Ossy Firstan: Dari Tugas Kuliah Jadi Cerita 45 Months

Ossy Firstan senang menulis sejak SD. Tulisan pertamanya adalah puisi tentang seekor anak ayam yang kehilangan saudaranya karena flu burung. Kemudian, saat kelas 9 SMP untuk pertama kalinya ia menulis novel bersama teman dekatnya, Yuni dan di kelas 10 ia menulis bersama teman sebangkunya, Ina. Tapi, sejak saat itu Ossy sempat berhenti menulis. Lalu, kembali menulis di tahun 2014 sampai di tahun 2016 Ossy memutuskan serius menulis hingga di tahun yang sama, ide cerita 45 Months tercetus.

Ide 45 Months sendiri muncul ketika Ossy sedang mengerjakan tugas kuliah berupa laporan hasil wawancaranya dengan seorang ibu yang memiliki anak pengidap autisme. Ketika membaca jawaban dari pertanyaan mengenai harapan si ibu dari anaknya yang pengidap autisme itu, Ossy menemukan ide untuk tulisannya. Kemudian, ia menggabungkan ide cerita tersebut dengan pengalamannya sewaktu magang di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Bagi Ossy sendiri, ide cerita 45 months itu cukup mengganggu, sehingga pada malam yang seharusnya ia gunakan untuk mengerjakan laporan hasil wawancara. Ossy malah gunakan untuk menuliskan inti cerita tersebut, yang akhirnya di April 2017, cerita 45 months mulai ditulis menjadi cerita sampai cerita itu selesai ditulis pada September 2017. Cerita 45 months ini, sempat dipublikasikan di media lain. Tapi, kemudian Ossy memindahkan ceritanya itu ke Storial ketika cerita itu sudah selesai dan menjadi lebih rapi dari tulisan sebelumnya.

45 months merupakan cerita tentang sepasang suami-istri, bernama Celoisa dan Deas yang menjadi orangtua dari seorang anak dengan permasalahan dalam perkembangannya, setelah lebih dari lima tahun mereka menikah.

Buat kamu yang tertarik membaca cerita 45 months dan ingin tahu bagaimana perjuangan Celoisa dan Deas dalam membesarkan anak dengan pengidap autisme, kamu bisa membaca ceritanya di Storial atau klik link di sini.

Penulis yang telah menerbitkan karya perdananya berjudul 24 (Elex Media Komputindo, 2018) di tahun ini, mengaku sedang mengalami writer’s block. Permasalahan yang mungkin hampir dialami penulis, “Mungkin ini sebab saya hampir setahun tidak menulis. Belakangan, saya terus-terusan membuat outline dan tidak ada satu pun yang benar-benar saya tulis.”

Untuk mengatasi permasalahan writer’s block ini, Ossy melakukannya dengan cara mematangkan ide yang akan ia tulis sebelum mulai menulis. Selain itu, menurut Ossy, menemukan alasan dari tulisan yang akan ditulis juga perlu dilakukan, setidaknya untuk diri sendiri.

“Kalau kita sudah merasa nggak penting, biasanya semangat juga nggak ada,” jelas Ossy di surel.

Namun, bagi Ossy sendiri, writer’s block ini bisa jadi bukan alasan utama mengapa ia tidak menulis selama hampir setahun ini. Alasan lain yang membuat ia tidak menulis bisa terjadi karena sudah lama tidak menulis, mudah terdistraksi, sering menunda untuk menulis.

“Kadang,  sering saya merasa stuck hanya karena sedang tidak ingin menulis, atau bosan melihat tampilan di layar dan bisa lancar menulis kalau mengganti font atau warna halaman,” cerita Ossy.

Saat ini, penulis sedang mulai menulis novel kembali tentang anak perempuan yang menutup wajah adiknya dengan bantal. Selain itu, Ossy juga berencana menulis buku anak-anak bersama teman dekatnya.

Tulisan ini dibuat oleh Septiani Rahayu berdasarkan wawancara yang dilakukan via surel dengan Ossy Firstan.

Ossy Firstan lahir di tahun yang sama saat Curt Cobain meninggal dunia. Mengaku sebagai pengasuh kucing yang gemar minum kopi. Lebih suka membaca ketimbang menulis, memotret daripada berhitung, Twitter daripada Instagram. Beberapa draf tulisannya bisa dijumpai di akun storial ossyfirstan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *