Erlin Natawiria: Menulis Novel dari Pengalaman

Erlin Natawiria bukan pendatang baru dalam dunia penulisan novel Indonesia terutama di kelas novel chick-lit. Karya Erlin Natawiria- Toska, minggu ini sedang jadi bintang di Storial.co dan bisa dibaca secara daring di : bit.ly/bacatoskalogNovel karya Erlin lainnya juga sudah bisa ditemukan di toko buku, antara lain: Athena: EUREKA! (GagasMedia: 2013) dan pembukaan season dua seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC); The Playlist (Grasindo: 2016); Novel Lara Miya (Falcon Publishing: 2016) dalam serial Blue Valley.

Erlin menjadi penulis lewat jalan yang cukup panjang. Erlin tertarik pada dunia kepenulisan tidak secara dadakan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Erlin sudah menunjukkan minatnya pada dunia literasi, dan terus menguat pada masa SMA sehingga memutuskan untuk kuliah di Jurusan Sastra Inggris. Alasan Erlin untuk terus menulis memang berubah seiring waktu dan kematangannya, dan saat ini, seperti kata Erlin,“Saya merancang cerita—baik cerpen maupun novel—karena ada kegelisahan yang harus dituangkan dan diselesaikan”.

Menuliskan kegelisahan memang bukan hal mudah (apalagi membuatnya selesai), namun Erlin menyadari bahwa menyalahkan writer’s block bukanlah hal bijak. Bahkan, Erlin bukan tipe penulis yang percaya adanya writer’s block. Buat Erlin, penulis harus jujur pada dirinya sendiri bahwa mungkin saja penulis malas menulis atau merasa kelelahan. Tips dari Erlin: istirahat yang cukup dan sebisa mungkin menghindari tidur terlalu malam. Kalau malas, saya akan tinggalkan dulu ceritanya dan cari aktivitas lain. Beberapa kali fisik dan mental saya drop hanya karena ngebut menulis dan saya tidak mau hal itu terjadi lagi.

Aktifitas sampingan yang dilakukan Erlin beraneka ragam, mulai dari membaca cerita-cerita favoritnya, menikmati musik, hingga mendalami hand-lettering-art (yang awalnya, sebenarnya dalam rangka menyelesaikan novel Toska). Toh, Erlin mempercayai salah satu kutipan Stephen King: If you want to be a writer, you must do two things above all other: read a lot and writer a lot.

Termasuk, waktu Erlin mulai mengeksekusi penulisan naskah Toska—yang ternyata juga tidak singkat.

Draf Toska sudah ada sejak 2013 dan idenya lahir ketika kali pertama Erlin mengunjungi Kineruku (perpustakaan di Bandung yang jadi inspirasi Elysian—salah satu setting dalam novel Toska). Namun, Erlin baru dapat melakukan eksekusi pada pertengahan 2017. Draf yang sekarang dipakai sudah mengalami banyak perubahan—dari penokohan sampai tambahan materi hand-lettering yang secara khusus dipelajari demi naskah novel Toska.

Salah satu tantangan yang dihadapi Erlin, dibanding naskah-naskah sebelumnya, Toska termasuk kisah yang menggelisahkan. Beberapa hal yang ada di dalam cerita bertentangan dengan prinsip yang diyakini Erlin, namun tetap terjadi juga di sekitarnya. Itu sebabnya, Erlin cukup khawatir bilamana pembaca tidak bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan. Tapi sejauh ini, umpan balik yang Erlin terima justru jauh lebih baik dari dugaan. Saya harap hal tersebut bisa membuat saya tenang untuk meneruskan Toska sampai akhir cerita.

Apa yang sebenarnya mempengaruhi gaya penulisan yang saat ini ditampilkan oleh Erlin? Selain pengalaman hidup, tentu saja bacaan-bacaan yang dilahap. Saat SMP: JK Rowling, Raditya Dika, Icha Rahmanti, dan Adhitya Mulya, jadi penulis-penulis yang membantunya menemukan gaya menulis. Masuk bangku kuliah, muncul Jane Austen, Ernest Hemingway, Truman Capote, Sampai Vladimir Nabokov. Setahun terakhir saya lagi suka Han Kang dan Yusi Avianto Pareanom.

Sudah baca Toska? Toska menggunakan industri majalah musik sebagai latar penting, dan (kebetulan?) Erlin sempat menjadi pembaca tetap beberapa majalah lokal seperti Trax, Hai, dan Kawanku. Rolling Stone jadi salah satu majalah favorit yang membantunya belajar untuk membuat deskripsi bagus dan rapi. Beberapa song-writer dari band-band favorit juga ikut berjasa memoles cara Erlin menulis cerita.

Jadi, apakah buku dan tulisan adalah sebatas cerita? Bisa jadi, buku adalah cermin tersembunyi dari pengalaman hidup penulisnya. Bukan begitu, Mbak Erlin?

Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara via surel yang dilakukan Wisnu S. Adji, Senior Editor Storial.co dengan Erlin Natawiria. 

Erlin Natawiria lahir dan menetap di Bandung. Bekerja sebagai penulis konten paruh waktu. Menulis sambil ditemani kopi dan musik. Penggemar warna biru dan ramen. Mengisi waktu luangnya dengan lettering, wisata kuliner, dan datang ke acara musik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *