupan Etgar Keret yang baginya penuh kenangan.
Bagaimana dia menunggui putranya—yang kemudian diberi nama Lev, sudut pandang
soal konflik negaranya dengan negara yang hidup satu tanah, lalu tentang
perjalanannya ke berbagai negara untuk mengisi acara-acara literasi.

Sungguh
menyenangkan bagaimana di setiap perjalanan itu selalu menyimpan banyak cerita
dan Etgar menyuguhkan kepada pembaca sebuah pengalaman yang menarik, gurauan ringan
tapi sangat pecah dengan balutan diksi yang variatif, dan mungkin pengalaman
itu sungguh-sungguh dekat dengan pembaca.

Etgar
menuliskan memoar ini apa adanya, setiap momen yang sepele pun bisa diubahnya
menjadi sesuatu yang sungguh lucu karena dia hanya menuliskan apa adanya. Dan
jujur, sebagai pembaca kita akan mendapat informasi yang lebih dalam perihal negara asal Etgar Keret.

image

Buku ini berhak mendapat bintang empat koma tiga dari pengulas.

image

Rabu, 27 September 2017

Ditulis oleh: Muhammad Ariqy Raihan

Akun Storial: @ariqy21