[Friting Tips] Membuat Tulisan Bergizi dari Non-Fiksi

Non-fiksi adalah genre yang yang membuat kita bisa menikmati bacaan tanpa perlu banyak berimajinasi. Rata-rata non-fiksi memang ditulis dengan rangkaian fakta dan juga tanpa adanya konflik. Jenis tulisan non-fiksi juga bermacam-macam contohnya dari biografi, otobiografi, esai, opini, artikel berita dan lain-lain. Meski tidak membutuhkan tokoh dan juga alur cerita yang berganti-ganti seperti pada fiksi, menulis non-fiksi juga membutuhkan strategi yang tepat agar pembaca dapat tetap menikmati hingga akhir.

Menulis buku non-fiksi juga membuka kesempatan yang baik untuk penulis genre apapun. Karena di dalam non-fiksi kamu tidak perlu belajar memahami karkater tokoh yang kamu tulis, kamu cukup belajar untuk mengolah data serta membuat tulisan bergizi yang dibutuhkan banyak orang. Saat ini sudah cukup sering kita temui jajaran buku best seller yang justru dipenuhi dari rak buku non-fiksi. Tulisan bertema how-to dan juga motivasi selalu dicari pembaca. Jika kamu ahli dalam satu bidang tertentu, juga bisa saja dituliskan dalam bentuk buku.

5 hal yang harus diperhatikan agar tulisan non-fiksimu menjadi tulisan yang bergizi dan enak dibaca:

1.    Miliki unsur utama 5W+1H

Sebuah tulisan non-fiksi yang baik harus memiliki unsur what, where, why, whom, when, dan how. Dasar tersebut sudah menjadi sebuah pondasi penting untuk tulisan non-fiksi terutama di bidang penulisan berita dan juga liputan. Jika tidak mencakup semua bagian tersebut, tulisan non-fiksi bisa diragukan kevalidannya.

2.    Gunakan data yang akurat

Jika kamu ingin menulis esai dan opini misalnya, tetap dibutuhkan data akurat yang bisa mendukung pendapat yang kamu tuliskan. Misalnya kamu mengkritik sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang maju dibanding negara lain dalam sebuah tulisan opini, maka kamu harus mencari data-data penting berupa tabel, grafik atau referensi dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika data yang kamu tulis tidak akurat atau berasal dari media hoax, maka hal ini bisa menyesatkan pembaca. Tulisanmu akan memancing kritik dari banyak orang kalauberani mengkritik tanpa dasar argumen yang kuat.

3.    Tentukan target pembaca

Tentukan terget pembaca yang ingin kamu jadikan pilihan dan juga sesuaikan dengan jenis  tulisan yang kamu buat. Contohnya jika kamu ingin menulis artikel opini di media massa nasional, maka gunakan gaya bahasa formal dan disertai bukti-bukti yang ilmiah. Berbeda halnya jika kamu ingin menulis artikel lifestyle di website anak muda maka gunakanlah bahasa yang santai serta tidak kaku. Sering membaca berbagai jenis tulisan non-fiksi yang berbeda akan menambah perbendaharaan kata serta mengetahui gaya bahasa yang sesuai dengan dirimu. Namun yang paling disukai oleh pembaca biasanya tulisan non-fiksi yang bahasanya mengalir dan tidak terkesan menggurui.

4.    Buat bagian naskah selengkap mungkin

Susun tulisan atau buku non-fiksimu serapi mungkin. Jangan lupa untuk membuat catatan kaki jika banyak menggunakan istilah asing. Sebutkan juga sumber data dan tabel yang kamu sebutkan sebagai bentuk pendukung. Dalam tulisan jurnal ilmiah biasanya akan ditulis secara rinci daftar pustaka yang dijadikan sumber.

5.    Lakukan editing dengan cermat

Seperti halnya tulisan fiksi, kamu juga harus melakukan proses editing dengan cermat. Tulisan dengan gaya bahasa yang asyik dan informatif akan menjadi hancur jika banyak typo bertebaran. Cari pembaca draf pertamamu supaya bisa mendapat kritik yang lebih okjektif demi perbaikan tulisan.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu perhatikan jika ingin membuat tulisan non-fiksi yang bergizi dan enak dibaca. Jangan lupa untuk tetap menambah bacaan non-fiksi berkualitas sebagai amunisi tulisanmu.

Selamat menulis!

Jumat, 5 Januari 2018

Ditulis oleh: Reffi Seftianti

[Friting Tips] Social Media. Bad or Good?

Keberadaan media sosial sekarang ini sudah seperti sebuah kebutuhan primer. Mulai dari anak kecil hingga Ibu-ibu arisan mempunyai akun di media sosial. Sebagian beralasan karena tidak ingin dikatakan kudet (kurang update). Sebagian lagi karena ingin mengukuhkan eksistensi mereka di dunia maya.

Dengan adanya media sosial, segala macam informasi bisa mereka dapatkan dengan mudah. Sayangnya, informasi itu kemudian mereka sebarkan melalui jaringan pribadi atau grup tanpa melalui saringan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan perbedaan argumen antar sesama pengguna medsos. Tidak apa jika argumen itu hanya sebatas argumen biasa. Tapi, jika berlanjut menjadi permusuhan? Inilah yang harus kita—sebagai sesama pengguna medsos —hindari.

Kata ‘maya’ dalam Ejaan Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai sesuatu yang tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada. Hanya ada dalam angan-angan atau khayalan.

Dari pengertian di atas, seharusnya kita sudah harus berhati-hati sejak awal. Bahwa pada dasarnya, dunia media sosial itu tidaklah selalu nyata. Orang bisa dengan mudah berbohong tanpa diketahui. Memang tidak semua pengguna medsos seperti itu, tapi tidak ada salahnya jika kita lebih waspada, bukan?

Dampak lain dari media sosial yang bisa kita lihat hampir setiap hari adalah orang jadi lebih berani untuk bersuara. Bukan bersuara dalam arti yang sebenarnya, melainkan bersuara melalui unggahan status. Selain itu, mereka juga bisa dengan mudahnya menceritakan masalah pribadi mereka di media sosial. Tidak sedikit pula yang mengunggah status dengan nada marah karena suasana hati sedang kesal. Inilah yang akhirnya akan mengundang pertanyaan dari followers. Sehingga, para followers ini akan menerka-nerka tentang apa yang terjadi sebenarnya. Dan kemudian membuat kesimpulan sendiri tanpa melakukan klarifikasi. Yang—lagi-lagi—hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman yang berujung keributan.

Mengumbar masalah pribadi di media sosial dalam bentuk status sebenarnya boleh-boleh saja. Asalkan, kita kaji lagi apa motif kita melakukannya? Mungkin, bagi sebagian orang yang sudah lekat dengan media sosial, berpikir bahwa dengan mengunggah status yang berisi masalah-masalah mereka, hati mereka akan sedikit merasa plong. Beban dalam kepala bisa berkurang setelah dikeluarkan. Ini jika dilihat dari segi yang membuat status. Beda cerita jika kita melihatnya dari segi pembaca.

Bisa jadi ketika kita sedang kesal dengan seseorang, kita menuliskan status yang berisi sindiran. Bagaimana jika orang yang kita sindir membaca? Pertengkaran lagi pastinya yang akan terjadi. Mungkin orang yang disindir itu akan membalas dengan status yang lain. Hingga akhirnya terjadilah perang status di media sosial.

Adanya media sosial memang dapat menimbulkan dampak negatif. Tapi perlu diingat juga, media sosial membawa lebih banyak dampak positif dalam kehidupan kita. Salah satunya tentu saja membuka jaringan pertemanan yang lebih luas. Bahkan, lapangan pekerjaan yang berhubungan dengan dunia media sosial juga mulai banyak berdatangan.

Sebenarnya, dampak positif maupun negatif dalam kemajuan teknologi itu pasti akan selalu beriringan. Tinggal bagaimana diri pribadi kita menerima dan memilahnya. Seperti yang selama ini sudah sering kita dengar: “Ambil sisi baiknya buang sisi buruknya.”

Dalam dunia media sosial, kita harus mulai belajar untuk mengontrol emosi. Belajar untuk berkata yang baik-baik saja. Belajar untuk saling menghargai sesama pengguna media sosial.

Segala ucapan yang kita tulis dalam bentuk status atau komentar haruslah dipikirkan terlebih dahulu baik buruknya. Jangan sampai hanya karena tulisan yang tidak bertanggung jawab, kemudian memicu keributan.

Mari kita buat dunia media sosial lebih baik.

Say some good words.

Share something good.

Jumat, 22 Desember 2017

Ditulis oleh: Ulfa (akun Storial: ulfafauzi07)

[Friting Tips] Tips Menjadi Buku Pilihan Minggu Ini di Storial

Menyelesaikan sebuah karya saja rasanya sudah sangat menyenangkan, apalagi kalau sampai jadi buku pilihan mingguan! Wah, tentunya ini akan jadi semacam prestasi akan karyamu di Storial dan bisa menjadi portofoliomu!

Namun, dari ribuan buku yang ada di Storial, slot untuk menjadi Buku Pilihan Minggu Ini hanya ada 8 buku. Artinya, kamu harus bersaing dengan ribuan karya lain untuk mendapat slot tersebut.

Seiring berjalannya waktu, banyak member Storial yang bertanya bagaimana cara agar karya mereka menjadi Buku Pilihan Minggu Ini? Dan jawaban-jawaban yang kami berikan kala itu rasanya belum memuaskan keingintahuanmu, kan?

Didasari pertanyaan tersebut, pada Friting Tips edisi kali ini kami akan membocorkan beberapa cara agar karyamu dapat berpotensi untuk terpilih menjadi Buku Pilihan Minggu Ini.

Yuk simak bersama!

1. PASTIKAN BUKUMU MEMILIKI COVER

Kita semua pasti sepakat untuk tidak menilai sebuah buku hanya dari cover-nya saja. Namun, kehadiran cover, terutama di platform Storial, merupakan nilai plus yang bisa menarik perhatian pembaca. Selain itu, bukumu akan terkesan ‘memakai baju’ dan tidak kedinginan!

2. ISI KOLOM SINOPSIS

Nih, kalau kamu misalnya lagi lihat-lihat buku di toko buku, pasti kamu akan langsung melihat bagian belakang atau bagian ‘blurb’-nya dulu, kan? Kolom sinopsis dari Storial juga memiliki fungsi yang sama seperti itu. Dengan mengisi kolom sinopsis dengan cermat, kamu bisa mengundang rasa penasaran pembaca, sekaligus membuat komponen dari bukumu lebih lengkap.

3. PERHATIKAN STATUS BUKU

Status buku yang menampilkan ‘masih berlanjut’ atau ‘sudah selesai’ juga berpengaruh, lo. Kalau misalnya kamu menulis cerpen dengan ending menggantung, lalu status bukunya ‘masih berlanjut’, buku kamu akan dianggap belum selesai.

4. CEK KAIDAH MENULIS

Karena pada akhirnya isi kontenlah yang menentukan, terutama di bagian teknis/kaidah menulis. Tulisan yang rapi dalam arti ‘penempatan titik dan koma’ yang benar bisa menjadi faktor penunjang, jika dipadu dengan tema dan ide cerita yang menarik, bukumu tentu berkesempatan besar menjadi Buku Pilihan Minggu Ini.

5. BUATLAH PICT QUOTES

Sebagai salah satu strategi kampanye, buatlah gambar dengan quotes yang menarik perhatian dan posting di media sosial. Dengan begitu pembacamu akan bertambah lebih banyak, dan karyamu akan dibicarakan di mana-mana.

Nah, 5 tips tersebut bisa kamu terapkan mulai sekarang. Dengan begitu kesempatan untuk masuk ke dalam rak Buku Pilihan Minggu Ini akan lebih besar. Namun, kamu harus tetap mengingat bahwa sainganmu lebih dari 15.000 orang yang juga menulis dalam platform yang sama, di Storial.co. So, kalau belum terpilih minggu ini, jangan menyerah! Kesempatanmu mungkin ada pada mingu-minggu berikutnya ^^

[Friting Tips] Mengenal Non-Fiksi Lebih Dalam

Kali ini, kami akan memberi sedikit informasi tentang non-fiksi terutama buku-buku yang termasuk sebagai non-fiksi yang mungkin suatu saat harus kalian tulis.

Kalian tentu sudah kenal dengan istilah fiksi yang tulisannya dapat berupa cerpen, novel maupun puisi. Dalam karya fiksi, penyampaian informasi atau peristiwa dan karakter yang ada, baik sebagai karakter utama atau pendamping, adalah hasil imajinasi penulisnya. Hal tersebut berbeda dengan apa yang ada dalam karya non-fiksi. Dari sisi pembaca, umumnya tulisan fiksi dicari karena keinginan dan tulisan non-fiksi karena kebutuhan.

Pengertian Non-Fiksi

Simak beberapa pengertian tentang non-fiksi berikut:

  1. Non-fiksi merupakan karya yang informatif, meskipun sering disusun berupa cerita, tapi penulisnya bertanggungjawab atas akurasi peristiwa yang disajikan. Sehingga cerita yang di dalamnya merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi di masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam momen-momen tertentu.
  2. Non-fiksi merupakan karangan atau tulisan yang disajikan dalam bentuk cerita nyata. Atau cerita kehidupan yang dituangkan dalam sebuah tulisan.
  3. Non-fiksi adalah karya seni dalam bentuk faktual.

Sebenarnya dapat dikatakan bahwa perbedaan fiksi dan non-fiksi hanya pada faktual atau tidaknya sebuah tulisan dan imajiner atau tidaknya. Jadi, perbedaan tersebut tidak mempengaruhi gaya bahasa, murni masalah fakta atau khayalan saja.

Gaya bahasa dalam tulisan non-fiksi bersifat denotative yakni tidak bermakna ganda, tapi mempunyai pengertian yang terbatas dan pasti. Bisa dikatakan pula tulisan non-fiksi menggunakan bahasa baku karena memiliki taraf obyektifitas tinggi, untuk menarik dan menggugah pikiran pembacanya.

Jenis Non-Fiksi

Ada dua jenis non-fiksi, yaitu :

  1. Non-Fiksi Murni
    Buku-buku di sini berisi pengembangan berdasar data-data yang autentik. Misalnya: buku Bahasa Indonesia kelas 6 karya Engkos Kosasih, dkk, The Magic Smile karya Adhi F Abdul ‘Id, Teknik Seni Bermain Gitar karya Famoya, Bakat Bukan Takdir karya Bukik Setiawan dan Andrie Firdaus.
  2. Non-Fiksi Kreatif
    Tulisan yang berawal dari data otentik kemudian pengembangannya berdasar imajinasi, biasanya dalam bentuk novel, puisi atau prosa.

Contoh Karya Non-Fiksi

A. Contoh novel non-fiksi:

  • Timur Leng karya Justin Marozzi.
    Berisi tentang tokoh bernama Timur Leng yang orang biasa kemudian menjadi seorang penakluk wilayah kesultanan Mughal di India di zaman sebelum Taj Mahal berdiri.
  • Kiai Ahmad Dahlan (Jejak Pembangunan Sosial Dan Kemanusiaan) karya Prof. Abdul Munir Mulkhan.
    Tentang Bapak yang sangat dihormati, tentang Muhammadiyah dan Kiai Ahmad Dahlan.

B. Contoh prosa non-fiksi:

  • Artikel, Tajuk Rencana/Editorial, Opini, Biografi, Tips, Reportase, Jurnalisme Baru, Iklan, dan Feature/Ficer (isi berita yang tidak aktual/ kejadian yang telah lalu).

Kebutuhan Buku Non-Fiksi ‘Pembaca Zaman Now

Setelah membaca uraian di atas pasti sudah tergambar apa sih tulisan non-fiksi itu. Ya, kan? Selanjutnya pasti muncul pertanyaan: “Lalu buku-buku non-fiksi seperti apa sih yang banyak dicari orang-orang/masyarakat?”

Melihat era globalisasi di segala bidang seperti sekarang ini beberapa tema buku-buku non-fiksi masih sangat dibutuhkan, lo. Yuk kita simak satu-satu tema/topik buku-buku yang dimaksud.

1. Tema Kesalehan/Keimanan

Dalam keadaan zaman yang banyak menampilkan perdebatan masalah keyakinan, tentu membuat sebagian masyarakat ingin mempertebal keimanan mereka. Salah satunya dengan belajar untuk memperdalam ajaran-ajaran agamanya. Buku-buku non-fiksi bertema religi masih diburu banyak orang.

2. Tema Kependidikan

Untuk buku-buku tema ini memang pangsa pasarnya tergolong luas. Karena buku-buku di sini diharapkan mampu menambah pelajaran, tetapi bukan buku pelajaran. Para pelajar, mahasiswa dan orang-orang yang masih terus belajar sampai usia tak terbatas pun akan mencari buku tema ini.

Misal: Buku Dasar-dasar ilmu politik karya Prof. Miriam Budiardjo.

3. Tema Kanak-kanak dan Remaja

Buku tema ini akhir-akhir ini manjadi laris. Mungkin karena para orang tua pun ikut mencari buku-buku ini lebih mengetahui apa yang sebenarnya tengah dialami anak-anaknya. Baik yang masih dalam usia perkembangan apalagi usia remaja.

Contoh dari buku-buku ini banyak, misalnya buku yang menguraiknan tentang perkembangan anak usia 0 tahun sampai 1 tahun. Dan buku tentang usia remaja.

4. Tema Kewirausahaan dan Kekayaan

Siapa yang tidak ingin bisnisnya bertambah maju dan siapa yang tidak ingin cepat kaya? Meskipun seringnya isi buku seperti terlalu bombastis. Hanya menceriterakan kesuksesan orang saja tanpa diuraikan kendala-kendalanya.

Contoh buku tema ini yang laris : Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki.

5. Tema Kesehatan dan Kecantikan

Seperti juga buku-buku yang satu ini, masih laris manis di pasaran karena sasaran pembacanya di semua usia.

6. Tema Keluarga

Buku ini biasanya diminati para orang tua dan ibu rumah tangga. Utamanya tentang masalah anak-anak yang berkebutuhan khusus.

7. Tema Kesenangan Ketrampilan

Buku-buku memasak, pertanian, otomotif, dan beberapa yang lain bertema sama, masih diminati. Apalagi tentang hobi dan ketrampilan yang dapat menghasikan uang.

8. Tema Kisah

Biasanya buku-buku otobiografi.

9. Tema Komputer

Era digital saat ini sangat membutuhkan orang harus paham masalah teknologi yang satu ini.

10. Tema Kontroversial

Hal-hal yang tidak biasa atau menimbulkan perdebatan biasanya menjadi sangat menarik untuk diikuti. Buku tema ini pun banyak dicari, pastinya.

So, tentukan salah satu tema/topik yang sesuai dengan keahlian menulismu, ya! Selamat menulis, Storialis!


Jumat, 8 Desember 2017

Dirangkum oleh: Gendhuk Gandhes (akun Storial: gendhuk)

 

Didesain oleh: Rakhmi Fitriani (akun Storial: rakhmifitriame)


Sumber:

– Wikipedia

– terbitin.blogspot.com

– inirumahpintar.com

[Friting Tips] Mutualisme Antara Fiksi dan Fakta

Yang fiktif pastilah fiksi, yang faktual pastilah nonfiksi. Dalam kenyataannya, penulisan fiksi tidak selalu menganut dikotomi demikian. Meskipun tajuknya fiktif, tulisan fiksi nyaris selalu harus menyisipkan fakta di dalamnya, atau justru dibangun di atas jalinan fakta yang benar-benar nyata.

Lewat artikelnya di situs Writing Forward, Sam Russell menyatakan bahwa kehadiran fakta ini sifatnya vital, agar pembaca mampu membayangkan dan mengaitkan apa yang disampaikan dalam tulisan fiksi dengan kenyataan.

Berikut ini sejumlah tips dari penulis yang juga pengajar di GKBC Writer Academy ini, tentang penulisan fiksi berdasarkan fakta.

Prinsip utama: fakta yang dimuat harus benar.

Apa pun genre tulisan yang kita pilih, fakta yang disajikan harus diketahui dan disajikan dengan benar. Pembaca baru bisa memercayai suatu kebohongan dalam cerita fiksi, apabila kebohongan itu dilingkupi oleh fakta-fakta yang akurat. Di sinilah titik tolak dari berbagai pendekatan penulisan fiksi berdasarkan fakta dapat dilakukan.

Apa yang dibutuhkan seorang penulis untuk mencari fakta?

Hanya ada dua cara: mengalami sendiri, atau mencarinya lewat riset.

Pengalaman sendiri yang dituangkan dalam cerita bisa berupa pengalaman pribadi, maupun pengalaman profesional.

Apa saja tips untuk menulis fiksi berdasarkan fakta, agar cerita kita menjadi hidup?

Dalam artikel yang sama, Russell membagikan tiga belas tips menarik yang bisa kita coba, ketika hendak menulis fiksi yang berdasarkan fakta-fakta.

1. Sadarlah akan dunia sekitar, lalu amatilah, dan bangun latar cerita berdasarkan apa yang kita indrai. Kita bisa mencobanya dengan berhenti dari aktivitas sejenak, lalu mengindrai apa yang ada di sekitar kita. Catat, resapi, dan nikmati dalam-dalam. Tuangkan dalam kata-kata.

2. Mengupinglah. Semua penulis perlu melakukan ini, setidaknya untuk kepentingan riset.

3. Perhatikan orang lain dan apa yang mereka lakukan. Sama seperti menguping, memperhatikan orang lain dan aktivitasnya juga perlu untuk kepentingan riset.

4. Perhatikan diri sendiri. Di sini, menyelami pikiran sendiri dan persepsi diri sendiri atas apa yang dilihat atau didengar pun penting.

5. Catat semuanya dan simpan dengan baik.

6. Carilah sesuatu yang belum kita ketahui atau kuasai, dan biarkan diri kita terobsesi dengannya. Kebiasaan ini penting untuk membangun niat riset, agar riset yang dilakukan memadai untuk kepentingan cerita.

7. Baca, baca, dan baca: apa saja termasuk tentang subjek yang tidak kita minati.

8. Sewaktu membaca, catat apa yang menarik buat kita. Kembangkan riset dari sana.

9. Selama riset, biasakan untuk lebih banyak menggunakan sumber buku daripada internet, dan janganlah mengandalkan Wikipedia sebagai sumber tunggal.

10. Kumpulkan fakta, informasi, pengalaman menjadi satu, dan gabungkan semuanya secara longgar menjadi kerangka besar cerita.

11. Apa saja yang perlu dibuat fiktif? Fiksikan fakta-fakta yang bersifat personal. Buat kode-kode atau sisipkan informasi hingga hanya kita yang mengerti apa rahasia yang terkandung di dalamnya. Jika bingung, ambil patokan begini: buat cerita kita terdengar/terbaca sebagai sesuatu yang universal, bisa dikaitkan dengan semua orang, tanpa memuat nama orang, nama tempat, dan rincian sensitif.

12. Spesifik. Masukkan fakta penting yang mendukung plot cerita. Pilihlah fakta yang harus ada, dan jika tidak ada maka konsekuensinya dapat berpengaruh pada persepsi realitas cerita di mata pembaca.

13. Jangan berlebihan. Tidak seluruh hasil riset bisa dimasukkan dalam cerita. Pilihlah hanya informasi yang berkenaan dengan plot cerita.

Jumat, 24 November 2017

Ditulis oleh: Henny (akun Storial: triskaidekaman)


Sumber artikel: https://www.writingforward.com/news-announcements/guest-posts/how-to-write-fiction-based-on-fact

[Friting Tips] 5 Manfaat Luar Biasa dari Mendongeng untuk Anak

Dahulu mendengarkan sebuah dongeng adalah hal yang paling disukai dan dinantikan oleh anak-anak. Namun, saat ini mendengarkan sebuah dongeng menjadi kegiatan yang langka seiring perubahan zaman. Orang tua kadang tak punya waktu membacakan dongeng untuk anaknya sebelum tidur, karena kesibukan mereka itulah akhirnya orang tua cenderung membiarkan anak-anaknya bermain gadget atau menonton televisi. Padahal mendongeng memiliki banyak manfaat bagi anak.

1. Memperkenalkan kosakata baru pada anak

Masa kanak-kanak adalah masa terbaik untuk mempelajari bahasa. Inilah saat yang tepat untuk mengajarkan anak pada kosakata yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Saat mendongeng pastinya terdapat kata-kata baru yang belum mereka pahami. Saat mendongeng kita akan mendapatkan banyak pertanyaan seperti, “Kastil itu apa? Bijaksana itu apa?” Melalui pertanyaan-pertanyaan itulah, saatnya orang tua mengajarkan pada anak tentang arti dari sebuah kata.

2. Meningkatkan kemampuan mendengarkan anak

Mendengarkan ternyata bukan hal yang mudah. Anak-anak cenderung lebih senang berbicara dari pada mendengarkan. Saat di sekolah, anak-anak senang berbicara dari A sampai Z, bahkan ketika guru sedang menjelaskan di depan kelas mereka tak henti berbicara dengan teman-teman di sebelahnya. Begitu pula saat di rumah, anak-anak juga tak henti berbicara bahkan ketika orang tuanya sedang memberi nasihat. Dengan mendongeng, orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk diam dan mendengarkan saat orang lain berbicara. Mendongeng mengajarkan anak-anak untuk menjadi pendengar yang baik. Jika anak terbiasa mendengarkan dongeng, mereka akan terbiasa untuk menghormati ketika ada orang lain berbicara, dan kebiasaan ini akan terbawa baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat.

3. Meningkatkan pemahaman anak tentang sejarah dan budaya

Dongeng biasanya bercerita tentang sejarah, mitos, fabel dan legenda. Melalui mendongeng, anak-anak diperkenalkan pada cerita sejarah ataupun budaya Indonesia. Contohnya dongeng Roro Jonggrang, melalui cerita Roro Jonggrang anak diajarkan tentang sejarah Roro Jonggrang yang ada di Candi Prambanan. Kita juga bisa tambahkan pengetahuan tentang lokasi dan hal-hal yang berkaitan tentang candi Roro Jonggrang. Dengan begitu, mendongeng tak hanya sekedar mendongeng, namun sarana untuk meningkatkan pemahamanan tentang sejarah dan budaya Indonesia.

4. Mengajarkan nilai moral pada anak

Cerita yang baik adalah cerita yang mengandung pesan di dalamnya. Dalam bercerita jangan lupa untuk memilih sebuah cerita yang dapat diambil nilai kebaikan di dalamnya. Tak hanya nilai moral saja, namun banyak nilai-nilai kebaikan lainnya yang dapat kita ajarkan pada anak melalui sebuah cerita. Contohnya ketika mendongengkan cerita tentang ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’, ajarkan pada anak tentang pesan yang tersirat di dalam cerita tersebut bahwa siapa yang berbuat baik dan tulus akan mendapatkan balasan yang baik pula.

5. Sarana belajar yang menyenangkan

Salah satu cara belajar yang mengasyikan bagi anak adalah melalui mendengarkan dongeng. Dengan mendengarkan dongeng anak akan belajar banyak hal, mereka belajar bahasa, belajar budaya, belajar memahami cerita, serta belajar menemukan pesan moral dalam cerita. Bagaimana caranya agar anak belajar sambil mendengarkan cerita? Itulah tugas penting untuk si pendongeng agar membuat cerita yang menarik dan membuat anak penasaran untuk bertanya. Jika disampaikan dengan cara yang tidak menarik, anak akan kehilangan  minat untuk mendengarkan dan bertanya. Di tengah-tengah mendongeng, kita juga bisa menyelipkan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk mengetahui seberapa jauh anak memahami cerita. Seorang ahli bahkan menyarankan agar anak didorong untuk membuat cerita pendek dengan karakter-karakter yang telah diceritakan.

Ternyata mendongeng untuk anak memiliki banyak manfaat. Daripada anak dibiarkan berjam-jam bersama gadget dan televisi, lebih baik luangkan sedikit waktu Anda untuk membacakan dongeng pada anak. Hal inilah yang sering orang tua dan para guru lupakan, bahwa mendongeng banyak memberikan manfaat untuk anak maupun anak didik mereka. Oleh karena itu, mulai sekarang metode mendongeng dapat dijadikan salah satu alternatif untuk para orang tua dan guru dalam membantu anak-anak belajar.


Sumber: https://timesofindia.indiatimes.com/life-style/relationships/parenting/benefits-of-story-telling-to-children/articleshow/38788664.cms

Ditulis oleh: Evita Menur Fauziah (akun Storial: evitamf)

[Friting Tips] Antara Menulis dan Melawan Waktu

Jika kamu adalah seorang peserta #BNNS2017 lalu terbangun dan mendapati kekuatan untuk mengendalikan waktu, apa yang akan kamu lakukan? Menahan bulan November sampai novelmu selesai?

Banyak kisah-kisah penulis yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan draf pertama novelnya, lalu datang gagasan-gagasan untuk membuat novel dalam waktu satu bulan. Mungkin terdengar mengerikan dan mustahil, namun, tidak ada yang tidak mungkin.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang dapat menyelesaikan novelnya dalam waktu singkat, sementara ada seseorang yang masih berkutat di novel yang sama selama bertahun-tahun. Selain faktor alamiah yang dimiliki tiap orang, ada faktor-faktor lain seperti kedisplinan yang bisa diasah dan menjadi modalmu untuk menyelesaikan sebuah novel dalam waktu yang minim. Untuk itu, mari kita gali faktor-faktor apa saja yang membuat seorang penulis dapat menaklukkan tantangan menulis novel dalam waktu 30 hari.

1. Membuat Kerangka

Faktor yang satu ini sudah sangat konvensional dan hampir terus menjadi salah satu tips paling dianjurkan ketika ada seseorang yang bertanya ‘bagaimana memulai membuat sebuah novel?’.

Kerangka bisa diibaratkan sebagai organ dan sel-sel cerita yang membuat satu komponen hidup. Tanpa, kerangka, sebuah cerita mungkin mudah dimulai, namun akan menemukan kesulitan besar saat hendak mengakhirinya.

Dengan bantuan kerangka, menulis novel dalam waktu 30 hari akan menjadi lebih tertolong karena kamu sudah menyiapkan sel-sel cerita dari awal sampai akhir, dan kita tinggal membuatnya ‘berisi’ dan ‘penuh’.

“Nulis tanpa kerangka itu kayak ngetrip tanpa tujuan mau ngapain atau mau mencapai apa.”  – Triskaidekaman

2. Memaksimalkan Struktur 3 Babak

Struktur 3 babak adalah teori yang sudah dipakai dalam berbagai workshop. Namun masih banyak yang tidak disiplin ketika mengaplikasikannya dalam tulisan. Struktur 3 babak, secara teori adalah; Awal-Tengah-Akhir, di sinilah seorang penulis sudah harus menyiapkan apa yang akan terjadi di ketiga babak tersebut, dengan begitu adegan-adegan krusial yang hendak ditulis berada di babak yang tepat.

Singkatnya, kamu harus memikirkan awal, tengah, akhir sebuah cerita dengan gambaran yang jelas, dengan patokan tersebut kamu bisa merangkai adegan-adegan apa yang bisa membawa cerita tersebut menginjak babaknya masing-masing. Jika ada perubahan di tengah cerita, atau ingin mengubah ending ketika cerita nyaris selesai, pastikan ada motivasi dan alasan yang jelas mengapa pilihan keduamu bisa menjadi lebih baik dari pilihan pertama.

3. Menulis di Mana Saja dan Kapan Saja

Ini adalah salah satu faktor penting untuk menaklukkan novel sebanyak 50.000 kata dalam waktu 30 hari. Kamu tidak bisa menunggu sampai malam untuk mendapat inspirasi, atau berkhayal berjam-jam untuk membuat plot cerita. Pastikan tanganmu siap mencatat di mana saja, dan setiap ada ide atau adegan yang hinggap di kepala, catat semua detail tersebut. Tidak perlu langsung merangkai narasinya atau dialognya, kamu cukup gambarkan apa yang sebenarnya terjadi dalam adegan tersebut, dan apa yang hendak kamu sampaikan.

4. Ciptakan Suasana yang Menyenangkan

Menulis dalam waktu 30 hari sudah pasti akan menguras energi, belum lagi urusan-urusan duniawi yang senantiasa merecoki. Untuk itu, anggaplah menulis sama pentingnya seperti bernapas, ciptakan suasana yang menyenangkan dan dapat meningkatkan gairah menulismu, jangan gairah yang lain.

Salah satu cara menciptakan suasana yang menyenangkan adalah menyusun Moodboard; mengumpulkan foto-foto tertentu seperti lokasi tujuan wisatamu atau tempat yang menyimpan banyak kenangan, atau kamu juga bisa menyusun musik-musik tertentu, menciptakan playlist khusus, agar kamu terus merasa nyaman dengan situasi dan bisa fokus dalam mengembangkan cerita.

Nah, empat faktor di atas sangat menentukan perkembangan tulisan kamu dalam waktu satu bulan. Dalam Bulan Nulis Novel Storial kali ini, kamu akan ditantang menjadi penulis yang disiplin, fokus, sekaligus cepat. Eits, jangan lupa untuk sering-sering cek kalender, ya!

[Friting Tips] Antara Menghitung Kata dan Mengirim Naskah

Biasanya, menjelang akhir tahun selalu banyak lomba menulis dan pembukaan pengiriman naskah novel. Pasti kalian para penulis sudah bersiap-siap mengirimkan naskah masing-masing, bukan? Namun, apakah kalian bingung berapa sih sebetulnya batas jumlah kata yang masih termasuk cerpen dan berapa yang sudah dikategorikan novela? Atau masih bingung ketika panitia lomba yang menyebut syarat “panjang naskah maksimal 9.000 karakter” atau “panjang naskah antara 20-30 halaman dengan jenis fon Times New Roman, ukuran 12, margin standar”?

Yuk, kita kenali seluk beluk perhitungan jumlah kata yang dimaksud; supaya enggak bingung lagi!

Microsoft Word dan Jumlah Kata

Di dunia digital ada banyak macam aplikasi pengolah kata (word processor), alias aplikasi yang keahlian utamanya adalah mengelola kata-kata dan biasanya digunakan untuk menulis. Meskipun sudah ada TextEdit, Pages (di MacOS), Google Docs, Kingsoft (di Windows), dan masih banyak lagi; yang paling terkenal tentu masih sang legenda yaitu Microsoft Word.

Saat ini umumnya pengguna Microsoft Word masih memakai versi 2007 atau 2010. Ada sebagian kecil yang masih memakai Microsoft Word versi 2003. Sebagian lainnya malah sudah beralih ke versi lebih baru. Yang pasti, semua jenis Microsoft Word menyediakan modul perhitungan jumlah kata. Sejak Microsoft Word 2007 modul ini berposisi di kiri bawah layar. Modul ini sangat penting buat kalian sebagai para penulis, karena inilah tempat di mana statistik tulisan kalian terekam dengan akurat dan terus diperbarui sewaktu kalian melanjutkan tulisan.

Untuk lebih mengenal apa saja struktur statistik tulisan kalian di Microsoft Word, mari kita bahas apa saja komponen yang ada dalam kotak informasi yang tersedia dan artinya masing-masing.

Jumlah halaman (pages)

Angka ini menunjukkan ada berapa halaman dalam naskahmu, dari awal sampai akhir. Biasanya syarat ini sangat-sangat diperhatikan untuk mengirimkan naskah lomba ke panitia, ataupun naskah novel ke penerbit; karena mereka kerap mensyaratkan jumlah halaman dalam penyaringan naskah. Perhatikan benar soal jumlah halaman ini. Ada kalanya disebutkan syarat bahwa jumlah halaman harus sudah memperhitungkan data pribadi peserta, atau lembar sinopsis, atau apa saja. Jadi, jangan sampai salah.

Jumlah kata (words)

Faktor lain yang cukup sering menjadi syarat panjang suatu naskah adalah jumlah kata. Membahas soal jumlah kata, tentu tak lepas dari kategori naskah yang sedang kamu garap. Science Fiction Writers of America (SFWA) mengategorikan panjang naskah berbahasa Inggris sebagai berikut:

  • Novel: cerita yang memiliki panjang lebih dari 40.000 kata.
  • Novella: cerita yang memiliki panjang 17.500 sampai dengan 40.000 kata.
  • Novelet: cerita yang memiliki panjang 7.500 sampai dengan 17.500 kata.
  • Cerita pendek (cerpen): cerita yang memiliki panjang tidak sampai 7.500 kata.

Untuk bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mendefinisikan berbeda. Kamus yang jadi baku emas para penulis ini tidak membatasi berapa jumlah kata untuk novel, novella, dan novelet. Malah novella dan novelet dianggap sebagai istilah yang bersinonim. Hanya disebutkan bahwa novel lebih panjang dan kompleks daripada novella dan novelet. Sementara itu, KBBI daring membatasi cerpen di angka 10.000 kata. Batasan inilah yang sekarang lebih banyak dipakai di kalangan penulis.

Belakangan, muncul juga fenomena flash fiction (fiksi kilat), atau cerita superpendek yang jauh lebih ringkas dan sederhana daripada cerpen biasa. Definisi flash fiction ini dibatasi di angka maksimal 1.000-2.000 kata. Ada juga istilah fiksimini yang populer di Twitter, dengan panjang teks (termasuk judul) tidak lebih dari 140 karakter (termasuk spasi). Rasanya, dengan adanya format-format anyar ini, definisi panjang teks antara tipe teks yang satu dengan yang lain pun dituntut untuk bisa elastis sesuai perkembangan dunia literasi Indonesia.

Jumlah karakter tanpa spasi (Characters without spaces) dan Jumlah karakter dengan spasi (Characters with spaces)

Di luar ketentuan pengiriman ke media cetak, jumlah karakter ini jarang dijadikan persyaratan atas sebuah naskah. Jumlah karakter yang disyaratkan biasanya memperhitungkan spasi. Biasanya media cetak membatasi tulisan yang masuk hendaknya terdiri atas maksimal 9.000 karakter (kanal fiksi Detikcom) hingga 10.000 karakter (harian Kompas).

Tips dan Trik tentang Jumlah Kata

  • Lomba novel umumnya mensyaratkan minimal 40.000 kata dan maksimal 80.000 hingga 100.000 kata.
  • Submisi novel biasanya mensyaratkan minimal 20.000 kata dan maksimal 80.000 kata. Penulis debutan sebaiknya membatasi naskahnya agar tidak melebihi 70.000-80.000 kata.
  • Lomba cerita pendek umumnya mensyaratkan minimal 500 kata dan maksimal 10.000 kata.
  • Rumus perhitungan jumlah kata dengan kondisi naskah menggunakan ukuran kertas A4, Times New Roman 12, spasi 1.5, margin standar 4-4-3-3.

o   Spasi 1: jumlah kata = jumlah halaman dikali 300.

o   Spasi 1.5: jumlah kata = jumlah halaman dikali 250.

o   Spasi 2: jumlah kata = jumlah halaman dikali 175.

o   Halaman cut (pembuka bab) = biasanya memuat 125-150 kata.

  • Jumlah halaman ketika naskahmu dicetak menjadi novel berukuran standar = jumlah kata yang tampil di modul Microsoft Word dibagi 200.
  • Hindari menggunakan fon Comic Sans MS dan fon-fon artistik yang sulit dibaca.

Bagaimana dengan naskah Storial?

Salah satu keunggulan Storial adalah adanya fasilitas perhitungan jumlah menit baca per bab dan total menit baca per naskah. Selain untuk kepentingan pembaca, ternyata fasilitas ini juga berguna, lo, buat penulis! Apa saja gunanya?

Sebagai acuan, satuan 1 menit di Storial setara dengan 200 kata. Jadi, ketika kalian mendapati satu bab yang mencantumkan angka 3 menit, berarti bab tersebut terdiri atas antara 401-600 kata. Kalau angkanya 4 menit, jumlah kata di bab tersebut ada 601-800. Bagaimana kalau total menit baca naskah 224 menit? Bisa dihitung: antara 44.600 sampai 44.800 kata.

Nah, total menit baca ini bisa kamu gunakan untuk memperkirakan berapa panjang naskahmu. Mungkin kamu perlu menambah atau menguranginya sesuai dengan ketentuan penerbit atau panitia lomba. Misalkan, panitia meminta batas 2.000 kata. Berarti, panjang tulisanmu tidak boleh lebih dari 10 menit.

Tahukah Kamu?

  • Novelis yang juga penulis Storial, Erlin Natawiria, pernah melakukan survei singkat di akun Twitter-nya tentang berapa panjang per bab novel di Storial yang nyaman dibaca. Hasilnya adalah 5-7 menit (800-1400 kata).
  • Sebagian besar lomba menulis di Storial memberikan batas maksimal panjang tulisan 1.000 kata, yang setara dengan lama baca 5 menit.

Nah, bagaimana? Sudah lebih paham dong, tentang trik-trik menghitung jumlah kata ini? Yuk, sambil periksa lagi naskahnya masing-masing sebelum dikirimkan!

#FritingTips ditulis oleh: Henny (@triskaidekaman)

Infografis #FritigTips didesain oleh: Shella Tri Lestrai (@shellalatria24)

[Friting Tips] Siapa Takut Menulis Cerita Horror?

 “We all float down here!” ― Stephen King, It 

Cerita horor tidak pernah lekang oleh waktu dan zaman. Meskipun waktu dan zaman senantiasa berubah, cerita horor selalu menjadi primadona di dalam masyarakat dan memiliki penggemar garis kerasnya sendiri. Beragam cerita horor tersaji dalam berbagai alur cerita, mulai dari kerasukan arwah hingga diburu oleh para arwah.

Pada masa kini, berbagai macam cerita horor yang telah ada menghadirkan kesan menyeramkan lewat caranya masing-masing. Beberapa cerita horor ditulis dari pengalaman nyata seseorang dan beberapa lainnya hanya rekaan belaka. Namun tidak ada yang membedakan dalam penulisan keduanya, dikarenakan tetap membutuhkan proses untuk menghasilkan cerita berkualitas yang mampu menakuti pembacanya.

Dalam upaya menghadirkan ketegangan dan ketakutan dalam benak pembaca, penulis memerlukan kecermatan dalam menghadirkan ide cerita, jalan cerita, dan suasana yang mendukung.

Oleh karena itu, untuk kamu yang tertarik untuk membuat cerita horor, ada beberapa tips-tips dasar untuk mulai menulis cerita horor.

1. Brainstorming 

Dalam tahap ini penulis memerlukan riset dalam cerita. Hal ini diperlukan agar penulis mampu menentukan bagaimana bentuk cerita, apakah itu diangkat dari kisah nyata atau karangan. Penulis dalam tahap ini perlu menentukan bagaimana cerita akan berjalan dan termasuk dalam kategori cerita horor apa. Jika cerita horor berdasar dari kisah nyata maka perlu melakukan wawancara ke beberapa pelaku atau saksi peristiwa untuk mendapatkan data, yang berguna untuk dikembangkan kedalam cerita. Selain itu penulis memerlukan membaca cerita horor lain untuk menambah refrensi dalam menulis, sehingga memudahkan apa saja yang diperlukan dalam mengembangkan cerita horor.

Mulailah dengan pengalaman pribadi atau cerita horror yang ada disekitar daerahmu jika mengalami kesulitan dalam membuat cerita horor. Selain orisinal, cerita horor berdasar pengalaman pribadi dan lokal mampu menarik pembaca dikarenakan cerita yang serupa belum pernah ada. Selain itu mampu menambah cerita horor dengan nuansa kearifan lokal. 

2. Menentukan Tema dan Ide Cerita 

Penulis perlu menentukan tema besar sebelum menulis cerita agar lebih memudahkan penulisan selain itu sebagai gambaran besar cerita horor tersebut. Selain itu penulis perlu menulis bagaimana garis besar berjalannya cerita agar lebih mudah dalam mengembangkan cerita. Selain hal-hal tersebut, menentukan tema dan ide cerita memudahkan penulis agar tidak keluar jalur penulisan yang menyebabkan pembaca kebingungan.

Jika cerita berdasar dari pengalaman pribadi maupun cerita horor daerah, maka yang perlu dilakukan adalah membuat tema dan ide cerita yang dapat dipahami secara universal karena perbedaan persepsi dari satu orang dengan orang lain pasti terjadi. Jika diperlukan penjelasan suatu makna maka penulis perlu menjelaskan agar tidak terjadi bias dalam benak pembaca.

3. Pembuatan Karakter

Pada tahap ini, penulis membuat karakter yang akan mewarnai cerita yang dibuat. Karakter yang dibuat harus memiliki peranannya untuk cerita, apakah dia menjadi tokoh utama atau sekedar menjadi pelengkap pada cerita. Karakter perlu dibuat agar dapat dikembangkan dan sesuai dengan ide cerita yang diinginkan.

4. Pembuatan Alur Cerita 

Setelah membuat ide cerita dan karakter, penulis pada tahap ini melakukan penulisan jalan cerita secara detail pada cerita. Pengembangan dari ide cerita pada tahap ini dan memasukkan karakter sesuai alur cerita perlu dilakukan agar suatu cerita horor semakin hidup. Penulis jangan lupa untuk menambahkan latar belakang cerita dan
suasana kejadian pada cerita agar suatu cerita horor dapat mengena dalam benak pembaca. Alur cerita juga perlu ditentukan, apakah cerita tersebut memiliki alur maju atau mundur atau campuran keduanya karena akan berpengaruh pada jalan cerita. Selain itu jangan lupa memikirkan bagimana klimaks pada cerita dan ending dari suatu cerita.

5. Mengembangkan Ide

Setelah sebuah cerita telah dibuat maka cara selanjutnya adalah mengembangkan ide dari cerita tersebut. Penulis perlu memahami dan mengembangkan cerita yang dibuat agar semakin menyeramkan dan menakutkan dalam benak pembaca. Usahakan dalam menulis cerita horor, perlu adanya penambahan suasana cerita agar semakin menambah kesan menyeramkan pada cerita horor. Lalu pengembangan karakter perlu dilakukan, apakah karakter itu perlu ditambah perannya ataupun dibuat lebih sadis agar nuanasa horor dapat terasa pada benak pembaca.

Bila cerita horor mengambil pengalaman pribadi maupun cerita horor daerah maka pada tahap ini, karakter yang sudah ada lebih diperdalam agar menambah kekuatan dari cerita.

6. Baca Ulang 

Jangan lupa setelah selesai menulis cerita horor, membaca ulang cerita agar kita mengetahui bagaimana cerita tersebut dan merasakannya. Selain membaca sendiri, kita perlu menunjukkannya kepada orang lain sesuai untuk melihat reaksi seseorang dalam menanggapi cerita horor yang kita buat.

 7. Revisi 

Selesai semua dilakukan, penulis memerlukan revisi guna menempatkan atau merubah beberapa bagian yang perlu dikurangi atau ditambah berdasar keperluan dalam sebuah cerita horor. Revisi di sini berdasar pemikiran sendiri maupun tanggapan orang lain terhadap cerita horor yang sebelumnya dibaca orang lain. Revisi sendiri sangat penting dalam penulisan cerita horor karena pada fase ini akan menentukan bagaimana hasil dari cerita horor yang dibuat.

Apakah kamu tertarik membuat cerita horor? Jika iya, segera lakukan ya! Jangan mudah menyerah dan selalu mencoba, karena proses tidak pernah mengkhianati usaha. Jangan lupa untuk selalu berkarya dari hati. Semangat!

#FritingTips ditulis oleh: Gregorius Satrio Adi (@gregoriussatrioadi)

Desain infografis #FritingTips oleh: Shella Tria Lestari (@shellalatria24)


Sumber:

[Friting Tips] Siapa Takut Menulis Cerita Horror?

 “We all float down here!” ― Stephen King, It 

Cerita horor tidak pernah lekang oleh waktu dan zaman. Meskipun waktu dan zaman senantiasa berubah, cerita horor selalu menjadi primadona di dalam masyarakat dan memiliki penggemar garis kerasnya sendiri. Beragam cerita horor tersaji dalam berbagai alur cerita, mulai dari kerasukan arwah hingga diburu oleh para arwah.

Pada masa kini, berbagai macam cerita horor yang telah ada menghadirkan kesan menyeramkan lewat caranya masing-masing. Beberapa cerita horor ditulis dari pengalaman nyata seseorang dan beberapa lainnya hanya rekaan belaka. Namun tidak ada yang membedakan dalam penulisan keduanya, dikarenakan tetap membutuhkan proses untuk menghasilkan cerita berkualitas yang mampu menakuti pembacanya.

Dalam upaya menghadirkan ketegangan dan ketakutan dalam benak pembaca, penulis memerlukan kecermatan dalam menghadirkan ide cerita, jalan cerita, dan suasana yang mendukung.

Oleh karena itu, untuk kamu yang tertarik untuk membuat cerita horor, ada beberapa tips-tips dasar untuk mulai menulis cerita horor.

1. Brainstorming 

Dalam tahap ini penulis memerlukan riset dalam cerita. Hal ini diperlukan agar penulis mampu menentukan bagaimana bentuk cerita, apakah itu diangkat dari kisah nyata atau karangan. Penulis dalam tahap ini perlu menentukan bagaimana cerita akan berjalan dan termasuk dalam kategori cerita horor apa. Jika cerita horor berdasar dari kisah nyata maka perlu melakukan wawancara ke beberapa pelaku atau saksi peristiwa untuk mendapatkan data, yang berguna untuk dikembangkan kedalam cerita. Selain itu penulis memerlukan membaca cerita horor lain untuk menambah refrensi dalam menulis, sehingga memudahkan apa saja yang diperlukan dalam mengembangkan cerita horor.

Mulailah dengan pengalaman pribadi atau cerita horror yang ada disekitar daerahmu jika mengalami kesulitan dalam membuat cerita horor. Selain orisinal, cerita horor berdasar pengalaman pribadi dan lokal mampu menarik pembaca dikarenakan cerita yang serupa belum pernah ada. Selain itu mampu menambah cerita horor dengan nuansa kearifan lokal. 

2. Menentukan Tema dan Ide Cerita 

Penulis perlu menentukan tema besar sebelum menulis cerita agar lebih memudahkan penulisan selain itu sebagai gambaran besar cerita horor tersebut. Selain itu penulis perlu menulis bagaimana garis besar berjalannya cerita agar lebih mudah dalam mengembangkan cerita. Selain hal-hal tersebut, menentukan tema dan ide cerita memudahkan penulis agar tidak keluar jalur penulisan yang menyebabkan pembaca kebingungan.

Jika cerita berdasar dari pengalaman pribadi maupun cerita horor daerah, maka yang perlu dilakukan adalah membuat tema dan ide cerita yang dapat dipahami secara universal karena perbedaan persepsi dari satu orang dengan orang lain pasti terjadi. Jika diperlukan penjelasan suatu makna maka penulis perlu menjelaskan agar tidak terjadi bias dalam benak pembaca.

3. Pembuatan Karakter

Pada tahap ini, penulis membuat karakter yang akan mewarnai cerita yang dibuat. Karakter yang dibuat harus memiliki peranannya untuk cerita, apakah dia menjadi tokoh utama atau sekedar menjadi pelengkap pada cerita. Karakter perlu dibuat agar dapat dikembangkan dan sesuai dengan ide cerita yang diinginkan.

4. Pembuatan Alur Cerita 

Setelah membuat ide cerita dan karakter, penulis pada tahap ini melakukan penulisan jalan cerita secara detail pada cerita. Pengembangan dari ide cerita pada tahap ini dan memasukkan karakter sesuai alur cerita perlu dilakukan agar suatu cerita horor semakin hidup. Penulis jangan lupa untuk menambahkan latar belakang cerita dan
suasana kejadian pada cerita agar suatu cerita horor dapat mengena dalam benak pembaca. Alur cerita juga perlu ditentukan, apakah cerita tersebut memiliki alur maju atau mundur atau campuran keduanya karena akan berpengaruh pada jalan cerita. Selain itu jangan lupa memikirkan bagimana klimaks pada cerita dan ending dari suatu cerita.

5. Mengembangkan Ide

Setelah sebuah cerita telah dibuat maka cara selanjutnya adalah mengembangkan ide dari cerita tersebut. Penulis perlu memahami dan mengembangkan cerita yang dibuat agar semakin menyeramkan dan menakutkan dalam benak pembaca. Usahakan dalam menulis cerita horor, perlu adanya penambahan suasana cerita agar semakin menambah kesan menyeramkan pada cerita horor. Lalu pengembangan karakter perlu dilakukan, apakah karakter itu perlu ditambah perannya ataupun dibuat lebih sadis agar nuanasa horor dapat terasa pada benak pembaca.

Bila cerita horor mengambil pengalaman pribadi maupun cerita horor daerah maka pada tahap ini, karakter yang sudah ada lebih diperdalam agar menambah kekuatan dari cerita.

6. Baca Ulang 

Jangan lupa setelah selesai menulis cerita horor, membaca ulang cerita agar kita mengetahui bagaimana cerita tersebut dan merasakannya. Selain membaca sendiri, kita perlu menunjukkannya kepada orang lain sesuai untuk melihat reaksi seseorang dalam menanggapi cerita horor yang kita buat.

 7. Revisi 

Selesai semua dilakukan, penulis memerlukan revisi guna menempatkan atau merubah beberapa bagian yang perlu dikurangi atau ditambah berdasar keperluan dalam sebuah cerita horor. Revisi di sini berdasar pemikiran sendiri maupun tanggapan orang lain terhadap cerita horor yang sebelumnya dibaca orang lain. Revisi sendiri sangat penting dalam penulisan cerita horor karena pada fase ini akan menentukan bagaimana hasil dari cerita horor yang dibuat.

Apakah kamu tertarik membuat cerita horor? Jika iya, segera lakukan ya! Jangan mudah menyerah dan selalu mencoba, karena proses tidak pernah mengkhianati usaha. Jangan lupa untuk selalu berkarya dari hati. Semangat!

#FritingTips ditulis oleh: Gregorius Satrio Adi (@gregoriussatrioadi)

Desain infografis #FritingTips oleh: Shella Tria Lestari (@shellalatria24)


Sumber: