Hello Rain, Fiksi Digital Kekinian

Sejak membaca kata pertama, saya langsung mengetahui bahwa Hello Rain adalah cerita yang isinya dipengaruhi oleh penggunaan teknologi digital dan budaya media sosial. Kata itu adalah #NowPlaying, yang kemudian dilanjutkan dengan salinan lirik lagu November Rain—pas dengan judul cerita yang disematkan oleh Nika Rakasiwi—sang penulis. Minggu ini, cerita berjudul Hello Rain sedang diangkat oleh Storial.co, dan bisa dibaca dengan mengeklik tautan ini: bit.ly/hellorainn3.

Jujur saja, awalnya saya agak skeptis dengan tulisan-tulisan yang mencoba mengadaptasi model-situasi dunia digital ke dalam bacaan fiksi, namun ternyata Nika cukup berhasil mengubah pikiran saya itu, dan menunjukkan bahwa model-model percakapan lewat line-messenger juga menarik untuk dinikmati dalam bentuk buku digital di Storial.co. Kita akan berkali-kali mendapati percakapan-percakapan daring ini muncul, baik sebagai percakapan dua orang, ataupun multiperson chat. Unik dan bisa memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Saya jadi merasa sedang berada dalam percakapan daring sebagai pembaca pasif (anda juga sering melakukan hal seperti ini, ‘kan?).

Apa yang sebenarnya membuat percakapan daring itu tidak terasa canggung? Hal pertama adalah tema cerita yang diangkat. Hello Rain mengangkat kisah perebutan cinta di kalangan anak SMA, tempat budaya digital ini berkembang pesat. Kedua, karena Nika menggunakan tools penulisan sederhana yang membuat kita—pembaca—tidak tersesat; sesederhana: memiringkan, atau menebalkan huruf; menggunakan tanda titik dua; dan sebagainya. Buat saya, hal ini jadi membuktikan bahwa Nika adalah penulis yang memiliki sensitivitas pembacaan dalam proses penulisan; pada setiap bagian, Nika meninggalkan clue-clue yang memudahkan pembaca untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Ketiga, isi percakapan daring yang ditulis Nika dalam cerita Hello Rain sangat wajar terjadi, pun efektif untuk menggerakkan kejadian dalam plot.

Kejadian yang diangkat oleh Nika melalui buku ini cukup sederhana. Intinya: kembalinya sang mantan setelah protagonis—Rain sudah memiliki pacar baru—Dean. Konflik-konflik yang terjadi sungguh khas Anak SMA; mengalir lurus dalam dua setting utama, Sekolah dan setting digital (line-messenger). Untuk tiap setting yang sedang berlangsung, Nika mengubah stilistika yang digunakan.

Stilistika kekinian inilah yang menjadi keunikan cerita Hello Rain. Secara umum, gaya penulisan atau stilistika yang Nika gunakan diwarnai dengan rangkaian kalimat-kalimat pendek. Lagi-lagi, stilistika ini membantu pembaca untuk memahami pola pikir anak SMA yang memang jarang mau pusing dan ingin praktis saja; gaya ini kompak dengan tema dan atmosfer yang hendak disampaikan kepada pembaca.

Lewat tokoh-tokoh berikut plot-nya, cerita ini akan membawa kita pada kehidupan Anak SMA yang khas, yaitu kehidupan berkelompok dalam peer group. Rain—sang protagonis juga tidak ketinggalan, bersama teman satu gank-nya kerap membicarakan berbagai isu di sekolah, termasuk ketika mantan pacar Rain menjadi ketua OSIS baru. Gaya-gaya pacaran anak SMA yang butuh dukungan dari teman se-gank juga bisa digambarkan dengan baik.

Hal yang patut dipuji dari cerita ini adalah model dialog yang disusun. Seingat saya, Nika hampir tidak pernah memberikan kata-kata penanda ekspresi. Tiap dialog yang berbalas-balas itu hanya ditulis secara berurutan tanpa menggunakan ajektifa. Toh, kita bisa membayangkan bagaimana ekspresi dan situasi ketika dialog itu berlangsung. Butuh keahlian untuk membuat dialog semacam ini. Dan, saya menyukai cara ini karena bisa memberikan ruang imajinasi tentang situasi yang terjadi tanpa mendikte pembaca.

Cerita 12 ribu kata ini mengunakan ruang tulisnya dengan cara yang efektif; konflik yang ditampilkan tereksekusi dengan baik tanpa menjadi berlebihan. Termasuk, ketika terjadi tarik-menarik dalam diri protagonis. Well, saya akan menulis satu hal klise—yang dalam cerita ini barhasil disajikan secara menarik dan bisa membuat pembaca penasaran: Siapa yang akan Rain pilih? Mantan pacarnya? Atau, pacarnya saat ini? Silakan dibaca saja.

Memang, masih banyak aspek yang bisa diperbaiki dan dikembangkan dari gaya penulisan ini dan Nika Rakasiwi adalah salah satu penulis yang memiliki potensi besar untuk melakukannya.

Wisnu S. Adji

Senior Editor Storial.co

Editorial Review: TOSKA karya Erlin Natawiria

Menulis itu serupa sekali dengan memasak. Pembaca menikmati laiknya menyantap masakan yang diramu oleh chef atau tukang masak. Kalau diserupakan dengan dunia kuliner, Toska karya Erlin Natawiria ini mengingatkan saya pada Nigella Laswon dengan comfort-food-nya. Walaupun saya belum pernah secara langsung menyantap hidangan Lawson, namun kalau saya merasa membutuhkan comfort-novel, Toska adalah salah satu yang bisa dimasukkan ke dalam daftar pilihan. Continue reading “Editorial Review: TOSKA karya Erlin Natawiria”