[Rabu Review] Koentjoep Lajoe oleh Belladonna Tossici

Koentjoep Lajoe

Judul: Koentjoep Lajoe

Ditulis oleh: Belladonna Tossici

Jumlah bab: 8

Status: Masih Berlanjut

Kategori: Novel

“Bau berjenis-jenis kopi sudah biasa meyambutku jika masuk kemari.” -Sumarah

Genre historical fiction atau fiksi sejarah adalah genre yang mengambil plot dalam setting di masa lampau. Esensi mendasar pada genre ini biasanya terletak di deskripsi keadaan pada masa lampau, kondisi ekonomi sosial, bahkan mungkin saja status sosial yang berbeda untuk lelaki dan perempuan pada zaman tersebut.

Salah satu tantangan dari genre ini adalah kritik tentang kebenaran karena biasanya, penulis yang menulis cerita berjenis historical fiction mengambil ide atau terinspirasi dari kejadian-kejadian nyata pada dahulu kala. Penulis akan ditantang untuk mengeksplorasi fakta yang ada, tokoh-tokoh berpengaruh pada masa itu dan juga keakuratan peristiwanya—apa pun yang melatarbelakangi kisah yang ditulis.

Salah satu cerita dengan genre historical fiction yang cukup sukses adalah Memoirs of A Geisha oleh Arthur Golden, pun sudah diangkat ke layar lebar. Meski cukup memuaskan, toh novel dan film ini pun menuai kritik juga kontroversi. Singkatnya, genre historical fiction memang salah satu jenis yang sangat menantang karena selain harus dikemas menarik, juga wajib dibungkus dengan cermat dan cerdas.

Koentjoep Lajoe, adalah salah satu novel ringan namun sarat dan berani mengambil setting Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, dahulu. Cerita yang ditulis oleh Belladonna Tossici ini berkisah tentang seorang perempuan Jawa, ayu lagi penurut bernama Sumarah yang rupa-rupanya dicinta oleh Johann, Londo tak keparat yang cukup baik pada kaum pribumi. Kisah cinta mereka cukup manis namun berkonflik tak hanya karena perbedaan ras namun juga terhalang oleh kemenangan Nederland dan campur tangan Nippon di Tanah Air.

Novel dengan delapan bab ini asyik untuk dibaca—meski disarankan bagi pembaca berusia 18 tahun ke atas karena isu dan beberapa adegan yang hanya pantas bagi usia tersebut—dan tidak terasa berat dengan bumbu-bumbu sejarah negeri kala itu.

Ide cerita romansanya menarik, tentang gundik alias simpanan sebagai tokoh utama. Sementara mungkin banyak penulis akan memilih tokoh perempuan baik-baik, Belladonna merengkuh tokoh kontroversial sebagai lakon inti. Penokohannya pun cukup matang. Sumarah dengan unggah-ungguh wanita Jawa, Johann dengan keberanian dan kebaikan sebagai orang asing.

Gaya penulisannya pun nikmat untuk diikuti. Minim typo, meski ada beberapa penempatan kata sambung yang kurang nyaman, namun tertutupi dengan alur cerita yang dikemas apik. Latar Indonesia pada sekitar tahun 1942 pun membuat kisah ini semakin menawan karena pembaca jadi membayangkan Tanah Jawa pada zaman wanita-wanita berkain jarik dan berkebaya, lalu lalang di antara para Londo. Latar digambarkan dengan cukup detail dan informatif.

Penggunaan bahasa Jawa, bahasa Belanda dan Jepang cukup baik dan terarah. Pembaca mendapat wawasan menarik sembari membaca cerita dan tentunya, diharapkan bagian-bagian ini masih terus ada hingga akhir kisah. Penulis pun menyuguhkan sudut pandang penilaian terhadap bangsa Belanda yang kala itu dipandang sebagai bangsa penjajah lewat mata Sumarah, bagaimana sebenarnya manusia tidak bisa disamaratakan dan betapa keinginan menyelamatkan terkadang harus dilakukan lewat cara yang buruk.

Koentjoep Lajoe, novel dengan bab-bab padat berisi, gemulai namun tidak berlebihan. Sebuah cerita yang cocok bagi para pembaca yang menginginkan kisah penuh gairah dan gelora. Silakan baca 8 bab yang sudah terbit di https://www.storial.co/book/koentjoep-lajoe

image

Rabu, 31 Januari 2018

Pengulas: Nofrianti Eka Pratiwi (nekapratiwi27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *