Mengenang Nh. Dini, Novelis Indonesia dan Karyanya

Selamat Jalan Nh. Dini

Kabar duka kembali datang dari dunia sastra dan literasi. Sastrawan Indonesia Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dikenal dengan nama Nh. Dini dikabarkan tutup usia diusianya yang ke-82 tahun akibat kecelakaan yang menimpanya, Selasa (4/11) lalu.

Nh. Dini dan Karyanya

Nh. Dini merupakan sastrawan yang telah menghasilkan banyak karya di antaranya: Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), dan karya lainnya dalam bentuk kumpulan cerpen atau novel.

Melalui karya-karyanya, Nh. Dini sering menyuarakan persoalan perempuan lantaran ketidakadilan gender yang sering dialami perempuan. Hal ini bisa terlihat dari karyanya yang berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), dia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya, karena itu pula ia dikenal sebagai pengarang feminis.

Pengarang yang menyukai tanaman ini memiliki teknik penulisan konvensional. Baginya, teknik bukan tujuan melainkan sekadar alat. Tujuannya itu adalah tema dan ide, sehingga tak heran jika kemampuan menulisnya penuh dengan kekayaan tema dan ide yang cemerlang. Lewat tekniknya ini juga, ia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya.

Pengharagaan

Perempuan kelahiran Semarang ini juga telah meraih berbagai pengahargaan, baik dari dalam mau pun luar Negeri. Penghargaan yang dia peroleh antara lain Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana Bidang sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), Penghargaan Tulis SEA dari pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011).

Kemudian di tahun 2017, Nh. Dini mendapatkan Penghargaan Prestasi Seumur Hidup Festival Ubud Writers & Readers 2017 (UWRF) dalam malam Gala Pembukaan UWRF di Puri Saren Ubud, Bali.

Peran Orangtua

Semua penghargaan yang ia peroleh tak lepas dari peran ayahnya yang sejak kecil selalu menyediakan bacaan bagi putri bungsunya ini. Selain itu, Nh. Dini mengaku mulai tertarik dengan dunia kepenulisan sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya sering dipenuhi dengan tulisan-tulisannya, yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati.

Nh. Dini juga menyadari bahwa ia memiliki bakat menulis ketika guru di sekolah mengatakan bahwa tulisannya merupakan yang terbaik di antara tulisan teman-temannya, sehingga tulisannya itu dijadikan contoh tulisan bagi yang lain.

Di samping sosok ayahnya yang memberikan dorongan melalui bacaan, Nh. Dini mengaku sang ibu juga turut mempengaruhi dirinya. Ibunya ini kerap bercerita pada Dini, tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari  bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya.

Tidak berhenti sampai di situ, semasa sekolah, Nh. Dini selalu mengisi majalah dinding dengan karya-karyanya. Dia juga menulis esai dan sajak secara teratur dalam buku hariannya. Pada tahun 1952 sajaknya pun dimuat dalam majalah Budaja dan Gadjah Mada di Yogyakarta dan juga dibacakan pada acara “Kuntjup Mekar” di Radio Jakarta.

Berbagai karya dan penghargaan telah ia goreskan semasa hidupnya, meski sosoknya kini telah pergi jauh, tapi karyanya akan selalu abadi. Kami segenap Tim Storial mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.  Terimakasih atas karya-karyamu yang telah menyumbang kesusatraan Indonesia.  Selamat jalan Nh. Dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *