4 Poin Penting dalam Premis Cerita Untuk Penulis

Premis adalah atom dari sebuah cerita. Seberapa pun panjang naskah kamu kelak, semuanya berasal dari sebuah premis cerita yang singkat. Premis cerita harus bisa menggambarkan isi dari keseluruhan kejadian yang dialami oleh protagonis. Jadi ingat, premis utama adalah hanya tentang protagonis dalam cerita kamu.

Kamu pernah membaca sekilas cerita di belakang buku (atau yang disebut blurb)? Kamu penasaran karena membacanya. Walaupun, ada gambaran cerita di sana, tapi itu bukan premis yang kamu inginkan untuk dibuat. Itu adalah premis promosi yang disusun untuk menarik pembaca tanpa membuat bocoran, bukan premis cerita.

Tujuan adanya premis cerita adalah untuk panduan bagi penulis selama menulis agar tidak tersesat. Memberikan sense of purpose bagi semua kejadian dan tindakan tokoh. Jadi, jangan pernah menyusun premis untuk membuat penasaran pembaca.

Kamu boleh berkeinginan untuk membuat pembaca penasaran, tapi kamu—sebagai penulis—harus memahami arah cerita yang kamu buat sendiri itu dengan jelas dan tanpa pertanyaan. Premis kepenulisan berbeda dari premis promosi.

Lalu, apa saja yang menjadi unsur premis sebuah cerita?

Unsur Premis

Pada dasarnya, premis cerita hanya berisi 4 unsur utama, semuanya harus mengenai protagonis, yaitu:

  1. Karakter: termasuk karakterisasi dan inciting incident (kejadian awal yang membuat protagonis harus bergerak menjalankan cerita).
  2. Tujuan Tokoh: hal yang ingin dicapai oleh protagonis.
  3. Halangan Tokoh: hal utama yang menghalangi tokoh mencapai tujuannya.
  4. Resolusi: kondisi atau situasi terakhir yang dialami oleh protagonis. Sederhananya, apakah protagonis berhasil atau tidak dalam mencapai tujuannya? Dalam keadaan apa?

Oleh karena itu, premis harus bisa dibuat menjadi satu kalimat singkat yang menggambarkan keseluruhan kejadian yang dialami tokoh, dengan rumus: nama karakter (karakterisasi dan inciting incident) ingin (tujuan tokoh) tapi (halangan tokoh) sehingga akhirnya (resolusi).

Contoh:

Anna (seorang anak kelas dua SMA dengan tiga orang adik, yang ditinggal mati oleh ayahnya karena serangan jantung) ingin (kuliah di fakultas kedokteran) tapi (tidak punya biaya karena ibunya sekarang menjai ibu tunggal) sehingga akhirnya (menunda mendaftar di fakultas kedokteran untuk mencari uang, dan ia menyadari bahwa ia tetap bisa membantu orang dengan cara menjadi relawan di Yayasan Jantung Sehat).

Dari contoh di atas, langsung jelas, ‘kan, isi ceritanya tentang apa? Jadi, sebelum kamu menulis, ada baiknya kamu membangun premis secara matang untuk menguji apakah cerita kamu memang punya tujuan dan tidak hanya akan tersesat ke mana-mana.

Setiap kali kamu bingung, cek kembali premis kamu, apakah tiap titik plot dan adegan yang kamu buat sudah searah dengan premisnya? Kalau tidak, bisa jadi kamu sedang berputar-putar saja.

Premis adalah patokan dalam menyusun plot. semua titik plot harus mengarahkan protagonis ke arah resolusi, dan tiap titik menunjukkan bagaimana protagonis melewatai halangannya.

Apakah premis hanya satu dalam satu cerita? Premis utama hanya satu (untuk sang protagonis), namun bisa jadi kamu membutuhkan premis tambahan jika ada lebih dari satu protagonis, ada tokoh penting lain, dan kamu membuat alur cerita lebih dari satu (double plot, triple plot, dst). Kalau diperlukan, kamu bisa membuat premis-premis tambahan untuk setiap karakter dan atau plot yang kamu buat.

Nah, bagaimana mengenai premis? Sudah siap menulis premis?

Selamat menulis cerita, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *