Sayyidatul Imamah atau biasa disapa Dayuk ini mulai serius menulis sejak Ibunya membelikan laptop baru untuknya. Awalnya, sang ibu membelikan laptop tersebut dengan tujuan untuk mempermudah anaknya ketika mengikuti ujian berbasis daring yang ada di sekolah. Tapi, jauh sebelum Dayuk mulai menulis di laptop, ia sudah terbiasa menulis di buku tulis. Hanya saja tulisan-tulisan itu tidak pernah dipublikasikan.

Semenjak kehadiran laptop, Dayuk mengaku ia jadi lebih mudah untuk menulis. Ia juga mulai menulis dan mengikutsertakan karyanya dalam berbagai perlombaan menulis. Salah satu novel yang ia ikuti dalam perlombaan menulis ini adalah Pantomime. Novel ini sudah terbit di Storial.co dan kamu bisa membaca ceritanya di sana atau mengklik link berikut ini: https://www.storial.co/book/pantomime/

Gadis berusia 17 tahun ini mengaku mengikutsertakan Pantomime dalam ajang menulis Write The Fest, yang diadakan Storial di tahun 2018, berkat ajakan temannya meski ia sendiri tidak begitu suka menulis sambil dikejar deadline.

Perlombaan Write The Fest memang berlangsung selama satu bulan, tapi ide awal cerita Pantomime sendiri sudah didapat Dayuk jauh sebelum ia memutuskan mengikuti lomba ini. Ide ini datang setahun sebelumnya, saat ia usai membaca novel All The Bright Places karya Jennifer Niven.

Dari novel itu, Dayuk terinspirasi menulis cerita Atlanta dengan karakter yang mengalami depresi. Namun, kesempatan itu baru bisa terwujud saat ada kompetisi ini. Selain itu, sejak SD Dayuk sendiri juga telah membaca novel-novel barat seperti Tom Sawyer dan To Kill a Mockingbird. Tapi, ketika ia mulai konsisten menulis novel, ia menyadari cara menulisnya ini banyak dipengaruhi oleh karya-karya Harlan Coben, Stephenie Meyer, dan Jennifer Niven.

“Ketiga penulis itu banyak menggunakan narasi daripada dialog, dan penggambaran suasananya dijabarkan dengan detail, tapi latarnya agak diabaikan,” kata Dayuk.

Selama menulis cerita Pantomime, Dayuk menerangkan bahwa ia sangat menikmati proses menulisnya, bahkan ia bisa menulis hampir setiap hari, tanpa pernah absen.  Di samping itu semua, selama menulis cerita Dayuk perlu melakukannya sambil diselingi dengan menonton film komedi atau menyaksikan idolanya di Youtube, agar ia tidak terbawa perasaan depresi ketika menjabarkan sosok Atlanta.

Tak hanya itu, Dayuk juga kerap meyakinkan dirinya bahwa dia bukan Atlanta, “Ini bukan saya, ini hanya ciptaan, saya bahagia.”

Walau di awal menulis novel Pantomime, ia kerap merasa tersiksa lantaran ia perlu melakukan riset yang berkaitan dengan kasus-kasus bunuh diri, tapi Dayuk mengaku selama menulis ia tidak pernah sampai menangis.

Seperti yang dituturkan J.K Rowling:  Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Dayuk juga mulai menulis dari hal yang ia sukai. Hal ini ia lakukan untuk mengatasi masalah writer’s block yang kerap dialami sebagian besar penulis.

Ketika Dayuk mengalami writer’s block, biasanya ini terjadi karena ia menulis sesuatu yang tidak disukai seperti halnya ketika ia mengerjakan proyek menulis yang saat itu diadakan penerbit indie selama satu bulan.

Di proyek tersebut, Dayuk mendapat bagian untuk menulis novel fantasi. Awalnya, ia menerima tantangan tersebut. Ia juga melakukan berbagai persiapan mulai dari melakukan riset, membaca banyak buku fantasi, sampai menonton film fantasi. Tapi, sampai di akhir bulan, ternyata ia tidak berhasil menuangkan satu kata pun di dalam word. Akhirnya, ia menyerah dalam proyek tersebut.

Untuk mencegah terjadinya hal seperti itu, Dayuk memutuskan untuk menulis hal-hal yang memang ia sukai saja, “Saya mengalami writer’s block waktu itu karena saya tidak suka dengan genre fantasi.”

Walau sudah melakukan hal itu, masalah writer’s block ini ternyata pernah ia rasakan ketika menulis cerita yang ia suka. Tapi, untuk mengatasinya Dayuk akan melakukan cara lain yaitu, berhenti menulis. Saat ia berhenti menulis, ia akan melakukan hal lain seperti menonton film dan jalan-jalan, “Pokoknya saya memberi waktu bagi saya untuk beristirahat, baru setelahnya saya bisa menulis lagi,”ujar Dayuk.

Selain itu, Dayuk terbiasa menulis di kamarnya, saat malam hari. Karena di malam hari keadaannya lebih sepi dan kondusif sehingga memungkinkan Dayuk untuk menulis. Tak hanya itu, Dayuk juga kerap membaca puisi-puisi untuk memperkaya kosa katanya. Tapi, ketika ia sedang tidak ada mood untuk menulis atau idenya sedang macet, ia kerap mengatasinya dengan mandi terlebih dulu, “Entah kenapa mandi membuat ide yang awalnya tertimbun entah di mana menjadi beterbangan di sekitar saya.”

Tulisan ini dibuat oleh Septiani Rahayu berdasarkan wawancara yang dilakukan via surel dengan Sayyidatul Imamah.

Sayyidatul Imamah perempuan kelahiran 18 April 2001, tinggal di Madura sebagai pelajar kelas XII SMA 1 Sumenep. Sudah menerbitkan beberapa novel yang salah satunya berjudul Banana Choreo (Diva press: 2017). 

Sayyidatul saat ini juga bertindak sebagai kontributor yang telah memproduksi 50 lebih cerpen juga ratusan puisi. Dapat dihubungi melalui email: sayyidatul.imamah18@gmail.com, Facebook: Hiku Nara Hatsune, dan Instagram: @hiku18.