6 Langkah Mudah Menyelesaikan Novelmu dalam Sebulan

Sebelum memulai menulis, pertama-tama, matikan editor dalam diri kamu dan biarkan kamu menulis dengan mengalir tanpa beban. Jangan dulu pikirkan apakah ceritamu akan bagus atau tidak, karena sudah jelas draf pertama novelmu akan buruk. Itu tidak apa-apa.

Akan tetapi, kamu bisa meminimalisasi hasil akhir yang buruk itu dengan membuat rancangan novel.

1. Ubah ide cerita menjadi premis

Kamu bisa memulai dengan mencari sesuatu yang paling membuatmu gelisah. Jika kamu menulis untuk mengikuti kompetisi menulis #teenlit #HappyGirl, kamu bisa mengingat-ingat apa hal yang membuatmu paling takut, cemas, terganggu, atau gelisah saat kamu SMA.

Contohnya: apakah kamu akan lulus UN, atau apakah punya pacar akan membuatmu tidak fokus belajar, atau aku kok sejak lahir jomlo melulu, atau aku kok dibanding-bandingin terus sama saudara aku yang nilainya selalu bagus, atau kenapa sih aku dibully sama temanku? Banyak hal yang bisa kamu pikirkan untuk calon novel kamu.

Berikutnya, ubah ide itu menjadi premis. Sederhananya, premis adalah intisari novelmu hanya dalam satu kalimat. Rumusnya: Premis = tokoh utama + keinginan/tujuan + rintangan.

Contoh: Dua (Finch dan Violet) remaja berusaha bertahan hidup meskipun didera masalah psikologis (All The Bright Places).

2. Buat character’s chart

Kenali tokoh-tokohmu, siapa mereka, dan buat pembaca bersimpati—hingga berempati pada tokoh-tokohmu. Karakter yang tidak dipedulikan pembacanya hanya akan membuat mereka ditinggalkan.

Karakter yang believable adalah tokoh yang bulat atau tiga dimensi. Ketiga dimensi tersebut adalah dimensi fisiologis, sosiologis, serta psikologis.

Contoh:

Karakter: Finch (dari All the Bright Places)

Fisiologis: siswa SMA usia 17-18 tahun, tinggi, tampan,

Sosiologis: dari keluarga yang terpecah, Ibu dan ayahnya berpisah, si ayah kini tinggal bersama perempuan lain. Finch tinggal bersama Ibu dan kedua kakaknya yang tidak tahu kalau Finch punya masalah psikologis.

Psikologis: tampak bersemangat hidup tetapi sesungguhnya suicidal, dianggap aneh, cerdas, spontan.

Berikutnya, buatkan juga untuk Violet. Jika kita sudah punya karakterisasi untuk tokoh-tokoh utamanya, tambahkan tokoh-tokoh pendukung dan apa fungsi mereka untuk plot.

3. Menyusun outline

Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk menyusun outline. Paling sederhana, kamu bisa menggunakan metode 3-act-structure yang terdiri atas awal, tengah, akhir. Bagian awal biasanya berisi perkenalan yang memperlihatkan siapa si tokoh dan ancang-ancang konflik. Pembaca harus tahu sejak awal apa tujuan si tokoh dalam novel yang sedang dibacanya, dan proses membaca itu adalah untuk mencari tahu apakah usaha si tokoh (bagian tengah) dalam mendapatkan tujuannya berhasil atau tidak (akhir atau resolusi).

Jika kita sudah tahu apa bagian awal, tengah, dan akhir, kita bisa langsung menulis. Jika kamu kurang percaya diri dengan informasi seminim itu, kamu bisa melengkapinya dengan membuat rancangan adegan per per bab.

Contoh:

Awal: Finch dan Violet bertemu saat sedang berada di menara sekolah, sama-sama berniat untuk meloncat. Finch selalu memikirkan hal itu dan Violet belum bisa lepas dari rasa duka akibat kematian kakaknya. Mereka tidak jadi melakukannya dan sama-sama menutupi apa yang sedang mereka lakukan di menara. Mereka mulai berteman karena menyimpan rahasia yang sama.

Tengah: Finch dan Violet mengerjakan tugas Geografi bersama-sama, dan mulai saling mengenal. Meskipun Finch mulai bisa merasa bahagia dengan kehadiran Violet, pemikiran untuk mengakhiri hidup tidak pernah hilang dari kepalanya. Latar belakang Finch dan Violet mulai terungkap.

Akhir: Apakah Violet berhasil melepaskan diri dari rasa duka dan apakah Finch berhasil mengatasi pikiran-pikiran buruknya?

Kamu juga bisa menggunakan metode The Hero’s Journey. Metode ini digunakan hampir di semua film favorit yang box office. Namun, itu nanti saja dibahasnya.

4. Pilih sudut pandang

Pemilihan sudut pandang akan memengaruhi bagaimana cerita berjalan. Saat menulis bab 1, kamu bisa mencoba berbagai macam sudut pandang untuk melihat mana yang paling cocok untuk plot yang sedang kamu tulis. Saranku sih, untuk novel remaja dan novel pertama, sebaiknya gunakan POV 3 terbatas. POV ini mirip POV 1, tetapi membuka ruang untuk menceritakan adegan selain dari tokoh utama.

5. Mulai menulis

Menulis setiap hari. Menulis dengan disiplin. Menulis buruk. Menulis paling tidak 1500 kata sehari.

6. Setelah novel selesai

Lakukan swasunting atau self-editing. Rapikan naskahmu sebelum lomba berakhir. Buang bagian yang tidak berpengaruh pada plot. Konsistenkan suara (apakah suara penulis bocor menjadi suara si tokoh?), baca ulang untuk melihat apakah ada plot atau logika bolong, perbaiki salah tik, perbaiki struktur kalimat yang berantakan. Kamu bisa menggunakan ceklis ini:

  • Saat membaca ulang, apakah kamu sebagai pembaca merasa emosimu tersentuh dan dapat mengidentifikasi diri dengan si tokoh?
  • Apakah semua konflik diselesaikan dengan baik hingga terasa lengkap dan puas saat selesai membacanya? Apakah konfliknya terasa statis ataukah melompat-lompat tidak keruan? Konflik yang baik adalah yang bisa menaikturunkan perasaan pembaca.
  • Apakah semua adegan dan peristiwa bervariasi; kamu sudah berhasil menghindari pengulangan?
  • Apakah ceritanya dimulai dengan benar? Apakah kamu memulai ceritanya terlalu awal hingga memakan waktu lama agar terasa “panas”? Contohnya: cerita tentang perjuangan seseorang setelah dipecat baiknya dimulai saat dia dipecat, bukan saat dia pertama masuk kerja.
  • Apakah klimaksnya memuaskan? Adakah unsur kejutannya?
  • Apakah semua adegan flashback benar-benar diperlukan?
  • Periksa semua dialog. Apakah semuanya dibutuhkan untuk memajukan cerita?

Jika kamu sudah melakukan semua tahapan tadi dan merasa naskahmu sudah cukup rapi dan oke, tinggal tunggu pengumuman sambil menyuruh teman-temanmu membaca naskahmu itu, dan berdoa semoga naskahmu terpilih juri.

Jia Effendie

Head Editor Storial.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *