Bernard Batubara, Belajar Soal Kopi Bukan Untuk Menulis Novel

Semua yang aku lakukan bukan dengan niat untuk mewujudkan aku menulis novel tentang kopi. Aku murni belajar tentang kopi karena aku suka. Aku mendalami kopi karena kopi itu sendiri. Karena ketertarikanku sendiri.

Berawal dari ketertarikannya dengan kopi, penulis asal Pontianak, Bernard Batubara atau biasa disapa Bara ini tergerak untuk menuangkan kisahnya menjadi karya, yang kini hadir dalam format digital di Storial.co berjudul Espresso. Sejak pertama kali terbit 3 April 2018 hingga  hari ini (8/11), cerita Lulu si barista siluman yang nggak bisa bikin kopi itu, kini telah memasukki cup ke-34. 

Espresso merupakan salah satu cerita di Storial yang mengalami peningkatan jumlah pembaca yang tinggi, terutama setelah diumumkan #FreeEspresso pada 2 November 2018, kini bukunya telah dibaca sebanyak 96 ribu kali di Storial. 

Namun, dibalik itu semua Bara memiliki kisahnya sendiri tentang Espresso . Semua bermula dari perkenalannya dengan kopi sejak awal 2017. Dari situ, ia mulai bertemu dengan beberapa pemilik kedai kopi hingga barista-baristanya. Kemudian, ia belajar tentang kopi secara mendalam dan serius hingga mengikuti kursus kopi. Di sana ia belajar tentang kopi, jenis-jenis alat seduh, dan persoalan lain seputar kopi. 

Namun, semua yang ia lakukan itu  awalnya bukan semata-mata karena ingin menulis novel. Melainkan sebagai bentuk kesukaan dan ketertarikannya pada kopi. Setelah mendapat permintaan dari para pengikutnya di Instagram dan Twitter dan disaat bersamaan, ia mendapat tawaran kerjasama dari Storial, akhirnya ia memutuskan menulis cerita baru tentang kopi.

Untuk itu, Storial menyajikan hasil wawancara dengan penulis yang dilakukan melalui surat elektronik pada Rabu (7/11), mengenai awal mula kisah Espresso hadir,  tentang proses pembuatan Espresso hingga kini bisa kalian nikmati di Storial.co. 

Mengapa diangkat soal kopi dalam karya terbaru Bang Bara?

Semuanya berawal dari ketertarikanku sendiri sama kopi. Sekitar awal 2017 aku dan temanku syuting video buat konten Youtube. Kami ambil gambar di sebuah restoran yang ada kedai kopinya. Beres syuting, aku dikenalin oleh temanku itu ke owner kedai kopi tersebut. Aku juga kenalan dengan barista-baristanya waktu itu.

Dari sana obrolan mengalir ke macam-macam hal termasuk soal kopi. Sambil ngobrol aku lihat ada beberapa alat seduh kopi yang buatku waktu itu unik banget bentuknya. Aku belum pernah lihat. Aku tanya-tanya kan, dari jawaban mereka aku tanyain lagi hal-hal lain. Makin lama aku makin penasaran sampai akhirnya aku iseng tanya boleh enggak aku diajarin bikin kopi sendiri.

Mereka baik banget karena mau ngajarin aku bikin kopi pakai mesin espresso. Aku ingat, yang aku buat adalah iced americano . Terus besoknya aku main ke kedai itu lagi. Aku minta diajarin bikin latte art . Tadinya aku kira bikinnya gampang karena sering lihat barista di coffee shop bikinnya kelihatan gampang. Ternyata susah. Latte art pertamaku jelek banget. Tapi aku juga makin penasaran.

Setelah itu aku banyak nonton video latte art di Instagram. Aku juga jadi banyak baca referensi tentang kopi. Rasa penasaranku besar banget sama kopi. Dari situ keterusan  sampai aku ikut kursus kopi di Jakarta yang bersertifikat. Lalu ke banyak coffee shop di Jogja, Jakarta, Bandung. Ngobrol sama banyak barista dan berteman sama mereka.

Dari obrolan-obrolan dengan barista itu dan pengamatanku sendiri, ada banyak hal yang menurutku yang menarik untuk diceritakan. Terutama ke orang-orang yang sering ke kedai kopi kayak aku, tapi enggak pernah tahu gimana sebenarnya hidup barista di balik bar.

Setelah kira-kira setahun belajar tentang kopi, aku memang sudah kepikiran suatu saat pengin menulis sesuatu yang temanya kopi. Tapi waktu itu belum sempat mengeksekusi.

Tiba-tiba datang ajakan kerjasama dari Storial buat bikin novel. Ya sudah, berjodoh. Akhirnya aku dapat momentum untuk mengeksekusi pengalamanku belajar kopi. Aku tulis semuanya jadi novel. Aku juduli novelnya  ESPRESSO.

Adakah tokoh-tokoh dalam kisah Espresso yang terinspirasi dari orang-orang di sekitar Bang Bara? Apakah ada, siapa saja?

Ada banget. Ha ha! Tapi untuk sekarang aku belum mau buka-bukaan tentang siapa wajah orang-orang dari dunia nyata yang menjadi inspirasiku menulis ESPRESSO. 

Aku pengin simpan untuk kejutan nanti.

Bagaimana riset yang dilakukan Bang Bara dalam membuat Espresso? Bisa ceritakan prosesnya? Apalagi banyak istilah kopi yang ditemukan dalam cerita ini?

Seperti yang aku bilang tadi, sebelum kepikiran untuk menulis novel tentang kopi, aku memang punya ketertarikan sama kopi. Karena ketertarikan itu, dan mungkin memang momennya yang pas aku sedang butuh hal baru untuk dipelajari, ketemu orang-orang yang juga tepat, jadinya aku belajar bikin kopi sampai cukup mendalam. 

Semenjak awal 2017 itu aku bertemu dengan banyak barista, menjadi bagian dari pergaulan mereka. Main-main ke kedai yang baru buka. Tanya-tanya tentang persoalan teknis menyeduh kopi.

Aku hampir setiap hari main ke kedai yang kemudian owner beserta barista-baristanya jadi berteman denganku. Kami jadi seperti keluarga. Di sana aku berlatih bikin kopi sambil belajar teorinya.

Aku ikut kursus kopi di Jakarta. Selama tiga hari berturut-turut. Di situ aku belajar tentang sejarah kopi, jenis-jenis alat seduh, serba-serbi mesin kopi, sampai ke persoalan susu yang baik untuk sajian kopi. Dari sana aku paham istilah-istilah teknis di dunia kopi.

Aku juga main ke kedai-kedai kopi buat belajar tentang ragam macam cita rasa espresso . Aku pengin memperkaya “kosakata kopi” di kepalaku. Aku baca buku-buku tentang kopi buat tahu gambaran dunia kopi  di luar negeri. Aku ikut menonton kompetisi barista. Main ke toko-toko sangrai (roastery) dan mengobrol bersama juru sangrai (roasters) juga yang membeli kopi beras (green bean) yaitu produser (coffee producers).

Tapi, yang aku juga pengin bilang di sini adalah, awalnya semua itu aku lakukan bukan dengan niat untuk nantinya aku menulis novel soal kopi. Aku murni belajar tentang kopi karena aku suka. Aku mendalami kopi karena kopi itu sendiri. Karena ketertarikanku sendiri.

Setelah aku belajar agak banyak tentang kopi, barulah kadang-kadang kepikiran apa nanti semua ini aku tulis aja ya.  Tapi justru yang request pertama kali itu followers di Twitter sama Instagram. Mungkin karena sepanjang 2017 sering lihat aku posting tentang kopi, mereka tanya kapan aku bikin novel tentang kopi?

Awalnya aku enggak begitu kepikiran untuk itu karena memang aku riset, belajar tentang kopi bukan buat dijadiin tulisan, tapi karena aku memang suka aja. Waktu datang ajakan dari Storial sebenarnya jadi momentum. Aku pikir, mungkin ini saatnya aku menulis cerita baru, tentang kopi. Jadi ketika aku mulai menulis ESPRESSO,  riset sudah selesai dilakukan. Aku sudah punya bahan.

Adakah kesulitan yang dialami Bang Bara selama menulis Espresso? Kalau ada, apa saja dan bagaimana caranya mengatasinya?

Kesulitannya cuma menyeimbangkan antara keinginanku mengambil referensi kedai-kedai kopi dari dunia nyata dan mengemasnya gimana sehingga pembaca tetap paham bahwa yang aku tulis itu fiksi. Bukan kenyataan.

Karena kedai-kedai yang aku bikin di ESPRESSO itu walaupun ada inspirasinya dari kedai yang betulan ada di dunia nyata, aku enggak bikin persis seperti yang di dunia nyata karena ada kebutuhan khusus di dunia fiksinya yang perlu aku ciptakan. Makanya nama-nama kedai kopi di ESPRESSO itu fiktif semua walaupun beberapa pembaca mungkin ada yang membayangkan kedai kopi mana yang aku jadikan bahan tulisan karena di medsos aku juga sering posting kedai kopi yang aku kunjungi.

Tantanganku itu tetap meyakinkan pembaca bahwa semuanya di ESPRESSO  itu gimanapun fiksi bukan kenyataan. Aku perlu meyakinan itu supaya enggak ada yang protes misalnya membaca di ESPRESSO kedai kopi yang dia kenal tapi aku menuliskan keadaannya berbeda dari kenyataan. Karena ESPRESSO itu fiksi, fiktif, aku bikin.

Cerita apa yang paling berkesan yang membuat Bang Bara senang menuliskannya?

Ada banyak bagian yang berkesan buatku di ESPRESSO. Bahkan dari opening  novel aku sendiri udah suka. Aku suka kalimat pembukanya yang menggambarkan aku banget. Suka pesan espresso, dan masih single (batuk).

Di novel Espresso ini, siapa tokoh yang paling Bang Bara sukai dan kenapa?

Tentunya protagonisnya, tokoh utamanya, heroine-nya Haliya Lubna atau Lulu. Dia mengalami perubahan diri dirinya sepanjang cerita berlangsung. Awalnya Lulu anak 17 tahun yang dimanja orangtuanya dan enggak pernah mikirin kepentingan orang lain selain kesenangannya sendiri. Dia defensif, sok tahu, seringnya over-pede sampai-sampai enggak pernah mau mengakui ketidakmampuan dia melakukan sesuatu. Tapi seiring pengalaman hidupnya, dia berubah.

Aku memang pengin bikin tokoh utamanya dinamis. Aku pengin memperlihatkan perubahan itu. Perubahan yang dimulai dari perkenalannya dengan kopi. Aku ingin bilang bahwa semua orang mencari tujuan hidupnya, juga mencari bentuk dirinya sendiri, mencari jati diri begitu istilahnya. Pencarian itu bisa terpicu oleh banyak hal, termasuk secangkir kopi.

Apa nama Roastery No. 72 terinspirasi dari No.27 Coffee?

Untuk yang ini silakan ambil kesimpulan sendiri aja. Ha ha!

Apakah Bang Bara suka menulis Espresso ini di kedai kopi? Biasanya menulis di kedai kopi mana?

Iya tepat sekali. Hampir seluruh bagian ESPRESSO aku kerjakan di kedai kopi. Kedai kopinya pindah-pindah karena di Jogja ada banyak banget kedai kopi yang baru buka sepanjang aku menulis novel. Jadinya sambil menulis sambil main-main ke kedai kopi baru.

Mungkin nanti kalau aku bikin semacam peta lokasi kedai-kedai kopi di Jogja yang aku pakai buat tempat menulis  ESPRESSO  kayaknya seru ya!

Apakah ada ritual khusus yang dilakukan sebelum menulis Espresso, misalnya membuat kopi sebelum menulis?

Ada. Harus  nyeruput  secangkir  espresso  dulu.

Mengapa orang-orang harus membaca Espresso?

Aku rasa pembaca lama yang sudah mengikuti perjalananku sebagai penulis sejak novel Kata Hati akan senang membaca novel terbaruku ini karena  ESPRESSO aku rasakan sendiri sebagai sesuatu yang fresh

Aku memang berniat bikin cerita yang ringan, fun, bertempo cepat, dengan tokoh-tokoh yang juga menyenangkan buat diikuti hidupnya. Aku menuangkan kecintaanku yang mendalam terhadap kopi di novel ESPRESSO. Aku menyukai karakter-karakternya. Aku percaya pembaca bakal merasa dekat dengan orang-orang di dalam cerita ESPRESSO.

Buat pembaca baru yang belum pernah membaca karya-karyaku, aku ingin mereka mulai mengenalku dengan novel ESPRESSO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *