Editorial Review: TOSKA karya Erlin Natawiria

Menulis itu serupa sekali dengan memasak. Pembaca menikmati laiknya menyantap masakan yang diramu oleh chef atau tukang masak. Kalau diserupakan dengan dunia kuliner, Toska karya Erlin Natawiria ini mengingatkan saya pada Nigella Laswon dengan comfort-food-nya. Walaupun saya belum pernah secara langsung menyantap hidangan Lawson, namun kalau saya merasa membutuhkan comfort-novel, Toska adalah salah satu yang bisa dimasukkan ke dalam daftar pilihan.

Kalau ini masakan, Toska bukanlah makanan yang berada dalam ketegori gourmet yang dinikmati ala fine-dining; Toska adalah novel yang enak disantap ketika lapar tengah malam (tapi malas keluar rumah) sambil mengenakan piyama dan membutuhkan makanan yang tidak terlalu mengenyangkan sehingga enak dibawa tidur. Nyaman. Tidak perlu banyak mengernyit untuk menikmati novel Toska. Sajian utama dari novel Toska adalah kenyamanan pembacaannya. Ini karena ketepatan craftmanship yang digunakan Erlina di sepanjang novel—tidak ada pamer teknik yang berlebihan (saya hampir tidak menemukan kata-kata rumit yang membuat saya perlu mengecek KBBI); hampir semua aspek kepenulisan digunakan secara ringan dan proporsional. Cocok untuk pasar pembacanya.

Salah satu aspek yang menunjang kenyamanan pembacaan novel ini adalah cara yang digunakan Erlin untuk membuka cerita dengan permainan sudut pandang penceritaan yang berubah (ingat, POV bukan semata penggunaan “aku” dan atau “dia”, melainkan sudut tempat narator meletakkan diri dalam cerita). Toska menggunakan model ekspresi kata ganti orang ketiga dengan POV dari berbagai tokoh di sana.

Aspek lainnya adalah cara yang digunakan Erlin untuk mengalirkan cerita yang banyak menggunakan benda penggerak (buku, gramofon, lettering-art, gaun, dan sebagainya). Penggunaan benda-benda penggerak ini membuat tokoh-tokoh ikut bergerak dengan alasan logis, alami dan tidak berkesan dipaksa oleh penulis untuk cocok dengan plot cerita. Teknik ini sangat membantu pembaca untuk memahami plot yang dirangkai.

Dari segi plot, Erlin membawa cerita ini dengan cara perlahan, bahkan bisa dikatakan kalau novel ini ditulis secara plot-driven (karakter dibangun secukupnya, dan plot menjadi titik utama cerita) sehingga perkembangan karakternya dibawa oleh aliran plot yang dalam novel ini didominasi oleh alur kini yang maju terus. Karakterisasi tokoh-tokohnya terasa mematang seiring berjalannya plot.

Protagonis dalam novel ini adalah Ethan, seorang laki-laki muda yang kelewatan sempurna dalam pandangan orang-orang di sekitarnya (lulusan S2 di St. Petersburg, penggemar buku, pandai menulis, kelas ekonomi baik sekali, berpenampilan mempesona luar biasa, tentu saja dikenal mudah membuat orang lain jatuh cinta), namun menyimpan kekecewaan masa lalu. Sepertinya tema ini memang terdengar biasa, namun Erlin mampu mengeksekusinya dengan baik.

“Akbar, kami berpisah baik-baik,” potong Ethan. “Kalau dia akhirnya menikah, itu berarti dia sudah menemukan orang yang tepat. Toh, masalah kami juga sudah selesai.”

“Syukurlah.” Akan tetapi, tatapan Akbar masih sarat kecurigaan.

Untunglah, Erlin cukup piawai dalam menggerakkan protagonis berikut tokoh-tokoh pendukung di dalam setting yang (buat saya) cukup menarik: Industri musik (dalam hal ini majalah musik), Elysian (sebuah kafe dan perpustakaan), serta toko vintage yang terletak di belakangnya. Semuanya mengambil tempat di Bandung. Pun, setting lokasi adalah salah satu aspek yang mendapat porsi cukup besar melalui penggambaran-penggambaran yang tersebar di sana-sini dan dieksekusi oleh Erlin dengan mantap hingga dapat menunjukkan skena kreatif kota itu. Apakah penulisnya memang tinggal di Bandung? Entah.

Walau dasar cerita yang digunakan bukanlah tema baru, yaitu tentang Ethan (laki-laki yang dibayangi masa lalu) bertemu Aufi (perempuan kreatif yang pacarnya kurang perhatian), namun adegan-adegan yang disusun cukup dapat menutupi tema cerita yang terdengar sangat biasa itu. Tiap adegan dapat digunakan secara efektif oleh Erlin dalam membuka lapisan-lapisan karakter tokoh, umumnya melalui dialog dan aksi tokoh.

“Karena setelah tiga tahun, Ethan akhirnya dekat lagi sama cewek. Sama kamu, Aufi. Ethan dihantui perasaan bersalah dari hubungan terakhirnya. Kalau sekarang dia kembali membuka hati, artinya dia ingin memperbaiki kesalahannya.”

Buat saya, salah satu kelebihan novel ini memang terletak pada dialog antar tokoh yang terasa natural dan tidak basa-basi. Sebagian besar dialog terdiri dari kalimat-kalimat yang tidak terlalu panjang (masih wajar untuk diucapkan oleh manusia), dan mampu menggerakkan cerita lebih jauh. Secara umum, Erlin memang menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan (sepertinya) menghindar dari kesan flowery. Dan, justru itu kelebihan lainnya. Saya seperti sedang menonton film remaja yang penuh kisah percintaan dengan gambar-gambar bagus yang memanjakan mata.

Walau, tokoh-tokoh dalam Toska rata-rata sudah bekerja, novel ini termasuk dalam kategori novel ringan yang bisa dibaca oleh pembaca dengan rentang usia cukup lebar. Saya rasa, kelas pembaca pemula pun akan cukup mudah untuk bisa menikmati novel ini. Kalau harus menyebutkan usia, sepertinya pembaca usia SMA hingga mereka yang sudah kuliah akan bisa menikmati novel ini tanpa kesulitan. Untuk heavy-reader yang gemar membaca novel rumit bolehlah mencoba membaca novel ini untuk beristirahat dan menyamankan pikiran.

Karena review ini dibuat sebelum novel ini benar-benar selesai. Saya tidak bisa mengulas lebih banyak. Sungguh, saya menunggu kelanjutan kisah ini. Apakah Ethan berhasil menghadapi masa lalunya? Apakah Aufi bisa mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan percintaannya?

Sebelum, mulai membaca, saya ingatkan kalau Toska dalam cerita ini tidak mengacu pada jenis warna, melainkan sebuah kata dalam bahasa Rusia. Artinya apa? Mari kita baca sama-sama.

 

Wisnu S. Adji

Senior Editor Storial.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *