Rico Sumitomo atau yang lebih akrab dikenal Rico Doo di Storial ini mulai menulis sewaktu SMP. Karya pertama yang ia buat berupa cerpen. Cerpen itu menceritakan tentang kambing kurban Idul Adha. Lalu ia membagikan karya itu dan cerita lainnya di note Facebook. Sejak awal menulis, Rico memang tak menekuni dunia kepenulisan secara serius, makanya cerita-cerita yang ia buat jarang selesai hingga tuntas.

“Entah karena kehilangan minat atau ide yang buntu di tengah jalan,” ungkap Rico.

Walau di awal menulis, niatnya hanya iseng, Rico sempat mencoba mengirimkan cerpen-cerpen yang ia buat ke majalah anak-anak. Tapi, sayang usahanya menembus meja redaksi tak membuahkan hasil dan akhirnya membuat Rico berhenti menulis sewaktu ia mengenyam pendidikan SMA di Taiwan. Kemudian semangat menulisnya bangkit lagi ketika Rico menemukan Storial saat di bangku kuliah di Taiwan.

“Jiwa penulisku yang sudah lama mati bangkit kembali berkat platform menulis ini (Storial),” cerita Rico.

Pria yang mengambil jurusan farmasi ini telah menulis sembilan cerita di Storial salah satunya yaitu, Menit-menit Terakhir. Menit-menit Terakhir adalah cerita yang berhasil masuk dalam program Storial Cerita Keren (SCK).

Mau tahu tentang program Storial Cerita Keren? Kamu bisa baca tulisan tentang SCK di sini.

Rico bercerita bahwa konsep dari cerita Menit-menit Terakhir ini sudah ada di pikirannya, sejak ia memiliki keinginan menulis sebuah seri cerita dengan mengangkat latar belakang negara Taiwan, di waktu yang bersamaan, Rico saat itu juga sedang menyaksikan seri video animasi sejarah Taiwan yang dibuat oleh Taiwan Bar di Youtube.

Setelah menonton video tersebut, ia kemudian menyadari bahwa negara yang bagi Rico bisa dibilang cukup maju ini ternyata pernah mengalami sejarah yang tak jauh berbeda dengan sejarah di Indonesia pada zaman orde baru, “Dari situlah, ide Menit-Menit Terakhir mulai berkecambah dan melahirkan karakter Xiang Lan di dalam cerita ini.”

Sementara untuk riset ceritanya sendiri, Rico melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari membaca buku-buku sejarah yang didapatnya dari perpustakaan kampus dan dokumenter yang ada di Youtube. Kemudian, ia tambah dengan data dari hasil wawancara yang ia lakukan dengan beberapa kenalannya yang tinggal di Taiwan, demi mendukung cerita Menit-menit Terakhir. Sedangkan, unsur-unsur dari cerita ini beberapa diambil dari pengalaman pribadinya di dunia nyata.

“Nama tempat tinggal Tan Rong yang diambil dari tempat tinggal Bibi, rumah sakit tempat Mama kerja, dan film Sampek dan Engtay yang pertama kali aku tonton sewaktu menetap di kampung Nenek di Kalimantan,” ungkap Rico.

Alasan itulah yang membuat cerita Menit-menit Terakhir memiliki ruang tersendiri bagi kehidupan Rico, selain karena cerita ini menjadi cerita pertama yang ia tulis hingga tamat.

Tertarik membaca cerita Xiang Lan di Menit-menit Terakhir? Kamu bisa membaca dan mengikuti ceritanya dengan mengklik link berikut: bit.ly/sckmenitterakhir.

Dalam dunia kepenulisan, Rico mengaku sosok Agatha Christie memberinya pengaruh besar terhadap gaya menulisnya. Pria yang memiliki 99 persen koleksi novel Agatha Christie ini juga menyukai cara Agatha menggambarkan karakternya dan teknik yang dilakukan untuk mengelabui pembacanya.

Selain sosok Agatha Christie, Rico menerangkan bahwa ia juga mendapat banyak masukan yang membangun soal kepenulisan dari para pembacanya di Storial. Selain itu, Rico memiliki beberapa penulis favorit di Storial yang karyanya membuat ia banyak belajar, “Di antaranya diksi dari Potret-nya Kak Adit, cara membangun suspense dan dialog di The Sound of Silence-nya Narazwei, dan world building di Indonesia 2045 karya R.D. Villam.”

Tak hanya itu, untuk mengasah kemampuan menulisnya, Rico juga banyak belajar dan membaca buku-buku tentang menulis, salah satu yang menjadi favorit Rico yaitu, Plot & Structure karya James Scott Bell.

Walau sudah banyak belajar tentang kepenulisan, Rico sendiri masih mengalami persoalan writer’s block. Bagi Rico, writer’s block adalah musuh terbesarnya dalam menulis, “Ia sudah membunuh banyak karyaku di tengah jalan. Karena aku dasarnya pantser, jadi faktor utama writer’s block-ku ada dikebuntuanku menentukan plot di tengah cerita, faktor lainnya ada di kejenuhan sewaktu menulis.”

Namun, dalam mengatasi masalah writer’s block ini, Rico memiliki caranya sendiri yaitu, dengan berlatih membuat plot yang sederhana sebagai panduannya sebelum menulis. Tapi, jika ia terhambat di tengah jalan, maka ia akan segera mengambil buku catatan dan menulis poin penting cerita yang akan dibuat.

Sementara masalah kejenuhan dalam menulis, Rico biasa mengatasinya dengan cara mengambil waktu untuk bisa jeda selama beberapa hari dan menyibukkan dirnyai dengan urusan lain, “Biasanya setelah itu ide-ide segar akan kembali datang sewaktu aku kembali menulis.”

Saat ini, Rico sedang mengerjakan proyek menulis buku “Keluarga Zhang”, buku ini merupakan buku kedua dari serial Formosa Collection di Storial. Kamu bisa berkunjung ke akun Storial Rico di @rico9630 untuk membaca cerita-ceritanya.

Adakah cerita Rico Doo yang sudah kamu baca di Storial? Kalau belum, kamu bisa mulai dari cerita Menit-menit Terakhir.

Rico Sumitomo atau bisa disapa Rico Doo merupakan pria kelahiran Jakarta, 30 Januari 1996. Selain menulis, penulis juga senang nonton anime, bernyanyi dan memasak. Ia juga sudah tinggal di Taiwan sejak tahun 2012 sampai sekarang menempuh pendidikan di jurusan Farmasi di Universitas Teknologi Tajen. Rico bisa disapa di Twitter @Rico_du.