Johanes Jonaz: Dari Traveler Blogger Hingga Ingin Jadi Penerus Ahmad Tohari

Senang jalan-jalan dan mencatat semua kejadian yang ia temui selama perjalanan membuat Johanes Jonaz tertarik menulis blog. Jika traveler blogger senang menulis dan membahas seputar perjalanan terkait destinasi wisata, Johanes justru tertarik pada aspek lain yaitu, sosial budaya masyarakatnya. Karena ketertarikannya itu, Johanes menulis cerita Bakiak Maryam. Ide ceritanya datang saat ia bertemu pemain ludruk di gedung pentas ludruk Irama Budaya, yang setiap pulang dan berangkat ke kantor sering ia lewati.

Ludruk sendiri merupakan kesenian drama tradisional yang berasal dari Jawa Timur, yang diperagakan sebuah grup kesenian dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, serta cerita perjuangan yang diselingi lawakan dan diiringi gamelan sebagai musiknya. Di Bakiak Maryam, Johanes memasukkan unsur kesenian yang satu ini.

Ketika pertama kali Johanes melihat pertunjukan ludruk, muncul rasa takjub dan penasaran yang akhirnya membawa ia mengintip aktivitas di belakang panggung. Di balik panggung, Johanes menemukan puluhan pemain ludruk sedang merias diri.

Mata saya tertuju kepada seorang lelaki dengan riasan wajah lengkap dan berkonde. Saya tahu dia seorang lelaki dari perawakannya. Tidak mungkin perempuan punya bahu lebar dan lengan yang kekar–kecuali binaragawati. Usianya saya taksir sudah lebih dari lima puluh tahun, tetapi masih terlihat lincah dan sedikit genit. Sepertinya, ia adalah pemimpin grup ludruk tersebut.

Lelaki itu yang menginspirasi saya untuk merombak draft novel, menghadirkan sosok Maryam sebagai tokoh utama dalam cerita saya,” jelas Johanes di surel saat bercerita tentang lelaki pemain ludruk yang ia temui di belakang panggung pertunjukan ludruk Irama Budaya.

Setelah menghadirkan sosok Maryam, Johanes mulai melakukan riset kecil-kecilan dimulai dari menonton pertunjukan ludruk sampai berinteraksi dengan para pemainya. Johanes sempat merasa takut saat berhadapan dengan para pemain ludruk lantaran trauma yang pernah ia alami di masa kecilnya. Tapi, akhirnya ia memutuskan untuk menemui pemain ludruk tersebut dan melawan rasa takutnya itu.

“Modal saya cuman dua; nyali dan rokok,” kata Johanes, “Nyali dibutuhkan karena sejujurnya saya masih takut berhadapan langsung dengan gender ketiga. (Saya trauma pernah dikejar pengamen waria saat masih kecil). Rokok saya butuhkan untuk mencairkan suasana. Dengan rokok, orang-orang yang saya wawancarai nyerocos bercerita tentang hidupnya tanpa saya tanya dengan detail.”

Tak mau setengah-setengah menulis cerita Bakiak Maryam, Johanes memutuskan untuk mendalami topik LGBT yang terbilang sensitif di Indonesia, “Cerita ini nyerempet bias gender dan orientasi seksual, maka saya hadirkan Dinar dan Jane. Kebetulan saya mempunyai teman seorang lesbian yang mau menceritakan cara pandang terhadap orientasi seksual yang dimilikinya.”

Sungguh cerita yang menarik, bukan? Tertarik membaca cerita Bakiak Maryam? Kamu bisa baca di Storial atau klik link di sini.

Awal Menulis Fiksi

Setelah sebelumnya menulis di blog, perlahan-lahan Johanes mulai mencoba menulis dan mendalami fiksi, bahkan menjadikannya sebagai hobi. Dari situ juga, ia memberanikan diri mengikuti berbagai lomba menulis. Salah satu lomba yang ia ikuti yaitu, kompetisi menulis “Dear Mama” yang diadakan Storial dan Nulis Buku.

Pada kompetisi tersebut, Johanes berhasil terpilih sebagai pemenang, yang kemudian membuat tekadnya untuk mendalami fiksi semakin kuat. Semua ia lakukan mulai dari mengasah kemampuan menulis fiksi dengan lebih baik, memperhatikan kaidah-kaidah penulisan, sampai unsur dan teknis dalam membangun cerita yang baik.

Dalam dunia kepenulisan, sosok penulis idola juga turut memberi pengaruh terhadap karier kepenulisan Johanes dan karyanya. Sosok penulis itu adalah Ahmad Tohari. Johanes menceritakan bahwa ia jatuh cinta pada karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Menurut Johanes, karya itu dianggap sebagai kitab suci, terutama bagi penulis yang senang menulis cerita bertema humanisme seperti dirinya.

“Tohari mengangkat cerita yang tidak umum, dengan nilai budaya tinggi, detil-detil yang membangun cerita, membuat saya tertantang untuk menjadi penerus beliau,” ujar Johanes.

Di samping itu, Johanes juga tergabung dalam sebuah kelompok bernama Dimensi Kata yang terdiri dari Narazwei, Zeth, Dan Iswanda, Elqi, Demia, Tutut Laraswati, Thiya Rahmah, dan Ken. Bagi Johanes, Dimensi kata sudah seperti keluarga kecilnya.

“Mereka adalah orang-orang yang berjasa. Kritikan pedas mereka membentuk tulisan saya; dari nol hingga menjadi seperti sekarang ini,” terang Johanes.

Mengatasi writer’s block

Johanes telah menulis 18 cerita di Storial, tapi hal tersebut tak membuat ia terlepas dari masalah writer’s block. Johanes mengaku sering mengalaminya, terakhir kali ia terkena writer’s block itu ketika ia menulis cerita Stambul Kembang Ciliwung yang diikutsertakan dalam kompetisi Bulan Nulis Novel Storial.

“Waktunya tinggal sepuluh hari dan saya mandeg pada 30.000 kata,” aku Johanes.

Ketika Johanes mengalami writer’s block, ia biasa mengatasinya dengan cara pergi mandi. Tak peduli waktu, kapan pun itu ia mengalami writer’s block, ia akan mandi, bahkan jika itu tengah malam.

Bagi Johanes, siraman air bisa membuat dirinya bisa mengingat-ingat cerita yang ia buat, “Anehnya, ide itu bermunculan saat kepala saya ada dalam kucuran air keran.”

Saat ini, Johanes sedang mempersiapkan dan mengerjakan sebuah novel baru yang rencananya akan diajukan dalam kompetisi menulis yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta.

Tulisan ini dibuat oleh Septiani Rahayu berdasarkan wawancara yang dilakukan via surel dengan Johanes Jonaz.

Johanes Jonaz lahir dan besar dari keluarga pecinta seni. Penulis senang mencoba hal-hal baru. Tapi, dari semua hal baru yang penulis lakukan, menulis merupakan kegiatan yang menjadikan dirinya lebih baik. Dengan menulis, ia menjadi lebih detail, teratur, dan cermat dalam memperhatikan segala sesuatunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *